
Hari-hari berlalu begitu cepat, usia pernikahan Gaby dan Dimas sudah hampir mencapai tiga bulan. Kini mereka pun kembali disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Mereka dengan mudah beradptasi satu sama lain, karena pada dasarnya kedua manusia ini adalah orang yang memiliki karakter saling mengalah dan mau belajar menerima kekurangan pasangannya masing-masing.
"Sayang, apa kau baik-baik saja? kenapa wajahmu pucat sekali?" tanya Dimas saat melihat wajah sang istri sangat pucat.
"Aku baik-baik saja sayang, mungkin hanya sedikit kelelahan saja, kau tau kan kalau belakangan ini pekerjaanku lumayan banyak di restoran karena sedang momen libur sekolah dan semakin banyak pengunjung yang datang?" jawab Gaby dengan alasan yang tepat.
"Benarkah? Apa tidak sebaiknya istirahat dulu di rumah?" Namun Dimas tidak percaya begitu saja.
"Iya sayang, sudah tidak apa-apa kok, ayo kita berangkat, nanti kesiangan!" Gaby meraih tasnya dan berdiri dari kursinya setelah mereka menyelesaikan sarapan.
"Ya sudah ayo" karena Gaby merasa baik-baik saja, maka Dimas pun akhirnya mengijinkan sang istri berangkat bekerja seperti biasa meskipun hati kecilnya masih ragu.
"Nanti aku jemput seperti biasa ya" Dimas mengecup bibir sang istri dengan lembut.
"Iya sayang, selamat bekerja ya" Gaby tersenyum manis kepada Dimas sebelum keluar dari mobil.
"I love you" kata Gaby sambil melambaikan tangan.
I love you more baby!" Dimas membalas lambaian tangan istrinya dan kemudian mulai mengendarai mobilnya menuju kantor perusahaan Anderson.
..........
"Selamat pagi semua" seperti biasanya Gaby selalu menyapa setiap orang di dapur restoran dengan senyum yang paling manis.
__ADS_1
"Selamat pagi" Semua membalas sapaan Gaby.
"Wajahmu kenapa Gab?" tanya seorang senior wanita yang melihat wajah Gaby pucat.
"Ah tidak apa-apa kok, mungkin hanya sedikit kelelahan saja" jawab Gaby.
"Apakah Om Dimas tidak memberimu istirahat yang cukup? apa dia begitu ganas sampai kau kelelahan begini?" tanya senior yang lain dengan ekspresi sensual membuat yang lain tergelak.
"Apa sih senior, masih pagi juga!" Gaby merah merona seperti kepiting rebus.
"Sudah-sudah, jangan bikin Gaby teringat suaminya, nanti kalau dia rindu dan minta pulang kan bahaya!" seloroh yang lain lagi dan kembali mengundang gelak tawa.
"Senior!" Gaby benar-benar malu karena menjadi objek penderitaan, maklum saja karena dia masih tergolong junior dan karakternya juga mudah malu jika digoda oleh orang lain.
"Ayo kita mulai bekerja, smangat!!" kata kepala Chef yang sangat disayangi oleh timnya.
"Yes chef!!!" semua menjawab serentak.
Kesibukan mulai terlihat di dapur, semua orang mulai sibuk mensortir bahan masakan yang akan mereka gunakan untuk memasak. Gaby yang sudah mendapat jatah memasak beberapa menu utama juga melakukan hal yang sama. Ia sibuk lalu lalang dari tempat penyimpanan bahan di gudang ke mejanya untuk menyiapkan bahan-bahan segar yang ia butuhkan.
BRUKKKK
"Oh my God Gaby!?" seseorang berteriak ketika tiba-tiba saja Gaby terjatuh di lantai dan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Bawa ke ruang istirahat" kata kepala chef yang kemudian dituruti oleh yang lain.
"Betty, coba kau hubungi suaminya, yang lainnya boleh kembali bekerja!" kata kepala chef itu lagi setelah Gaby dibaringkan di sofa panjang yang ada di ruang istirahat staf restoran.
"Baik Chef!" Betty pun menghubungi Dimaa menggunakan ponsel Gaby.
"Halo sayang, ada apa?" tanya Dimas di ujung telpon.
"Tuan, ini saya Betty temannya Gaby, baru saja Gaby pingsan dan sekarang masih di ruang istirahat staf" kata Betty menjelaskan.
"Astaga, lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Dimas cemas.
"Masih pingsan tuan" kata Betty.
"Baiklah, saya akan ke sana segera, mohon jaga istri saya sampai saya datang ya!" Dimas langsung berdiri dari meja kerjanya dan berlari menuju tempat parkir.
"Iya tuan" Betty kemudian menutup telponnya.
"Bagaimana?" tanya kepala chef sambil mengoleskan minyak angin ke kening dan hidung Gaby agar lekas sadar saat Betty menutup telponnya.
"Suaminya sedang menuju ke sini" Betty menjelaskan.
"Syukurlah" kepala Chef menarik nafas lega.
__ADS_1