MAHAR CINTA

MAHAR CINTA
PENYESALAN KEISHA


__ADS_3

Kabar mengenai perusahaan Arthur yang sekarang dibeli oleh pengusaha asing itu.. Hal itu membuat Hendrik benar-benar begitu bahagia.


"Hahaha... sekarang perusahaan pria itu sudah hancur, dia sudah dilengserkan dari jabatannya. Mungkin dia masih mempunyai beberapa perusahaan kecil, namun akan kupastikan seluruh perusahaannya itu akan hancur total." ucap Hendrik.


"Kamu tidak mau makan, Mas?" Kesya yang datang ke kantor Hendrik.


"Aku Tidak selera makan, kalau kamu mau makan makan saja sendiri." jawab Hendrik yang acuh kemudian meninggalkan Keisha.


"Mas...," Panggil Keisha.


"Ada apa." jawab Hendrik dengan nada suara yang begitu kasar.


"Mas, nanti anterin aku belanja ya." ucap Keisha.


"Masih banyak sopir di rumah, suruh mereka Untuk mengantarmu." Hendrik yang kemudian keluar dari kantornya dan meninggalkan sang istri.


Sudah 1 tahun lebih pernikahan antara Hendrik dan Keisha, 1 tahun pula Keisha tidak pernah mendapatkan sambutan hangat dari sang suami.


"Apa salahku, Mas. kenapa Kamu tetap seperti ini. Farah sudah bahagia bersama suaminya namun kenapa kamu masih tetap saja melakukan hal ini. Apa kurangnya diriku? Mengapa kamu terus menyiksaku." ucap Keisha yang kemudian duduk di sofa yang ada di kantor sang suami.


Keisha tidak tahu apa yang harus dia lakukan, selalu saja Hendrik menolaknya. tak pernah sekalipun pria itu memberikan dia senyum tulus kepada dirinya.


"Nyonya Keisha, apa Nyonya Keisha mau saya ambilkan minuman?" tanya sekretaris Hendrik.


"Tidak usah, aku mau kembali ke rumah saja." jawab Keisha.


Langkah kaki yang begitu berat, hati yang terus terluka dan senyum yang tidak pernah terlihat. Keisha hanya merasakan penolakan berulang kali, tidak ada sapaan hangat kecupan romantis ataupun pelukan tanda sayang.


BRETTTT..


BRETTTT...


ponsel Keisha terus berdering, wanita itu menatap ponselnya. di sana tertera nama Pak Rahmadi ayah dari Keisha.


"Iya, ada apa Ayah?" Kesya menjawab panggilan telepon dari ayahnya.


"Kamu ke mana saja?" tanya Pak Rahmadi.


"Aku ada di kantor Mas Hendrik, Ayah." jawab Keisha.


"Cepat kamu pulang dari tadi ibumu terus mencarimu."


"Ya, Ayah. aku akan segera pulang, memangnya ada apa?" tanya Keisha.


Salah satu tangan Kesya nampak mengusap air mata yang tiba-tiba menetes dari kedua bola matanya,

__ADS_1


"Ibumu bilang dia masak-masakan kesukaanmu, kalau kamu sudah ketemu suamimu bilang mama ibumu ingin bertemu." ucap Pak Rahmadi.


"Iya, Ayah. aku akan bilang Mas Hendrik kalau ayah sama ibu ingin bertemu." jawab Keisha yang kemudian mematikan ponselnya.


Sakit, itulah yang sekarang dirasakan oleh Keisha. berharap mendapatkan kebahagiaan dari suaminya apalagi ketika Farah sudah menikah, Keisha berpikir Hendrik akan melupakan wanita itu dan menerima dia seutuhnya. namun apalah daya setelah Farah menikah pria itu malah semakin depresi, dia berambisi untuk menghancurkan Arthur dan merebut Farah.


"Mungkin inilah karma yang harus aku dapatkan, aku memaksakan cinta yang tidak seharusnya aku miliki. aku memaksakan cinta yang tidak pernah ada untukku, hasilnya aku menderita sendiri. sedangkan wanita yang ingin ku pisahkan dari Hendrik sekarang malah bahagia bersama suaminya." ucap Keisha yang kemudian pergi dari kantor Hendrik.


sekarang Hendrik sudah tidak lagi menjadi pengacara, dia menjadi pengusaha menggantikan Pak Rahmadi.


Di tempat Arthur, terlihat pria itu sedang berbicara dengan Mia.


"Ya sudah kalau begitu, Arthur. aku pergi dahulu ingat jangan sampai istrimu tahu, kasihan kalau dia sampai terkejut." ucap Mia.


"Kamu tenang saja, aku pasti akan menjaga dia dengan baik." jawab Arthur.


Ketika Mia hendak keluar terlihat Farah sudah keluar terlebih dahulu dan berpura-pura ingin masuk.


"Kak Mia mau ke mana?" tanya Farah


"Aku mau pergi dulu." jawab Mia.


Aku sudah membawa makanan loh Kak, masak pulang begitu saja." Farah yang kemudian mengajak Mia kembali masuk.


"Oh ya Mas, kapan-kapan ajak aku ke puncak dong. aku ingin berlibur di sana." ucap Farah.


"Iya Mas, lagi pulang Mas kan punya rumah yang ada di puncak juga perkebunan teh yang ada di sana kan?" tanya Farah.


"Iya, Arthur. untuk saat ini lebih baik kamu sama Mia pindah saja ke puncak. kalian istirahatkan saja pikiran kalian, nanti masalah perusahaan biar aku dan suamiku saja yang memegang." terlihat Mia sangat bahagia ketika melihat Farah begitu mencintai saudaranya itu.


"Ya sudah kalau begitu, aku akan menelpon orang-orang yang ada di puncak dahulu, aku akan meminta mereka untuk mempersiapkan rumah itu." Arthur yang kemudian keluar dari ruangan itu.


Setelah sang suami keluar, Farah langsung mendekati Mia.


"Kak..," panggil Farah.


"Ada apa, Farah." jawab Mia.


"Aku sudah mendengar semuanya, Kak. Aku sudah mengetahui semuanya." jawab Farah.


"Maksudmu?" tanya Mia yang terkejut sekaligus bingung.


"Aku sudah mendengar mengenai apa yang kalian bicarakan tadi." jawab Farah.


"Jadi kamu sudah mendengar semuanya?" tanya Mia.

__ADS_1


"Iya, aku tidak ingin suamiku mendapatkan masalah yang lebih berat. aku ingin hidup sederhana di tempat itu dan mengembalikan kondisi tubuhku dahulu." jawab Farah.


Mia nampak terdiam sesaat kemudian Dia memegang tangan Farah. "Aku yakin kamu mencintai saudaraku dan dia juga mencintaimu. aku pasti akan melakukan apapun untuk membantu kalian, untuk saat ini memang lebih baik kalian pergi dari Jakarta, kalian harus menetap di tempat kecil untuk menjauhi orang-orang jahat itu."


"Terima kasih ya kak, terima kasih karena Kak Mia selalu membantu kami." Farah yang kemudian memeluk Mia.


Tak berselang lama Arthur masuk hingga membuat dua wanita itu harus berpura-pura.


"Satu minggu lagi kita akan berangkat, sayang. kita berangkat ke sana dengan kondisi seadanya, tidak apa-apa kan?" tanya Arthur.


"Dari dulu aku hidup sederhana, Mas. Kenapa aku sekarang takut hidup susah." jawab Farah.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan dan apa yang harus kita katakan kepada kakek Wicaksono?" tanya Arthur.


"Nanti aku akan bilang sama kakek pasti kakek akan memahaminya." jawab Farah.


"Ya sudah kalau begitu, aku akan pulang dahulu." ucap Mia.


"Hati-hati ya Kak." Farah yang kemudian mengantar Mia.


"Oh ya Mas, kalau kita ke puncak lalu Bagaimana rumah ini?" tanya Farah.


"Untuk sementara rumah ini akan diurus oleh Mia, kita akan pindah ke Bogor di rumah sederhana yang aku miliki di sana." jawab Arthur.


"Tidak apa-apa, Mas. yang penting kita bersama." jawab Farah.


** Bersambung **


Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatan mu


- Gairah cinta isteri muda


- Gairah terlarang


- Isteri bayaran tuan Presdir


- aku mencintai isteri yang ku benci


- My sugar Daddy 2 (Nyonya mafia)


- The royal palace

__ADS_1


- Crazy love 18+


- Mahar cinta


__ADS_2