
Waktu terus berjalan, Arthur, Farah juga Farida dan Hanum berusaha untuk memberikan pendidikan di desa itu. perut Farah sudah mulai membesar, usia kandungannya sudah masuk 5 bulan. Arthur dan Farah benar-benar begitu bahagia, apalagi Hanum dan Farida selalu bersama dengan Farah.
Setiap kali Farah bersama Farida.. wanita itu selalu meminta Farida untuk membuka hatinya, melupakan Rudi pria yang tidak pantas untuk dia cintai.
"Jadi kamu sudah tahu kalau aku ini adalah Indah?" tanya Farida.
"Aku sudah mengetahuinya lama. Aku diam karena aku tidak ingin melukai hatimu." jawab Farah.
Farida atau Indah nampak tersenyum.
"Lalu, aku harus memanggilmu siapa? aku harus memanggilmu dengan panggilan Mbak Indah atau Farida?" tanya Farah.
"Panggil saja nama Farida, Aku ingin melupakan segalanya. Aku ingin menjalani hidup ini di sini." jawab Farida.
"Tentu saja kamu ingin menjalani kehidupan di sini, karena yang aku tahu kamu ada rasa sama anak Pak RT kan?" sindir Hanum.
Seketika Farida menoleh menatap Hanum.
"Jadi wanita kok mulutnya itu cerewet banget, memangnya mulutnya itu nggak berguna ya?" kesel Farida.
"Ye biarin aja.. mulut ini kan gunanya untuk berbicara, kenapa ya? Memangnya nggak boleh?" Hanum dan Farida mulai beradu mulut.
"Bersama siapapun jika kita merasa nyaman lebih baik kita jalani, daripada hanya kita yang mencintai tanpa dicintai akan terasa menyakitkan, bahkan akan terasa begitu melukai." Farah memegang tangan Farida.
"Aku minta maaf jika aku sudah melukaimu dan bayi yang ada di kandunganmu, aku minta maaf karena aku sempat membencimu." ucap Farida.
Farah menggelengkan kepalanya, tidak apa-apa. Setiap manusia mungkin memiliki perasaan yang begitu membenci, setiap manusia memiliki keinginan untuk menyakiti. namun Apakah kita ingin menyakiti atau berusaha untuk diam itu terserah kita, hanya tinggal kita yang memahami." ucap Farah.
"Aku senang aku mendapatkan seorang majikan, teman dan saudara sepertimu, Farah. Aku senang memiliki kehidupan yang seperti ini, dulu aku dijebak oleh Suamiku, aku mendekam di penjara selama beberapa tahun. begitu sakit, aku benar-benar begitu menderita. orang yang kucintai membuat aku tersakiti." Hanum mulai mengingat masa lalunya.
"Tidak tidak apa-apa, jika kita merasakan kesakitan tidak apa-apa, jika kita harus berjuang tapi seperti apapun kita berjuang kita hanyalah seorang manusia. mencoba untuk bertahan memang itu adalah keinginan kita, mulai sekarang Mari kita berjuang bersama." Farah yang memeluk Farida dan Hanum.
Arthur harus belajar menjadi petani cengkeh dan tembakau, pria itu sedikit demi sedikit memperbaiki kinerja para pekerja perkebunan. memang sempat ada beberapa kendala di perkebunan karena beberapa orang memang ingin menghancurkan perkebunan itu, namun dengan kerja keras Arthur sedikit demi sedikit perkebunan mulai membaik..
SATU BULAN KEMUDIAN
"Mas." panggil Farah.
"Iya, Sayang." jawab Arthur dengan jawaban yang begitu lembut.
"Mas, kamu tidak makan dulu?" tanya Farah.
__ADS_1
"Tolong kamu buatkan bekal buat Mas ya, Mas mau melihat beberapa barang yang ada di gudang cengkeh. salah satu pengusaha yang ada di Jakarta mau membelinya." jawab Arthur.
"Ya sudah kalau begitu, Oh ya Mas kalau kamu ada di sana hati-hati ya, karena yang aku dengar beberapa preman kampung sudah mulai mengganggu tempat itu kan?" tanya Farah.
"Kamu Jangan pikirkan itu, sayang. mas bisa jaga diri kok, lagi pula beberapa warga juga membantu Mas. mereka juga ingin perekonomian desa membaik, Mas juga akan berusaha mencari pinjaman ke kota untuk membuka beberapa pekerjaan di sini." ucap Arthur.
"Membuka lahan pekerjaan? Memangnya Mas mau membuka pabrik apa di sini?" tanya Farah.
Arthur tersenyum kemudian memberikan kecupan di kening sang istri.
"Nanti kalau Mas sudah pulang Mas akan memberitahu kamu, Mas akan berbicara dengan salah satu pengusaha dari Jakarta." jawab Farah yang kemudian mencium tangan sang suami.
"Farah." Panggil nenek Fatimah.
"Iya, Nek." jawab Farah.
"Kamu jangan terlalu banyak aktivitas, Farah. kasihan kandunganmu." nenek Farida yang kemudian memberikan beberapa makanan sehat untuk Farah.
"Tidak apa-apa Nek, bayi yang ada di kandunganku ini baik-baik saja. nenek tahu, setiap hari dia bergerak dengan begitu agresif. kadang aku merasakan entah itu kaki atau tangannya." jawab Farah.
Nenek Fatimah terlihat tersenyum kepada Farah kemudian menepuk tangannya.
"Nenek senang kamu tersenyum seperti ini, nenek sangat bersyukur karena kamu mau membantu warga yang ada di sini.. desa ini adalah desa miskin, sekarang berkat kamu sama suamimu desa ini sedikit hidup." ucap Nenek Fatimah.
Dari hari ke hari murid yang ada di sekolah Farah semakin banyak, mereka benar-benar begitu bahagia.. apalagi semuanya gratis.
BEBERAPA HARI KEMUDIAN
"Selamat pagi,"
Farah yang baru masuk ke sekolah yang ada di desa.
"Selamat pagi, bu guru!!" seru para murid-murid.
Hari ini datang sepasang suami istri ke sekolah Farah.
"Mbak Farah." panggil si Ibu.
"Iya." jawab Farah.
"Mbak Farah, saya mau memasukkan anak-anak saya ke sekolah ini." ucap si Ibu kembali.
__ADS_1
"Boleh, bu. masuk dulu." Farah yang mempersilahkan sepasang suami istri itu.
"Tapi kami tidak mempunyai uang sama sekali." ucap si Ibu.
Farah hanya tersenyum kemudian menatap dua anak yang ada di depannya.
"Sekolah ini gratis, tidak memungut biaya apapun. jika Ibu sama Bapak menyekolahkan anak-anak ini tidak apa-apa. Sebentar ya aku mau memanggil guru dari kelas taman kanak-kanak." ucap Farah.
Sesaat kemudian terlihat Farah menelepon Hanum untuk meminta wanita itu datang ke tempatnya.
"Dengar ya, jangan nakal bu guru mau ke tempat Bu guru Farah! jika kalian nakal bu guru nggak mau masuk kelas!!" seru Hanum yang membuat seisi kelas itu langsung terdiam.
Hanum memang begitu pandai mendidik anak-anak kecil, karena itu Farah mempercayakan taman kanak-kanak dipegang oleh Hanum. sedangkan sekolah Dasar dipegang oleh Farida yang setiap hari harus merasakan kesal, pusing kepala bahkan terlihat Farida harus sesering mungkin memijat kepalanya karena anak-anak itu benar-benar nakal.
"Diam, semuanya. kalau kalian tidak diam Kalau kalian tidak segera menyalin tulisan bu guru.. Nanti kalian tidak akan aku beri kue!!" seru Farida yang membuat sekitar 25 sampai 35 muridnya langsung bergegas menulis dengan sangat cepat.
"Bu guru, nanti kami dikasih kue itu kan?" tanya salah satu murid.
"Tentu." jawab Farida.
** Bersambung **
Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- Gairah cinta isteri muda
- Gairah terlarang
- Isteri bayaran tuan Presdir
- aku mencintai isteri yang ku benci
- My sugar Daddy 2 (Nyonya mafia)
- The royal palace
- Crazy love 18+
__ADS_1
- Mahar cinta