MAHAR CINTA

MAHAR CINTA
PERASAAN KEISHA


__ADS_3

"Jadi saya mohon kepada tuan untuk tidak ikut campur mengenai hal ini, Mbak Rindu ataupun Mas Hendrik adalah orang yang selalu membantu saya. Saya akan membuat pria itu merasakan kesakitan yang pernah dia berikan kepada saya. Saya akan membuat dia menderita berulang kali sama seperti yang dia lakukan kepada saya."


Farah tidak ingin bersedih dengan semua kenangan masa lalunya.


"Kamu tenang saja, aku pasti akan mendukungmu kamu tidak boleh menyerah. beri pria itu pembalasan yang lebih menyakitkan dari yang dia lakukan padamu dahulu. buat dia menjadi pria yang tidak berguna sama sekali." Arthur memberikan semangat kepada Farah untuk semua yang sudah pernah dirasakan oleh gadis itu.


"Apakah besok anda jadi mengajak Farah pergi ke Singapura?" tanya Rindu.


Arthur tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.


"Iya aku akan mengajak Farah ke Singapura untuk 2 hari, aku sudah bilang pada kamu sama Farah kan?" tanya Arthur.


"Tapi saya mohon maaf sebelumnya, Tuan. karena saya harus mengatakan hal ini. Farah tidak akan bisa pergi sendiri karena dia harus didampingi oleh pengacara keluarga saya, Hendrik akan ikut perjalanan ini karena dia akan bertugas untuk menggantikan saya ketika saya tidak bisa ikut."


Rindu harus berbicara dengan sebaik mungkin karena wanita itu tidak ingin Arthur tersinggung.


"Hendrik? Apakah Hendrik si pengacara kepercayaan keluargamu itu?" tanya Arthur.


"Benar sekali, tuan. Dia adalah orang kepercayaan keluarga kami, teman Farah pendukung Farah Bahkan dia adalah orang yang sangat mengenal Farah." jawab Rindu.


"Baiklah kalau begitu, saya tidak bisa mengatakan apapun lagi saya akan mempersiapkan satu kursi lagi karena penerbangan besok menggunakan pesawat pribadi perusahaanku." ucap Arthur.


Rindu hanya bisa tersenyum ketika mendapat jawaban dari Arthur, bagaimana lagi tidak mungkin Hendrik melepaskan Farah begitu. saja pria itu sekarang sudah berubah menjadi pria posesif.


*KANTOR HENDRIK*


"Selamat pagi."


Keisha masuk ke kantor Hendrik.


"Ada apa?" tanya Hendrik.


"Kok begitu?" tanya Keisha.


"Ada apa kamu kemari? apakah ada sesuatu?" tanya Hendrik.


Keisha duduk sembari menatap wajah Hendrik.


"Ada apa? apakah ada sesuatu?" tanya Hendrik kembali.


"Haruskah ada sesuatu agar aku kemari? aku ke sini karena aku merindukanmu." jawab Keisha.


Tak ada ekspresi apapun yang ditunjukkan oleh Hendrik.


"Kalau tidak ada sesuatu lebih baik kamu kembali dahulu, karena aku harus pergi untuk mempersiapkan pakaian. Besok aku akan ke Singapura untuk melakukan pekerjaan." jawab Hendrik.


"Memangnya kamu melakukan pekerjaan apa di sana?" tanya Keisha.


"Aku tidak harus mengatakannya padamu, kan?" tanya Hendrik.


"Apakah kamu sendirian?"

__ADS_1


pertanyaan yang diajukan oleh Keisha membuat Hendrik langsung menatap Keisha.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? apakah aku harus melaporkan semua yang aku lakukan padamu?"


jawaban yang di katakan oleh Hendrik membuat Keisha terdiam.


"Dengan siapa kamu akan pergi, apakah kamu bersama wanita lain?" guman Keisha dalam hati.


"Apakah ada sesuatu lagi?" tanya Hendrik.


"Tentu saja tidak ada, Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Farah Keisha kembali.


"Ada apa? Bersama siapa kamu akan ke Singapura? Apakah bersama dengan salah satu pengacara yang ada di tempat ini? kenapa aku harus menjawabnya, aku sudah bilang kan Apakah aku harus melaporkan semuanya padamu?"


Dari tatapan mata yang ditunjukkan oleh Hendrik, pria itu benar-benar tidak menyukai pertanyaan Keisha.


"Heh.., mengapa kamu benar-benar berubah, Hendrik."


Keisha terus menatap Hendrik, tatapan mata yang penuh dengan kekecewaan.


BRETTTT..


ponsel Hendrik berdering.


TUT.


Hendrik menjawab panggilan telepon dari seseorang.


Seketika Hendrik tersenyum saat dia menjawab panggilan telepon dari Farah.


Tatapan mata Keisha menatap Hendrik yang tersenyum begitu bahagia, setelah mendapatkan panggilan telepon dari Farah dapat terlihat senyum itu begitu berharga. Senyum itu bisa mengartikan kalau seseorang yang menelponnya itu begitu berarti untuknya.


"Baiklah kalau begitu nanti aku akan segera ke sana."


Hendrik yang kemudian menutup ponselnya, senyum itu masih terlihat di bibir Hendrik senyum yang begitu terlihat jelas di mata Keisha.


"Ada apa?" tanya Keisha.


"Aku harus segera pergi, Kalau kamu tidak ada urusan apapun segeralah kamu kembali." jawab ketus Hendrik.


Kesya benar-benar tidak tahu apa yang harus dia katakan lagi, kata-kata yang diucapkan oleh Hendrik seperti lemparan batu yang tepat mengenai kepalanya.


"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu nanti aku bisa kan berbicara denganmu?" tanya Keisha.


"Sepertinya aku tidak bisa berbicara denganmu atau bertemu denganmu, nanti aku harus segera bersiap-siap." jawab Hendrik.


"Apakah kamu pergi bersama dengan Farah?"


Tiba-tiba Kesya menanyakan hal itu, pertanyaan yang diajukan oleh Kesya membuat Hendrik langsung terdiam.


"Bersama siapapun itu adalah urusanku, tidak usah kamu mengajukan pertanyaan itu. aku ataupun kamu tidak ada hubungan sama sekali jadi bisa kan kamu tidak menanyakan hal itu?" tanya Hendrik.

__ADS_1


"Kita sudah bersama selama hampir 3 tahun lebih. Apakah selama 3 tahun itu Aku tidak ada artinya untukmu?" tanya Keisha berulang kali.


"Aku sudah bilang padamu aku tidak bisa mengakuimu sebagai seorang kekasih atau wanita yang aku cintai. aku harus fokus kepada karirku, aku tidak ingin perasaan yang aku miliki menghancurkan semua yang sudah aku usahakan." jawab Hendrik.


"Lalu, Bagaimana perasaanmu dengan gadis itu? gadis yang kamu tolong beberapa tahun yang lalu?" tanya Keisha.


Hendrik tidak ingin terus-menerus mengakui Farah sebagai adik kecilnya, perasaannya sekarang sudah berubah. perasaan itu berkembang tanpa dia sadari.


"Aku Bersama siapapun itu adalah urusanku, itu adalah perasaanku. andai kata Aku memiliki perasaan kepada Farah itu adalah hakku. Aku tidak akan mengungkiri atau berusaha untuk menipu perasaanku, cinta itu tidak terbatas tidak ada kata yang pantas untuk menghalangi." jawab Hendrik.


Mengenal Hendrik selama 4 tahun tidak membuat Keisha menjadi wanita pelabuhan pria itu. jawaban yang diucapkan oleh Hendrik seperti besi yang menghantam kepalanya.


"Apakah kamu mencintai gadis itu?" tanya Keisha.


"Memangnya salah jika aku mencintainya? Memangnya salah jika aku menginginkan Gadis itu?" tanya Hendrik kembali.


DEG..


sejuta pertanyaan itu membuat Keisha tidak tahu apa yang harus dia katakan. jawaban yang diucapkan oleh Hendrik seperti bom yang sudah meledak di hati Keisha.


Keisha hanya bisa tersenyum, hatinya benar-benar sakit ketika mendengar jawaban yang dikatakan oleh Hendrik.


"Baiklah kalau begitu aku akan kembali dahulu, jika ada waktu tolong kamu hubungi aku."


Kesya yang kemudian pergi dari kantor Hendrik, perasaannya benar-benar begitu hancur. terasa cinta yang dia miliki selama beberapa tahun ini langsung terhempas begitu saja, dulu Hendrik selalu bilang kalau Farah adalah adik kecilnya. namun sekarang semuanya sudah berbeda, jawaban yang dikatakan Hendrik bagaikan pisau yang langsung menyayat hatinya.


"Memang cinta tidak bisa dipaksa, tidak bisa dibendung bahkan tidak bisa aku minta dengan sesuka hatiku." guman Keisha dalam hati.


** Bersambung **


Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatan mu


- Gairah cinta isteri muda


- Gairah terlarang


- Isteri bayaran tuan Presdir


- aku mencintai isteri yang ku benci


- My sugar Daddy 2 (Nyonya mafia)


- The royal palace


- Crazy love 18+


- Mahar cinta

__ADS_1


__ADS_2