
Setelah memanggil Rudi, Farah kembali ke ruang tengah bersama Rindu. Rindu memanggil Farah, wanita itu sengaja mengajak Farah untuk berbicara dengannya. Rindu bisa melihat kalau gadis muda itu begitu lugu bahkan dia benar-benar sangat murni.
"Sini!" seru Rindu yang memanggil Farah. dengan segera Farah mendatangi Rindu dan duduk di lantai.
Tatapan mata Rindu menatap Farah yang duduk di lantai, wanita itu tidak terlalu suka ada orang lain yang bersikap seperti itu padanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Rindu kepada Farah.
"Saya duduk, Nona." jawab Farah yang kemudian menatap seorang wanita cantik yang sedang berbicara dengannya.
Baru pertama kali ini ada seorang wanita cantik yang mau berbicara normal padanya, bahkan tidak memandang dan mengejek wajah Farah.
"Apakah kau sudah lama bekerja di sini?" tanya Rindu kepada Farah.
Tentu saja Farah menganggukkan kepalanya. terlihat rindu begitu bahagia ada seseorang yang memandangnya sebagai seorang manusia. Farah nampak begitu bahagia namun tentu saja gadis itu hanya menundukkan kepalanya, gadis itu tidak mau wajahnya dilihat oleh wanita cantik yang ada di depannya.
"Sudah berapa bulan kamu bekerja di sini?" tanya Rindu.
"Dua bulan, Nona." jawab Farah.
Gadis itu benar-benar merasakan perasaan yang begitu canggung, bahkan di saat berbicara pun Farah terus menundukkan kepalanya karena dia takut wanita cantik yang ada di depannya tidak akan menyukai saat melihat wajahnya.
"Aku itu sedang berbicara denganmu, Mengapa kau menundukkan kepalamu. sebaiknya kau mengangkat wajahmu saat berbicara dengan orang lain." pinta Rindu kepada Farah.
"Jangan, Nona." ucap Farah.
Sebenarnya kalau secara garis besar Rindu masih ada hubungan darah dengan Rudi, karena itu Rindu tidak mau berpacaran dengan Rudi. ayah Rindu adalah paman dari Rudi, dengan begitu berarti Rindu dan Rudi adalah sepupu.
"Sini, duduk sini." Rindu yang meminta Farah untuk duduk di sampingnya.
Tentu saja Farah menolak, jika sampai Rudi mengetahui hal itu mungkin Gadis itu akan dalam masalah. Rudi tidak memperbolehkan Rindu duduk di ruang tamu karena pria itu menganggap Farah hanya sebagai sampah.
"Kenapa kau takut seperti itu, cepat kesini duduk di sampingku." pinta Rindu.
Dengan langkah kaki yang sedikit berat akhirnya Farah duduk di samping Rindu, berbicara dengan wanita cantik yang di sampingnya.
Baru beberapa detik mereka berbicara, ternyata yang ditakutkan oleh Farah benar-benar terjadi. Rudi keluar dari kamarnya, tatapan matanya menatap Farah yang sudah duduk di sofa ruangannya. dengan segera pria itu mendatangi Rindu dan menjambak rambut Farah hingga Gadis itu tersungkur di lantai rumahnya.
"Apa yang kau lakukan, berani sekali kau duduk di sofa itu!!" seru Rudi.
Rindu begitu terkejut ketika melihat Rudi melakukan sesuatu yang begitu hina di matanya. "Apa yang kau lakukan Rudi!!" seru Rindu yang benar-benar tidak percaya kalau sepupunya itu mempunyai sifat yang tetap sama, selalu saja menghina orang lain dari fisiknya.
__ADS_1
"Wanita ini tidak pantas duduk di sofa itu, apalagi tubuh kotornya itu duduk di tempatku!!" seru Rudi. pria itu benar-benar melakukan kekerasan fisik terhadap Farah.
"Berani sekali kau melakukan hal itu, Rudi!!" seru Rindu yang sangat marah kepada sepupunya.
"Untuk apakah berbicara dengannya seperti itu, hewan seperti dia tidak pantas duduk di tempatku!!" seru Rudi yang terus menghina Farah.
"Dia ini manusia, bukan hewan!!" seru Rindu yang tidak terima saat gadis muda yang ada didepannya dihina dengan sebutan hewan.
"Lihatlah, Apakah kau tidak melihat fisiknya seperti monyet!!" seru Rudi.
PLAKK!!
Rindu langsung menampar Roy, Gadis itu tentu saja tidak suka sepupunya menghina orang lain dengan kata-kata yang begitu menusuk.
"Kamu ini manusia atau tidak, Rudi. berani sekali Kamu memanggil sesama manusia dengan sebutan hewan. Apakah bukan kamu yang pantas disebut hewan karena memanggil orang lain dengan panggilan hewan!!" bentak Rindu.
"Kamu ini buta ya, Lihatlah dia itu tidak pantas dipanggil manusia. dia lebih pantas disebut hewan!" seru Rudi.
"Mulutmu dari dulu sampai sekarang masih tetap busuk, mulutmu itu benar-benar mulut binatang!" Rindu seketika mendorong tubuh Rudi hingga pria itu melangkah mundur.
"Jangan, nona." pinta Farah.
Ingin sekali Farah berteriak kepada orang-orang yang selalu menghinanya, bukan keinginannya mempunyai fisik seperti itu.
"Aku memintamu kesini Karena ada urusan penting yang harus kita selesaikan!" seru Rudi.
"Memangnya ada apa?" tanya Rindu.
"Aku mau kau segera menandatangani surat perjanjian dengan perusahaan ku!" teriak Rudi dengan nada suara yang begitu nyaring.
"Kau sama saja dengan para pria yang ada di luar sana, tidak pernah bisa menghargai seorang wanita pun!!" seru Rindu yang kemudian membantu Farah untuk bangun. wanita itu menatap Farah dengan Tatapan yang begitu penuh kasih.
"Kau tidak usah menolong wanita jelek itu, bahkan di dalam rumah ini tidak ada yang boleh membantu itu wanita gembel itu!!" seru Rudi.
Rindu tidak menghiraukan perkataan sepupunya itu, gadis itu membantu Farah untuk berdiri. Rindu membawa Farah ke sebuah tempat, dengan telaten wanita itu membantu Farah dan menenangkannya.
"Apakah sakit?" tanya Rindu kepada Farah.
Farah menganggukkan kepalanya, Gadis itu terus mengeluarkan senyumnya untuk menutupi rasa sakit yang tadi dia rasakan.
"Kau tidak usah menahan rasa sakit karena kelakuan para manusia brengsek itu, kau harus menjadi wanita kuat." pinta Rindu.
__ADS_1
"Hiks..,hiks..,"
Farah menangis di pelukan Rindu, gadis muda itu benar-benar tidak mengerti dimana letak kesalahannya. seorang gadis cantik yang bernama Rindu datang sebagai penolong yang akan menolong Farah.
"Menangislah, karena setelah ini kau tidak boleh menangisi kehidupanmu. kau harus berdiri dan berjalan tegak agar orang lain tidak terus-menerus menghinamu." pinta Rindu yang membuat Farah bertambah menangis meraung-raung.
Gadis muda itu tidak pernah sekalipun mendapatkan pelukan seperti ini, bahkan saudaranya pun tidak mau menganggapnya sebagai manusia.
"Jangan menangis, kamu tidak boleh menangis." pinta Rindu.
"Terima kasih, nona. Terima kasih nona mau menolongku." ucap Farah.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu, sesama manusia kita harus saling menolong." jawab Rindu.
"Tidak pernah ada orang yang mau menganggapku manusia, tidak ada orang yang pernah menganggapku sebagai makhluk hidup yang pantas dilihat." ucap Farah yang terus meneteskan air matanya.
"Sudah, berhenti. kamu tidak boleh terus menangis." pinta Rindu.
"Maaf, maafkan saya." ucap Rindu.
"Kamu tidak boleh meminta maaf seperti itu, menangislah Untuk melegakan hatimu. jangan kau biarkan beban berat ini membuatmu semakin terluka." ucap Rindu sembari mengelus punggung Farah.
** Bersambung **
Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatanmu
- Gairah cinta isteri muda
- Gairah terlarang
- Isteri bayaran tuan Presdir
- aku mencintai isteri yang ku benci
- My sugar Daddy 2 (Nyonya mafia)
- The royal palace
__ADS_1
- Crazy love 18+
- Mahar cinta