
"Good morning everyone!" Max yang tiba tidak lama setelah Gaby langsung menyapa semua orang dengan ramah seperti biasanya.
"Good morning chef" jawab staf dapur serentak.
"Oh ya ini aku bawa camilan buat kalian" Max menyodorkan satu bungkus gorengan aneka rasa untuk dibagikan kepada seluruh timnya.
"Terima kasih chef" mereka lagi-lagi mengucapkannya secara serentak sambil berkerubung di sekitar gorengan yang dibawa oleh Max.
"Oya Gaby, kau naik apa tadi?" Max bertanya pada Gaby yang sudah kembali ke posisinya yang bersebelahan dengan posisi Max.
"Aku diantar papa Divo sekalian dia berangkat kerja" Gaby menjawab apa adanya tanpa menjelaskan bahwa papa Divo itu adalah suaminya.
"Ohhhhh" Max yang mengira bahwa Divo adalah adik dari Gaby jadi berasumsi bahwa papa Divo adalah papanya Gaby juga.
"Nanti pulangnya bagaimana?" Max mencari celah lagi.
"Nanti aku dijemput setelah pulang kerja" jawab Gaby santai sambil memakan gorengannya.
"Ummmmmm" Max hanya manggut-manggut.
Hari ini semua pekerjaan berjalan dengan lancar, Gaby dan semua rekan satu timnya bisa menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik sampai jam pulang tiba.
Tring, ponsel Gaby berbunyi menunjukkan nama 'Papaku sayang' mengirim pesan singkat.
"Gaby sepertinya ada pesan masuk di ponselmu" Max memberi tahu Gaby. Ia tadi tidak sengaja melihat nama yang tertera karena Gaby yang sedang di toilet meninggalkan ponsel di meja dapur begitu saja.
"Oh iya, terima kasih" Gaby langsung membuka ponselnya. Senyumnya terkembang saat melihat bahwa yang mengirimkan pesan untuknya adalah pria pujaan hatinya. Namun tidak lama setelah itu wajahnya menjadi sedikit kecewa.
"Ada apa?" Max yang sejak tadi mengamati Gaby, melihat jelas perubahan air muka wanita yang kini sudah mulai merebut hatinya itu.
"Tidak apa-apa, hanya saja aku tidak jadi dijemput karena papa Divo masih harus meeting di kantornya" jawab Gaby menjelaskan.
"Kalau begitu biar aku antar saja" Max merasa memiliki peluang untuk melakukan pendekatan lebih.
"Ah tidak usah, saya naik taksi online saja" jawab Gaby dengan sungkan.
"Jangan begitu, ayolah niat baikku jangan ditolak" Max menunjukkan wajah sedihnya.
"Tapi nanti merepotkan" jawab Gaby lagi.
"Sama sekali tidak, kan kita satu arah, jadi aku juga sekalian pulang" Max meyakinkan.
"Ya sudah baiklah, terima kasih ya" kata Gaby pada akhirnya karena ia sudah tidak bisa lagi menolak dengan alasan apapun.
"Iya sama-sama, ayo" Max kemudian mempersilahkan Gaby jalan duluan.
..........
"Terima kasih chef, atas tumpangannya" Membuka sabuk pengamannya.
__ADS_1
"Sama-sama" jawab Max dengan senyum mengembang.
"Mau masuk dulu?" Gaby berbasa-basi sebagai bentuk sopan santun kepada orang yang sudah berbuat baik kepadanya.
"Oke" kalau kemari Max menolak, kali ini ia justru mengambil kesempatan karena menganggap bahwa Gaby memberikan lampu hijau kepadanya.
"Mari silahkan" Gaby yang awalnya hanya basa-basi akhirnya mempersilahkan Max masuk ke ruang tamu.
"Iya, terima kasih" jawab Max sambil duduk di sofa ruang tamu yang besar dan megah itu.
"Kak, sudah pulang?" Ananda menghampiri putrinya.
"Iya bun, oya kenalkan ini chef Max, atasan kakak di restoran" Gaby menggandeng sang bunda mendekat.
"Chef Max, ini bunda saya" Gaby memperkenalkan Ananda ke Max.
"Halo tante saya Max" Max memperkenalkan dirinya.
"Ananda, silahkan duduk" kata sang bunda dengan ramah.
"Terima kasih tante" jawab Max dengan sopan.
"Oya Divo di mana bun?" Gaby mencari putra kesayangannya itu.
"Baru bobok, tadi habis berenang sama aunty dan unclenya, trus kecapekan jadi ngantuk, baru saja bunda kelonin" Ananda menjelaskan.
"Kalau begitu bunda ke dapur dulu buat ambil minum buat kalian ya" Ananda berpamitan.
"Jangan repot-repot tante, saya hanya sebentar kok" Max basa-basi.
"Ah tidak, hanya air putih saja" Ananda tersenyum ramah.
"Makasih bun" jawab Gaby.
"Iya sayang, sama-sama" jawab Ananda sambil berjalan menuju dapur.
"Jadi kamu blasteran ya?" Max mencari topik pembicaraan setelah melihat foto keluarga yang berisikan Mike, Ananda, Gaby, Raf dan Sera yang tergantung di ruang tamu. Sementara foto keluarganya yang bersama Dimas dan Divo hanya di pajang di ruang keluarga.
"Iya, ibu saya keturunan Asia, ayah saya keturunan Amerika" jawab Gaby sekenanya saja tanpa menjelaskan bahwa yang dimaksud ibu adalah Ariella bukannya Ananda. Kebetulan baik Ariella maupun Ananda adalah keturunan asia, jadi Gaby beruntung tidak perlu repot menjelaskan panjang lebar.
"Ibu kamu awet muda ya, padahal anaknya sudah gadis begini" Max memuji wajah Ananda yang masih sangat muda.
"Iya" jawab Gaby singkat tanpa mau membahas bahwa sebenarnya Ananda adalah ibu sambungnya.
"Terima kasih tante" Max menerima secangkir teh hangat dari Ananda.
"Sama-sama, silahkan di minum, maaf ya seadanya" Ananda merendah. Padahal sesungguhnya selain teh, sajian kuenya juga cukup banyak.
"Ini banyak sekali tante" Max menunjuk kue-kue yang baru saja dibawa oleh Ananda dari dapur.
__ADS_1
"Silahkan dimakan" Ananda kemudian ikut duduk.
"Baik" kemudian untuk menghormati Ananda, Max pun memakan sepotong kue yang disajikan.
"Chef Max tinggal dimana?" Ananda mencari bahan obrolan.
"Di apartemen The Park tante" jawab Max.
"Ohhh, dekat ya dari sini" Ananda manggut-manggut.
"Iya tante, makanya saya sengaja mengajak Gaby untuk pulang bareng, karena bisa sekalian satu arah" jawab Max sekaligus mencari celah.
"Terima kasih ya sudah mau membantu Gaby" Ananda berterima kasih dengan tulus.
"Sama-sama tante, hanya mengantar saja kok hehehe" Max berusaha mencuri hati sang bunda.
"Kalau begitu saya pamit dulu tante" Setelah menghabiskan teh dan sepotong kue, Max akhirnya berpamitan.
"Terima kasih chef" Gaby berdiri dan mengantar Max ke depan halaman.
"Hati-hati di jalan ya" Ananda juga mengikuti keduanya ke halaman.
"Iya tante, terima kasih" Max mengangguk.
"Oya, apa besok pagi mau bareng lagi?" Max bertanya pada Gaby.
"Tidak usah terima kasih, mudah-mudahan hari ini mobilnya sudah bagus lagi" Gaby menolak halus.
"Baiklah, kalau nanti butuh dijemput berkabar saja ya" Max menawarkan dirinya.
"Iya terima kasih" jawab Gaby dengan sopan.
Setelah Max melajukan mobilnya, Gaby dan Ananda pun masuk ke dalam rumah.
"Kak, sepertinya Max itu suka deh sama kakak" Ananda menafsirkan kebaikan Max kepada putrinya.
"Apa sih bunda, masa iya dia naksir sama istri orang, udah punya anak lagi" Gaby terkekeh dengan perkataan sang bunda.
"Dia sudah tau status kakak belum?" Ananda menatap putrinya.
"Ummm entahlah, kakak sih belum banyak cerita tentang kehidupan kakak, kan tidak penting juga cerita-cerita sama orang lain kalau tidak ditanya terlebih dahulu bun" Gaby berseloroh.
"Nah, mungkin karena kakak tidak bercerita tentang status kakak, dia jadi beranggapan bahwa kakak itu masih single" Ananda kembali menyimpulkan.
"Tapi seharusnya sih sudah tau bun, kan di CV kakak tertulis status menikah dan punya anak satu. Lagian waktu kakak interview dengan bu Dyah juga kakak cerita alasan kakak sempat rehat dua tahun tidak bekerja karena mengurus anak yang baru lahir" Gaby memang polos.
"Ya sudah, pesan bunda kakak harus hati-hati, jaga jarak, jangan sampai dia berharap lebih sama kakak ya" Ananda menasehati putri sulungnya.
"Siap bundaku sayang" Gaby merangkul lengan sang bunda dengan manja.
__ADS_1