MAHAR CINTA

MAHAR CINTA
TRAGEDI KEISHA


__ADS_3

"Lebih baik aku mengakhiri nyawaku, jika aku mengakhiri nyawaku maka perasaan yang aku miliki untuk Hendrik juga akan segera menghilang." ucap Keisha.


"Apa yang kamu lakukan Keisha!!" teriak ayah Keisha.


"Aku tidak mau hidup lagi, Ayah. aku tidak mau hidup lagi." jawab Keisha.


"Memangnya apa yang terjadi? kenapa kamu seperti ini?"


Terlihat Ayah Keisha menatap putrinya yang begitu kehilangan harapan.


"Hendrik tidak mencintaiku, ayah. dia tidak bisa mencintaiku." jawab Keisha.


"Kamu tidak boleh seperti ini!!" seru Ayah Keisha.


"Jika aku tidak bisa bersama Hendrik maka lebih baik aku pergi dari dunia ini." Keisha yang terlihat sudah tidak bisa berpikir jernih.


"Jangan lakukan itu, Keisha! Jangan lakukan, hidupmu masih panjang kamu tidak boleh berpikir sependek ini!!" seru Ibu Keisha.


"Aku tidak mau, mama. aku tidak mau, yang aku inginkan adalah bersama Hendrik. pria itu tidak mau bersamaku, Mama. dia mencintai wanita lain! daripada aku melihatnya bersama wanita lain lebih baik aku mengakhiri hidupku." jawab Keisha.


"Kamu tidak boleh seperti itu!!" seru Ayah Keisha.


"Aku sudah tidak bisa mengharapkan apapun, daripada aku seperti wanita tidak berguna lebih baik aku mengakhiri nyawaku." jawab Keisha yang terlihat berada di balkon kamarnya di lantai 2.


"Keisha, dengarkan ayah baik-baik. ayah akan berbicara dengan Hendrik, kamu tenang!!" pinta Ayah Keisha.


"Aku begitu mencintai pria itu, Ayah. aku begitu mencintai pria itu, tapi kenapa dia tidak bisa menerimaku. apa kekuranganku?!" seru Keisha.


"Dengarlah, sayang. kamu tidak boleh seperti ini, kamu harus berpikir jernih." minta ayah Keisha.


"Jika aku tidak bisa bersama Hendrik, Lebih baik aku mati!!" seru Keisha.


Seketika Ayah Kesya yang bernama Pak Rahmadi langsung menelpon Hendrik, pria itu harus ke rumahnya untuk menolong putrinya.


TUT..


Hendrik menjawab panggilan telepon dari pak Rahmadi.


"Iya, Paman." jawab Hendrik yang ada di kantornya.


"Cepatlah kemari, Hendrik!" perintah Pak Ramadi.


"Ada apa, Paman? kenapa Paman sangat ketakutan seperti ini?" tanya Hendrik.


"Cepat kemari, datang ke rumahku secepatnya!!" seru Pak Ramadi.


Mendengar ada sesuatu yang terjadi Hendrik langsung meninggalkan kantornya.


"Oh ya, nanti tolong kalau ada seseorang yang mencariku bilang aku keluar sebentar." pinta Hendrik kepada sekretarisnya.


"Baik, Pak Hendri." jawab sekretaris Hendrik.


Hendrik kemudian keluar dari kantornya, di kantor advokat miliknya Hendrik sangat terkenal begitu hebat saat bekerja. sekitar 30 atau 40 menit kemudian Hendrik sudah sampai di rumah Pak Rahmadi.


"Di mana, Paman?" tanya Hendrik kepada salah satu pelayan ketika dia sudah keluar dari mobil.


"Tuan Rahmadi ada di kamar nona Keisha, Tuan." jawab pelayan.


"Ya sudah kalau begitu aku ke sana dulu." Hendrik yang kemudian berjalan masuk ke rumah Pak Rahmadi. pria itu masih belum tahu apa yang terjadi di rumah pengacara yang menjadi guru Hendrik itu.

__ADS_1


"Paman..,"


Hendrik masuk ke kamar Keisha, di sana terlihat Pak Rahmadi dan istrinya sudah berada di kamar Keisha.


"Hendrik syukurlah kamu sudah datang." Pak Rahmadi melihat Hendrik sudah berada di kamar putrinya.


"Ada apa, Paman?" tanya Hendrik.


"Hendrik, Tolong kamu bicara sama Keisha. tolong bujuk dia." jawab Pak Rahmadi.


"Memangnya ada apa?" tanya Hendrik.


"Hendrik, tolong kamu bilang sama Keisha. bujuk dia, dia ingin bunuh diri." jawab istri Pak Ramadi.


Mendengar jawaban seperti itu Hendrik langsung melihat Kesya yang ada di balkon kamarnya.


"Apa yang kamu lakukan, Keisha?!" seru Hendrik.


"Mundur! mundur! kamu jangan kemari!!" teriak Keisha.


"Tolong, Hendrik. tolong bujuk dia, otaknya sudah tidak berfungsi lagi." pinta Pak Rahmadi.


"Ada apa, Paman?" tanya Hendrik yang kebingungan.


"Kamu jangan bertanya, cepat minta dan bujuk putri kami."


Pak Rahmadi benar-benar begitu kebingungan.


Hendrik melangkah maju ke balkon kamar Keisha.


"Ada apa, Keisha? Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Hendrik.


"Mundur! mundur!!" teriak Keisha.


"Aku aku seperti ini kenapa?" tanya Keisha kembali.


"Kenapa kamu ingin berbuat bodoh? Memangnya apa yang terjadi denganmu?" tanya Hendrik.


Kesya tersenyum menatap Hendrik.


"Aku seperti ini karena dirimu, Aku gila karena dirimu." jawab Keisha.


DEG..


"Apa maksudmu?" tanya Hendrik yang sedikit berbicara lembut.


"Aku begitu mencintaimu, Aku begitu mengharapkanmu. lalu karena apa kamu tidak bisa menerimaku? apa yang salah dari semua yang aku miliki? cinta perasaan dan semuanya aku berikan untukmu." ucap Keisha.


"Kamu ini bicara apa, Keisha. Aku kan sudah bilang padamu kalau aku tidak bisa mencintaimu. Aku sudah menganggapmu sebagai saudariku." jawab Hendrik.


"Aku tidak mau! aku tidak mau dianggap sebagai saudara." air mata langsung mengalir dari kedua bola mata Keisha. "Aku benar-benar begitu mencintaimu, Aku begitu mendambamu. Apakah perasaanku ini tidak bisa mengetuk hatimu? apakah yang aku lakukan selama ini tidak bisa membuatmu menginginkanku?" tanya Keisha.


"Kita bicara, kamu jangan seperti ini... turunlah." pinta Hendrik.


"Aku tidak mau, aku tidak mau hidup lagi! lebih baik aku mati, Kamu tidak bisa menerimaku kan kamu mencintai wanita lain. daripada aku melihatmu bersama wanita lain Lebih baik aku melompat dari tempat ini!!" seru Keisha.


"Kamu jangan bodoh, kamu adalah wanita cerdas, wanita pandai. Lalu kenapa kamu mempunyai pikiran seperti ini?" tanya Hendrik.


Keisha tersenyum menatap Hendrik.

__ADS_1


"Cinta itu memang buta, buta akan segalanya. seperti inilah yang aku rasakan, cintaku padamu memang buta, buta dengan segala konsekuensi yang aku hadapi. aku tidak bisa menerimamu bersama wanita lain, Aku tidak bisa melihatmu bersama wanita lain." jawab Keisha.


"Turunlah, kita bicara." minta Hendrik.


"Aku tidak mau." jawab Keisha.


"Akan kulakukan apapun untukmu, sekarang turunlah." Hendrik berbicara dengan begitu lembut.


"Kamu tahu aku tidak suka diberi kata-kata manis." ucap Keisha.


"Kamu jangan bodoh, turunlah kita berbicara dengan baik-baik." Hendrik yang kemudian mengulurkan tangannya kepada Keisha.


Tatapan mata yang begitu lembut itu membuat Keisha luluh, seketika dia mengulurkan tangannya kepada Hendrik.


Pak Rahmadi dan istrinya seketika memeluk putrinya. mereka begitu terpukul dengan kesedihan yang dialami oleh Keisha.


"Kunci pintu balkon itu, Bu." minta Pak Rahmadi.


Istri Pak Rahmat di langsung mengunci balkon itu kemudian menenangkan istrinya.


"Bisakah kita berbicara sebentar, Hendrik?" minta pak Rahmadi.


"Iya, paman." jawab Hendrik.


Di ruang kantor tempat Pak Rahmadi, pria itu harus menjelaskan apa yang terjadi.


"Ada apa, Paman?" tanya Hendrik.


"Hendrik, kamu menganggapku sebagai apa?" tanya Pak Rahmadi.


"Tentu saja sebagai guruku, penolongku dan orang yang sangat berjasa dalam hidupku." jawab Hendrik.


"Sudah berapa lama dan semenjak umur berapa aku merawatmu?" tanya Pak Rahmadi.


"Paman merawatku ketika aku berusia 9 tahun, menyekolahkanku, merawatku memberikan aku makan dan menyekolahkanku." jawab Hendrik.


"Lalu, apakah kamu mau membalas Budi baikku itu?" tanya Pak Rahmadi.


"Tentu saja, paman. aku akan membalas Budi baik yang sudah Paman lakukan selama ini." jawab Hendrik.


** Bersambung **


Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatan mu


- Gairah cinta isteri muda


- Gairah terlarang


- Isteri bayaran tuan Presdir


- aku mencintai isteri yang ku benci


- My sugar Daddy 2 (Nyonya mafia)


- The royal palace

__ADS_1


- Crazy love 18+


- Mahar cinta


__ADS_2