
"Dim, bisa ikut aku?" Ron meminta Dimas untuk mengurus persiapan pertunangannya di hotel milik keluarga Anderson.
"Kemana bos?" Dimas penasaran.
"Mike barusan memintaku mengurus persiapan pertunangan Gaby yang akan dilangsungkan besok lusa di hotel" jawab Ron dengan santai sambil melihat reaksi wajah Dimas.
"Baiklah" Dimas yang terkejut karena hatinya dipercepat hanya bisa mengikuti perintah atasannya tanpa membantah, karena ia memang pernah berjanji akan membantu Mike mengurus acara pertunangan ini.
"Ayo!" Ron kemudian berjalan menuju basement tempat mobilnya terparkir.
Sepanjang perjalanan tidak ada satu patah kata pun yang diucapkan oleh Dimas. Ia hanya fokus menyetir mobil milik Ron dalam diam. Sementara Ron mengamati ekspresi Dimas sambil berpura-pura memainkan ponselnya.
"Selamat siang tuan Ron" Manager hotel menyambut sang empunya.
"Selamat siang, bagaimana persiapannya?" tanya Ron kepada sang manager yang memang sudah ia hubungi terlebih dahulu lewat telpon sebelum mereka berangkat tadi.
"Saya sudah meminta WO untuk mengurus semua dekorasinya tuan, tim manajemen restoran hotel juga sudah kami minta untuk menyajikan menu sesuai dengan jumlah yang anda minta, saya pastikan besok lusa semua beres" jawab sang manager sambil kemudian menjelaskan detail konsep yang akan diusung di acara pertunangan Gaby dan Dimas nanti.
"Oke, aku percayakan semua padamu, George akan mentransfer biayanya segera" kata Ron sambil berkeliling ballroom tempat acara akan digelar besok.
"Siap tuan" sang manager menunduk hormat.
__ADS_1
"Kalau begitu aku pergi dulu ya, karena ada banyak hal yang harus dipersiapkan lagi" kata Ron.
"Baik tuan, terima kasih atas kedatangannya, semoga acaranya berjalan lancar" kata sang manager memberi doa.
"Terima kasih, ayo Dimas!" Ron mengajak Dimas pergi meninggalkan hotel.
"Kita mau ke mana lagi tuan?" tanya Dimas yang bingung karena dia menyetir tanpa arah.
"Kita ke butik langganan istriku, kami akan memilih baju yang akan dipakai nanti saat acara" kata Ron.
"Baik" kemudian dimas mengendarai mobil Ron sesuai dengan arahan sang pemilik mobil.
"Mommy sayang" Ron yang cuek selalu saja tidak tau tempat dan langsung mencium istrinya dengan mesra tanpa mempedulikan sekitarnya.
"Daddy kebiasaan deh!" Ayu protes dan memukul manja lengan Ron saat melihat ulah suaminya yang selalu saja membuatnya tersipu malu karena diperlakukan dengan romantis di depan umum.
"Kalian sudah dapat pakaian yang cocok?" tanya Ron kepada istri, kakak ipar dan juga keponakannya.
"Sudah, kami sedang menunggu duo grandma" kata Ayu.
"Mommy sudah pilihkan untuk Daddy dan anak-anak juga?" Ron kembali menguyel-uyel istrinya gemas.
__ADS_1
"Sudah, punya Daddy, kak Mike dan anak-anak sudah siap semua, tinggal di coba saja, kalau tidak cocok nanti anak buah Miss Yenny akan membantu membawakan beberapa pakaian cadangan yang lain ke Rumah untuk dicoba" kata Ayu.
"Oke, sip" jawab Ron sambil mencium pipi Ayu lagi dan lagi.
"Bun, boleh tidak kakak tunggu di mobil saja?" Gaby meminta ijin kepada Ananda.
"Kok dimobil sih sayang, disini saja, sebentar lagi grandma datang kak" Ananda paham bagaimana perasaan dua orang yang sedang patah hati ini.
Gaby dan Dimas yang sedang sama-sama merasakan patah hati bertemu dalam diam. Mereka tidak saling menegur satu sama lain dan berusaha mengalihkan pandangan agar tidak saling tatap.
"Oya, Dimas besok datang kan ke acaranya Gaby?" tanya Ayu kemudian.
"Iya nyonya, pasti saya datang" jawab Dimas dengan senyum manis meskipun hatinya menangis pedih.
"Dimas sudah ada baju untuk lusa belum? kalau belum sekalian saja pilih biar nanti dibayar juga bareng yang lain!" Ayu yang tadi sudah di kode oleh Ron melalui pesan singkat berakting seolah-olah memberikan hadiah baju untuk Dimas.
"Terima kasih nyonya, tidak perlu repot, saya pakai yang ada saja di rumah" Dimas sungkan.
"Tidak repot kok, kan sekalian mumpung di sini" Ayu sedikit memaksa.
"Sudah ayo kita cari untukmu, jangan pernah membantah permaisuri hatiku!" Ron kemudian merangkul Dimas dan mengarahkannya ke tempat pakaian pria.
__ADS_1