Malaikat Kecilku Gabriella

Malaikat Kecilku Gabriella
Patah Hati


__ADS_3

"Ada apa dengan wajahmu hah?" Ron menatap Dimas yang baru tiba di kantor dengan wajah cemas.


"Uncle, kalau ada pria yang mendekati istrimu, apa yang akan kau lakukan?" Dimas bertanya kepada Ron dengan tatapan serius.


"Tentu saja aku akan menghabisinya!" Ron berseloroh seenaknya.


"Apa yang ingin kau habisi?" Mike yang baru datang bersama George langsung menimpali percakapan kedua pria itu.


"Dimas sedang bertanya apa yang akan aku lakukan jika istriku didekati oleh pria lain, ya aku jawab akan menghabisinya!" Ron menjelaskan.


"Memang siapa yang sedang mendekati istrimu?" George penasaran.


"Chef senior di restoran tempatnya bekerja" jawab Dimas dengan aura kesal bercampur khawatir.


Semalam, setelah mereka pulang dari rumah Mike dan Ananda, Gaby menceritakan kepada Dimas apa yang dikhawatirkan oleh Ananda tentang perasaan Max terhadap dirinya. Sontak saja cerita Gaby itu membuat Dimas tidak tenang, meskipun ia percaya bahwa sang istri akan tetap setia, dan ia juga tetap bersikap tenang di depan Gaby serta berjanji akan membantunya agar Max tidak mendekatinya lagi, namun tetap saja ia merasa khawatir, mengingat mereka bekerja di satu tempat yang sama dan hampir tiap hari bertemu.


"Apa sebegitu khawatirnya kau kalau mereka akan bisa terbawa suasana?" George menyelidik.


"Sesungguhnya kalau untuk Gaby aku yakin dia akan setia padaku, karena aku tau dia sangat mencintaiku seperti aku mencintainya. Tapi aku tidak yakin dengan pria itu, apa lagi istriku sangat cantik, bahkan ketika sudah memiliki Divo ia tetap terlihat seperti gadis belasan tahun" Dimas memuji sang istri.


"Tentu saja Gaby cantik, apa kau lupa siapa ayahnya? bibit unggul itu berasal dari pohon yang unggul juga!" Mike besar kepala.


"Ck, kau ini narsis sekali" Ron mencibir sang kakak.


"Itu kenyataan!" Mike membela diri.


"Kenapa ayah dan uncle jadi berdebat sih? bukannya memberi aku solusi?" Dimas tidak sabar.


"Hemmmm baiklah, begini saja, aku ada ide..." Mike kemudian menceritakan apa ya g pernah ia lakukan kepada Andrew, pria yang pernah mendekati Ananda di awal pernikahan mereka dulu.


"Ide yang cerdas" Dimas manggut-manggut.


"Tentu saja, apa kau lupa kalau mertuamu ini berotak sangat cerdas?" Mike membetulkan dasinya yang sebenaranya sudah rapi.


"Ck, dasar besar kepala!" Ron kembali berdecak mendengar sang kakak yang narsis.


"Apa? memang benar kan!?" Mike tidak mau kalah.


Mereka berdua kembali ribut membahas hal tidak berfaedah yang selalu membuat George geleng-geleng. Sementara Dimaa yang sudah mendapat ide dari sang mertua fokus memikirkan rencananya dan mengatur strategi untuk memberi pelajaran kepada Max.

__ADS_1


..........


Sementara di tempat lain, tepatnya di restoran, Max yang tadi pagi sempat melihat Gaby bermesraan dengan Dimas di dalam mobil sebelum akhirnya mereka berpisah, membulatkan tekadnya untuk menyatakan perasaannya hari ini juga. Ia merasa bahwa perilaku Gaby dan Dimas di dalam mobil yang dia ketahui berstatus sebagai papa dan anak sangat janggal. Dimas terlihat begitu romantis dan penuh cinta layaknya laki-laki dewasa kepada wanitanya, bukan layaknya papa kepada anak perempuannya.


"Gaby, aku ingin bicara sebentar" Max berbisik kepada Gaby yang berdiri di sebelahnya.


"Ada apa?" Gaby mulai khawatir dengan yang dikatakan oleh sang bunda kemarin.


"Nanti sore sepulang kerja apa bisa kita bicara serius?" Max menatap mata Gaby dengan intens.


"Soal apa chef?" Gaby memberi jarak dengan memanggil chef kembali supaya terlihat lebih profesional.


"Nanti saja sepulang kerja ya, kita mampir ke cafe untuk membicarakannya" kata Max.


"Tapi saya harus segera pulang, keluarga saya menunggu di rumah" Gaby menolak dengan halus.


"Sebentar saja, aku mohon" Max mencoba meraih tangan Gaby, namun Gaby dengan cepat menepisnya.


"Maaf chef, bisakah bicara disini saja?" Gaby akhirnya berkata dengan tegas karena ia sudah yakin bahwa Max memang ingin mendekatinya.


"Baiklah, kalau begitu nanti sepulang kerja kita bicara sebentar ya, terserah dimana pun tempatnya, asal kau mau mendengarkan aku" Max akhirnya menyerah mengajak Gaby pergi.


..........


"Jadi apa yang ingin dibicarakan?" Gaby sudah tidak sabar ingin segera pulang ke rumah dan bertemu dengan putra kesayangannya.


"Ehemmmm, begini, sesungguhnya aku ingin mengutarakan isi hatiku padamu" Max menatap wajah Gaby intens.


"Maksudnya?" Gaby yang sudah tau arah pembicaraan mereka ingin mempertegas.


"Aku menyukaimu, aku ingin kau menjadi kekasihku" Max mencoba meraih tangan Gaby yang bertengger anggun di atas meja, namun lagi-lagi Gaby menolaknya dan menarik tangannya dengan sopan.


"Maafkan aku chef, aku tidak bisa menerimanya" jawab Gaby to the point.


"Kenapa? apa karena pria yang bermesraan denganmu tadi pagi di dalam mobil?" Max juga tidak kalah to the pointnya.


"Iya, karena dia" jawab Gaby tegas.


"Tapi apakah aku tidak ada kesempatan sama sekali?" Max menatap penuh harap.

__ADS_1


"Chef, maafkan aku, aku tidak bisa karena aku dan pria yang kau lihat di mobil tadi pagi sudah menikah dan kami sudah memiliki seorang anak" Gaby menjelaskan dengan hati-hati supaya Max tidak tersinggung.


"Tidak Mungkin,, kau pasti berboh,,,"


"Mamaaa"


belum sempat Max menyanggah, Dimas sudah lebih dulu menghampiri meja mereka dan memanggil Gaby sambil menggendong Divo.


"Papa? Divo?" Gaby spontan berdiri dan meraih putranya dari tangan sang suami dengan senyum yang mengembang.


"Mamamamamamama" Divo yang sudah pandai berceloteh langsung memanggil sang mama saat digendong oleh Gaby.


"Iya ini mama, Divo sama papa jemput mama pulang kerja ya? uhhhh anak pintarrrr" Gaby langsung menguyel-uyel pipi gembul Divo dengan gemas tanpa mempedulikan kedua pria yang sedang menatapnya dengan dua perasaan yang berbeda.


"Mama masih lama?" Dimas kemudian menyadarkan sang istri yang sibuk dengan putra mereka, sementara Max yang masih belum percaya dengan kenyataan di hadapannya hanya bisa tertegun.


"Oh iya pa, mama sampai lupa saking asiknya main sama Divo, ini kenalkan chef Max, atasan mama di sini" Gaby menunjuk Max.


"Chef, perkenalkan ini suami saya Dimas dan ini putra kami Divo" kata Gaby.


"Dimas" sapa Dimas dengan senyum ramah.


Meskipun hatinya terbakar cemburu, namun ia berusaha tidak menunjukkannya di depan pria itu.


"Max" jawab Max dengan senyum yang dipaksakan.


"Chef, kalau begitu kami permisi dulu ya" Gaby yang merasa bahwa percakapan mereka sudah selesai karena Max sudah melihat jawabannya secara langsung segera berpamitan.


"Mari" Dimas kemudian membawa tas Gaby dan merangkul pinggal istrinya dengan mesra keluar dari restoran, meninggalkan Max seorang diri dengan hati yang patah.


..................


Halo semua, bagaimana harinya? semoga menyenangkan ya? oya untuk kisah Om dan Nona sudah mau sampai akhir nih, kita tinggal closing aja biar endingnya bahagia semua.. Baru deh habis itu kita pindah ke Novel barunya Gamal, Sera dan Niken yang berjudul "Sangkakala Milik Serafim" hehehehehe...


Sekali lagi Rosi ucapkan banyak terima kasih ya untuk semua dukungannya baik melalui like, komen, vote, hadiah, share, dan favorit.. Jangan bosen-bosen ya sama cerita Rosi.. Kalau kira-kira mulai bosen dan butuh penyegaran boleh loh kasih saran dan masukan biar Rosi pertimbangkan untuk diangkat sesuai dengan plot yang sudah Rosi rancang..


Oke deh..


Happy Reading all..

__ADS_1


LuvLuv...


__ADS_2