
"Coba kamu tenangkan dirimu dulu, setelah itu ambillah keputusan yang tepat."
Rindu benar-benar merasa kasihan kepada Hendrik, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Pak Rahmadi adalah orang yang berjasa dalam hidup Hendrik, tak pantas jika Rindu menyuruh Hendrik untuk menjadi pria tidak tahu diri.
"Aku mencintai Farah, Aku mencintai gadis itu. lalu apa yang akan aku lakukan, semuanya ini benar-benar membuat perasaanku hancur tanpa tersisa." ucap Hendrik.
"Kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan, namun aku hanya bisa mengatakan satu kata saja kepadamu. pria itu sudah berjasa dalam hidupmu, tidak mungkin kan tiba-tiba kamu mengangkat tangan atas semua yang terjadi?" tanya Rindu.
"Aku bukanlah tipe seorang pria brengsek seperti itu, aku akan melakukan apapun untuk membalas jasa Paman Rahmadi kepadaku." jawab Hendrik.
"Cobalah kamu tenangkan dirimu, setelah itu cobalah untuk berbicara dengan Tuan Rahmadi. jika memang semuanya masih dalam kehendak kita.. mungkin semuanya akan terjadi, tapi jika takdir sudah menuliskan semuanya kita tidak akan bisa melangkahi takdir itu." jawab Rindu.
Hendrik hanya bisa menundukkan kepalanya. jiwa dan pikirannya terasa sudah tidak bisa terarah.
*DUA HARI KEMUDIAN*
setelah pembicaraannya dengan Rindu Beberapa hari kemudian Hendrik tidak menampakkan dirinya di tempat Rindu ataupun bertemu dengan kakek Wicaksono.
*RUMAH AGENSI RINDU*
"Oh ya Mbak Rindu, beberapa hari ini kenapa aku tidak melihat Mas Hendrik ya?" tanya Farah.
Dua hari ini Farah tidak bisa menghubungi Hendrik sama sekali, ditelepon pun pria itu tidak menjawab panggilan dari Farah.
"Memangnya ada apa?" tanya Rindu.
"Biasanya kan dia selalu menelponku, sudah 2-3 hari ini aku tidak mendengar kabar Mas Hendrik sama sekali. Aku menelpon dia tidak diangkat Aku kirim pesan tidak dibalas." jawab Farah.
Rindu menatap Farah, kemudian dia memberanikan diri untuk menanyakan sesuatu kepada gadis muda itu.
"Farah, Bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?" tanya Rindu.
"Memangnya ada apa Mbak." jawab Farah.
"Farah, seandainya tiba-tiba Hendrik datang kemari dengan membawa undangan pernikahan dia dengan seorang wanita, bagaimana?" tanya Rindu.
"Un-undangan pernikahan? undangan pernikahan Mas Hendrik dengan seseorang?" tanya Farah.
"Iya, Bagaimana jika tiba-tiba Hendrik menikahi wanita lain?" tanya Rindu.
DEG..
Entah mengapa pertanyaan yang diajukan Rindu membuat hati Farah tersentak begitu luar biasa.
"Kenapa.. kenapa mbak Rindu tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanya Farah.
"Tidak seperti itu.. Aku kan cuma bertanya bagaimana jika tiba-tiba Hendrik menikahi wanita lain?" tanya Rindu.
Pertanyaan yang diajukan Rindu kembali membuat jantung Farah tersentak, Entah mengapa ada perasaan kecewa dan sakit di sana.
"Kenapa kamu tidak menjawab, Farah?" tanya Rindu.
"Ada apa sih, Mbak? kenapa pertanyaannya tiba-tiba seperti itu?" tanya Farah.
__ADS_1
"Aku kan cuma bertanya, Aku meminta pendapatmu bagaimana jika tiba-tiba Hendrik menikah dan memberikan kita undangan?" tanya Rindu.
Raut wajah Farah sekitar seketika menjadi pias. Entah kenapa dan apa yang terjadi, kaki para nampak gemetar.
"Aku.. aku mau pergi sebentar ya mbak." tiba-tiba Farah meninggalkan Rindu. ada rasa sakit yang begitu luar biasa di dada Farah ketika Rindu menanyakan hal itu.
"Kenapa Mbak rindu menanyakan hal itu? apa ada sesuatu apa ada yang tidak aku tahu? Mas Hendrik akan menikah? apakah benar Mas Hendri akan menikah?" ucap Farah.
Langkah kaki Farah benar-benar lemah, kedua kakinya terasa begitu berat untuk dilangkahkan. ada kesakitan yang begitu luar biasa, rasa yang begitu menyakitkan ketika pertanyaan Rindu terngiang di telinganya.
"Tidak mungkin kan? tidak mungkin Mas Hendrik tiba-tiba menikah? tidak mungkin pria itu tiba-tiba tidak menghiraukan aku." ucap Farah sembari memegang jantungnya.
Terasa begitu sakit, begitu menyayat seolah hati Farah tiba-tiba hancur. "Kenapa.. kenapa aku menangis?" Farah memegang wajahnya. tanpa terasa air mata itu langsung mengalir, kata-kata yang diucapkan oleh Rindu terus terngiang di telinga Farah.
"Kenapa terasa sakit seperti ini? kenapa begitu sakit? kenapa aku harus merasa sesakit ini ketika aku mendengar pertanyaan Mbak Rindu." ucap Farah di toilet rumah agensi model Rindu.
Farah terus menatap cermin di toilet itu, Farah membasuh mukanya berulang kali. masih tetap saja air matanya terus mengalir, dadanya terasa sakit. Apakah Farah sudah jatuh cinta kepada Hendrik? Apakah gadis itu sudah terpesona oleh pria itu? semenjak Kapan? mulai dari mana? entah apa yang ada di pikiran Farah.
"Kamu baik-baik saja, Farah?"
Salah satu model keluar dari toilet.
Farah terkejut, dia menoleh menatap salah satu temannya. "Iya." jawab Farah.
"Kenapa matamu merah? Apakah ada sesuatu?" tanya seorang model.
"tidak apa-apa, Tadi hanya kemasukan debu atau kemasukan hewan kecil. makanya aku membasuhnya dengan air jawab Farah.
"Oh ya, aku pergi sebentar ya. kalau nanti kamu ketemu Mbak Rindu bilang aku keluar sebentar." ucap Farah.
"Memangnya kamu mau ke mana?" tanya si model.
"Aku mau keluar, sebentar. Aku ingin mencari sedikit udara." jawab Farah.
"Kamu ini bagaimana sih? di sini kan banyak udara Kenapa harus dicari di luar sih?" tanya model wanita yang kemudian menatap
Farah pergi.
Dari tempat itu kegalauan hati Farah benar-benar begitu luar biasa, dia melangkah keluar dari rumah agensi model Rindu entah ke mana dan dia akan kemana. hatinya benar-benar terasa sakit, ponsel yang berdering berulang kali pun tidak terdengar di telinga gadis itu. terasa telinga ataupun otaknya tidak terkoneksi menjadi satu.
Di tempat lain Arthur terus menelpon Farah, sekitar 4 panggilan tidak dijawab oleh Farah.
"Ada apa, Arthur?" tanya Mia.
"Tumben sekali Farah tidak mengangkat telepon dariku." jawab Arthur.
"Mungkin dia sedang bekerja." jawab Mia.
"Biasanya kan ponselnya dititipkan sama Rindu, tapi kenapa tidak ada yang mengangkat ponselnya?" tanya Arthur yang bingung.
"Kalau tidak kamu telepon Rindu, kamu tanyakan di mana Farah." Mia yang kemudian meletakkan beberapa bekas di meja Arthur.
TUT..
__ADS_1
Arthur menelpon Rindu.
"Ya, tuan Arthur." Rindu menjawab panggilan telepon dari Arthur.
"Farah ada di mana, nyonya Rindu?" tanya Arthur.
"Farah? Farah tidak bersamaku, mungkin dia sedang berada di ruang pemotretan. Memangnya ada apa, tuan Arthur?" tanya Rindu.
"Aku sudah menelponnya berulang kali, tapi tumben sekali Dia tidak menjawabnya." jawab Arthur.
"Iya, tadi aku sedikit berbicara dengannya. setelah itu dia keluar." ucap Rindu.
Tiba-tiba saja Rindu mengingat raut wajah Farah ketika dia membicarakan mengenai Hendrik.
"Oh ya Tuan Arthur, Aku tutup dulu teleponnya. aku akan mencari Farah, kamu coba telepon Farah lagi. Oke!"
Rindu yang kemudian mematikan ponselnya. wanita itu langsung bergegas mencari keberadaan Farah, dia takut terjadi sesuatu kepada gadis itu.
"Apa mungkin Farah sangat syok dengan kata-kataku tadi?" Rindu yang mulai kebingungan.
"Mbak Rindu." Panggil salah satu model.
"Iya." jawab Rindu.
"Tadi aku ketemu Farah, dia bilang kalau ketemu Mbak Rindu suruh bilang dia keluar sebentar." jawab model.
"Dia ke mana?" tanya Rindu.
"Aku tidak tahu, dia keluar dari toilet setelah itu tak tahu ke mana." jawab si model.
** Bersambung **
Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Gairah cinta isteri muda
- Gairah terlarang
- Isteri bayaran tuan Presdir
- aku mencintai isteri yang ku benci
- My sugar Daddy 2 (Nyonya mafia)
- The royal palace
- Crazy love 18+
- Mahar cinta
__ADS_1