
"Good morning everyone" seorang pria bule masuk ke dapur dan menyapa semua staf.
"Good morning chef!" jawab semua staf kepada pria bule itu.
"Oh hi, are you Gaby?" pria bule itu menghampiri Gaby dengan ramah.
"Yes chef, my name is Gabriella, but you can call me Gaby" Gaby mengulurkan tangannya.
"I'm Max, Maximus" pria bule itu membalas uluran tangan Gaby.
"Welcome to our team, i hope you can enjoy working together with us" Max menunjukkan senyumnya yang menawan.
"Thank you chef" jawab Gaby dengan hormat.
Maximus adalah chef kepala yang sengaja diutus dari negara asal restoran ini berdiri di benua Eropa. Ia didaulat untuk memimpin dapur selama beberapa waktu kedepan sampai restoran ini bisa benar-benar berjalan dengan baik. Gaby sudah mendengar tentang Max dari Dyah kemarin saat mereka sedang melakukan interview. Begitu pun dengan Max yang juga sudah mengetahui bahwa Gaby akan bergabung dari pesan singkat yang Dyah kirimkan kepadanya.
"Oke, sooo let's start our party guys!" Max adalah pribadi yang ceria, ia selalu menganggap bahwa pekerjaannya adalah sesuatu yang menyenangkan. Baginya bekerja menjadi chef dan memasak di dapur itu sama seperti dirinya yang sedang mengikuti sebuah pesta.
Hari pertama Gaby bergabung di dapur restoran sangat membuat dirinya bahagia. Cita-citanya menjadi seorang chef handal yang hampir saja layu kini tumbuh bersemi kembali.
"Gaby pulang ke arah mana?" tanya Max saat mereka semua sudah selesai dengan pekerjaan masing-masing.
__ADS_1
"Loh chef bisa berbahasa lokal?" Gaby terkejut.
"Sedikit heheheheh" jawab Max dengan santai.
"Ohhhh" Gaby ber oh ria.
"Kamu pulang ke arah mana?" Max kembali bertanya.
"Ke The Mansion City chef" jawab Gaby singkat.
"Wah kebetulan searah, bagaimana kalau saya antar saja?" kata Max.
"Terima kasih chef tapi kebetulan saya bawa mobil sendiri" jawab Gaby.
"Hati-hati di jalan ya" Max menunggu Gaby masuk ke dalam mobilnya.
"Iya, terima kasih, hati-hati juga ya chef" Gaby kemudian langsung meluncurkan mobilnya keluar dari tempat parkir restoran tanpa menyadari bahwa Max terus mengamati mobilnya sampai menghilang di kejauhan.
..........
"Bagaimana hari pertamanya ma?" Dimas yang sudah selesai berganti pakaian tidur langsung meringsek masuk ke dalam selimut menyusul sang istri yang sudah terlebih dahulu berbaring setelah sebelumnya ia menemani Divo tidur di kamarnya.
__ADS_1
"Menyenangkan, semua orang sangat baik dan mau membantuku pa" jawab Gaby sambil bergeser mendekat ke arah sang suami dan kemudian meletakkan kepalanya di dada bidang pria tampan yang selalu membuatnya nyaman itu.
"Syukurlah kalau mama senang" Dimas merangkul sang istri dengan erat.
"Terima kasih ya pa, karena sudah mengiji kan mama bekerja kembali" Gaby kini bermain-main di dada bidang itu dengan jari-jarinya yang lentik.
"Iya sayang, asal mama bahagia dan semua berjalan dengan lancar, papa pasti akan selalu mendukung" Dimas mengecup kepala Gaby.
"Mama pikir mama tidak akan pernah bisa meraih cita-cita mama lagi, untungnya papa pengertian hehehehehe" Gaby berseloroh.
"Sebenernya papa gak sepengertian itu juga sih ma" kata Dimas dengan senyum jahilnya.
"Maksudnya??" Gaby mengangkat kepalanya dan menatap sang suami yang masih menyunggingkan senyum jahilnya.
"Segala sesuatu yang berharga itu harus dibayar dengan sangat mahal" Dimas memberi kode.
"Oke, mama akan bayar dengan amat sangat mahal semua yang sudah papa berikan ke mama" Gaby yang paham akan kode dari sang suami langsung merubah posisinya dan duduk di perut Dimas.
"Maaaaaaaaa" Dimas merasa sensasi geli luar biasa ketika tangan sang istri mulai menjelajah.
"Mama nakal yaaaa" Dimas sudah mulai mendidih ketika sang istri melucuti semua yang mereka kenakan.
__ADS_1
"Aaaahhhhhhh maaaaaaa,,," Dimas mulai meracau saat sang istri memimpin pertempuran mereka dengan ganasnya.
Pergulatan pun terus berlangsung hingga lewat tengah malam, suasana panas dan penuh peluh diiringi desahan-desahan lembut mengitari pasangan yang sedang berada di puncak asmara ini.