Malaikat Kecilku Gabriella

Malaikat Kecilku Gabriella
Ditantang Untuk Mencoba


__ADS_3

"Kenapa wajahmu muram begitu hah?" tanya Ron kepada Dimas ketika mereka sudah selesai makan siang.


"Tidak bos, aku baik-baik saja" jawab Dimas berusaha senormal mungkin.


"Jangan bohong padaku, aku tau betul watakmu!" Ron berusaha memancing.


"Sepertinya harapanku untuk dapat memiliki gadis yang aku cintai sudah pupus!" Dimas menghempaskan diri ke sofanya.


"Kenapa memangnya?" Ron menatap tajam Dimas.


"Dia akan segera menikah" kata Dimas dengan gamang.


"Apa dia menolakmu?" Ron berusaha untuk tidak tertawa.

__ADS_1


"Tidak, dia tidak menolakku, bahkan aku belum mengatakan apapun padanya" kata Dimas lesu.


"Kau ini bodoh atau apa sih? kau menyukainya, tapi tidak mengatakan apapun, bahkan kau menyerah dan membiarkannya menikah dengan orang lain yang belum tentu dia sukai? mungkin saja kan sebenarnya gadis itu menyukaimu, namun karena kau tidak pernah mengatakannya maka dia menganggapmu tidak menyukainya dan kemudian memilih menikah dengan orang lain? dasar pria dungu!" Ron benar-benar heran dengan sikap Dimas yang seolah pengecut.


"Dia terlalu sempurna bos, aku tidak percaya diri jika harus bersanding dengannya, dia memang lebih pantas mendapatkan pria yang lebih dari segalanya dibandingkan diriku!" Dimas tidak percaya diri.


"Memangnya kau pikir kau siapa hah? kau bisa tau dari mana kalau kau tidak pantas dengannya? jangan jadi orang bodoh, berjuanglah untuk meraih sesuatu yang memang pantas kau raih!" kali ini Ron sungguh-sungguh mendukung Dimas mengejar Gaby, karena baginya Dimas terlalu pengecut untuk menghadapi kenyataan bahwa Gaby adalah anak dari bos besarnya.


"Tapi nyaliku terlalu kecil bos, akan banyak hal yang harus dipertaruhkan untuk hubungan ini, tidak hanya tentang aku dan dia, tapi juga reputasi keluarganya!" Dimas menghembuskan nafasnya dengan berat.


"Tidak, tentu saja aku tidak rela, bahkan aku bisa gila bila melihatnya bersanding dengan yang lain!" Dimas sangat ngeri membayangkannya.


"Kalau begitu berjuanglah, apapun hasilnya nanti, kau harus mencobanya dulu, jangan pernah menyerah sebelum bertanding!" Ron menepuk bahu Dimas sesaat sebelum meninggalkan ruangan pria tampan itu.

__ADS_1


.........


"Bagaimana?" Ron masuk ke ruangan Mike sambil mengulum senyumnya.


"Kenapa dia begitu pengecut? bagaimana dia bisa menjaga putriku kalau untuk mendapatkannya saja dia tidak punya nyali?" Mike berdecak tidak percaya saat ia mendengarkan percakapan yang baru saja dilakukan oleh Ron dan Dimas di ruangan Dimas melalui sambungan telpon. Mereka berdua memang sengaja menyalakan ponsel masing-masing agar Mike bisa tersambung secara online dan mendengarkan segala isi hati Dimas tanpa sepengetahuan pria itu.


"Menurutku dia bukan pengecut, dia hanya realistis, mengingat kau adalah bos besar, sementara dia hanyalah anak buahmu yang jika dilihat dari sudut pandangan manapun akan terlihat berada jauh dibawah posisimu!" Ron berusaha melihat dari sudut pandang Dimas.


"Tapi setidaknya dia bisa mencoba dulu kan sebelum menyerah?" Mike masih tidak habis pikir.


"Kau bisa bicara seperti itu karena kau berada diposisi atas, sementara dia berada dibawah, akan banyak hal yang dia pertaruhkan jika salah mengambil tindakan!" Ron membela Dimas.


"Contohnya apa?" Mike tidak paham.

__ADS_1


"Contohnya, dia akan kehilangan karir yang selama ini susah payah ia rintis dari bawah jika ternyata kau tidak merestui mereka. Mungkin ia juga takut hubunganmu dengan Gaby akan renggang jika ternyata Gaby menerimanya tapi kau tidak merestuinya. Aku rasa dia memikirkan banyak hal ketimbang sekedar bersikap egois mengikuti kata hatinya sendiri!" kali ini Ron sangat bijak.


"Dengar, aku bukan mau memihak padanya, tapi aku rasa Dimas itu pria yang baik, akan sangat sulit mendapatkan calon menantu sebaik dia, bahkan ketika kau mendapatkan yang kaya raya sekalipun!" Ron benar-benar luar biasa bijak kali ini.


__ADS_2