
Setelah konferensi pers berlangsung situasi mulai berangsur-angsur normal kembali. Jangan tanyakan keadaan Vita, karena jelas kini gadis itu mengalami depresi berat yang bahkan sampai harus dirawat di rumah sakit karena psikosomatis yang dideritanya. Masyarakat umum yang awalnya menghujat Gaby karena tidak paham duduk persoalannya kini berbalik mendukungnya dan menyerang Vita melalui akun media sosial.
Restoran tempat Gaby bekerja pun sontak menjadi pusat perhatian dan ramai pengunjung yang hanya sekedar penasaran dengan Gaby serta masakannya yang memang cukup menjadi favorit di sana. Pujian dan sanjungan datang bertubi-tubi kepada Gaby karena ia yang seorang anak konglomerat malah memilih bekerja di restoran yang jauh dari kata "cukup" untuk membiayai hidupnya dengan gaya hidup kaum sosialita.
Berkat pemberitaannya Gaby kini menjadi selebgram dan foodblogger dadakan dengan banyaknya endorse yang masuk ke akun media sosial pribadinya. Followernya kini meningkat berkali-kali lipat. Sebenarnya bukan karena Gaby butuh uang lalu ia mengambil semua endorse yang menurutnya patut dipromosikan, karena pada dasarnya Gaby sudah berlimpah harta bahkan sebelum dirinya lahir ke dunia ini. Ia semata-mata mempromosikan produk-produk itu karena murni ingin membantu pedagang kecil memajukan usaha mereka. Tarif yang diambil juga tidak semahal selebgram lainnya. Penghasilannya pun tidak dia pakai untuk kepentingan pribadi, melainkan ia donasikan penuh ke panti asuhan tempat sang bunda dulu tumbuh besar.
"Sayang" Dimas yang setiap hari mengantar jemput Gaby selalu setia menunggu sang kekasih selesai bekerja.
"Sudah lama menunggu ya?" Gaby bergelayut manja di lengan Dimas ketika pria tampan itu berdiri di depan mobilnya.
"Belum, aku baru sampai kok" kata Dimas kemudian membukakan pintu mobil untuk permaisuri hatinya itu.
"Kita mau makan di mana sayang?" tanya Gaby kepada Dimas.
"Kalau kita makan di rumah saja bagaimana? aku ingin kita masak bersama-sama" kata Dimas yang memang sangat kecanduan masakan buatan tunangannya itu.
"Oke!" jawab Gaby dengan santainya.
..........
"Kalian sudah pulang?" Ananda menyambut anak dan calon menantunya yang baru saja turun dari mobil.
"Iya bun" kata Gaby sambil mengecup pipi sang bunda.
"Sudah makan belum?" Ananda bertanya karena biasanya mereka pulang sudah dalam keadaan kenyang.
__ADS_1
"Belum Bun, kami mau masak dulu berdua, baru habis itu makan" kata Gaby menjelaskan.
"Oh oke" kata Ananda yang paham bahwa dalam situasi seperti saat ini mereka pasti sedang dalam fase selalu ingin bersama.
"Ayah sudah tidur bun?" tanya Dimas mencari keberadaan Mike.
"Ayah masih di ruang kerjanya, mau dipanggilkan?" Ananda berkata kepada Dimas.
"Tidak usah Bun, aku hanya bertanya saja kok heheheh" Dimas memang suka basa-basi busuk.
"Ya sudah, kalau kalian mau makan cepat sana masak, nanti kemalaman keburu lapar!" kata Ananda kepada keduanya.
"Oke Bun!" Gaby kemudian menarik tangan Dimas ke arah dapur untuk menyiapkan keperluan makan malam mereka.
Sementara Ananda kembali ke ruang keluarga menemani Raf dan Sera yang sedang menonton film kartun.
..........
"Sayang, tolong aduk sausnya supaya tidak menggumpal" kata Gaby meminta Dimas mengaduk panci berisi saus steak.
"Oke!" Dimas kemudian mengaduk sesuai dengan permintaan sang kekasih. Sementara Gaby sibuk dengan daging steak yang sedang ia masak.
Tidak perlu menunggu lama, menu makan malam mereka pun sudah siap untuk disantap.
"Sayang," Dimas menatap kekasihnya dengan penuh cinta.
__ADS_1
"Apa?" tanya Gaby sambil menata mini bar yang ada di dapur.
Mereka memang memilih untuk makan di dapur saja, selain lebih dekat dengan tempat memasak dan cuci piring, juga lebih sepi dari lalu lalang penghuni rumah yang lainnya, sehingga privasi mereka tetap terjaga.
"Suapin dongggg" Dimas merajuk seperti anak kecil yang meminta sang ibu menyuapinya makan.
"Astagaaaaaa,, gemes banget sihhhhh!" Gaby yang melihat ekspresi imut Dimas jadi tidak tahan untuk menguyel-uyel wajah kekasihnya itu.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa" Gaby menyodorkan sepotong steak kehadapan kekasihnya yang langsung dengan sigap dimakan oleh Dimas tanpa jeda.
"Nanti kalau kita sudah menikah, aku mau disuapin setiap makan ya!?" Dimas merajuk manja.
"Issshhh dasar manja!" Gaby mencubit perut Dimas dengan manja, membuat pria itu tergelak melihat wajah sang gadis pujaan merona merah.
Dimas yang sudah lama tidak mendapatkan perlakuan manja dari kekasihnya karena dulu saat bersama Vita gadis itu selalu sibuk, kini merasa sangat senang bisa mendapatkannya dari Gaby. Ia sangat bersyukur karena telah dipertemukan oleh Gaby dan menjadi pasangan hidupnya. Meskipun Gaby anak orang kaya yang selalu mendapatkan segala fasilitas mewah, namun ia tetap mempunyai kepribadian yang mandiri. Perhatian dan kasih sayangnya kepada keluarga juga tidak diragukan lagi. Baginya keluarga adalah prioritas utama, bahkan ia bisa menjadi sangat galau ketika salah satu anggota keluarganya ada yang sakit atau sedang marah padanya, seperti saat Raf dulu marah karena merasa Gaby tidak memperhatikannya.
............
Halo sahabat, terima kasih ya masih tetap setia sama kisah Om dan Nona.. Yuk kawal terus sampai janur kuning melengkung..
Oya, mohon bantu Rosi untuk terus meningkatkan popularitas novel ini dengan melalui like, komen positif, hadiah, vote serta favorit ya.. Karena hanya dengan kemurahan hati para sahabat lah yang bisa membuat karya-karya Rosi ini dikenal banyak readers lain dan bisa menghibur mereka..
Buat yang mau berteman dengan Rosi juga boleh loh follow IG Rosi di @rosilombe biar nanti Rosi folback dan kita bisa saling ngobrol..
Terima kasih semua...
__ADS_1
Happy Reading...
Luv Luv...