Malaikat Kecilku Gabriella

Malaikat Kecilku Gabriella
Hadiah Pernikahan


__ADS_3

"Kakak kenapa matamu sembab seperti itu?" Ayu menatap intens wajah kakaknya.


"Ayu, coba kau nasehati kakakmu itu supaya tidak terus menangisi Gaby!" Mike berkata kepada Ayu.


"Ayah ini sangat tidak peka, Putri kita sebentar lagi akan pergi dari rumah!" Ananda mulai berkaca-kaca.


"Astaga bunnn, Gaby itu hanya pindah rumah mengikuti suaminya, bukan pindah planet!" Mike sangat gemas karena sudah beberapa malam ini Ananda selalu menangis saat hendak tidur di malam hari.


"Apakah semua laki-laki memang seperti itu? tidak peka dengan perasaan seorang ibu yang khawatir terhadap anaknya, apalagi anaknya itu perempuan!" Ananda membela diri.


"Aku tidak seperti itu kakak ipar, aku selalu khawatir dengan putriku!" Ron selalu senang memperkeruh suasana.


"Diam kau!" Mike yang kesal menghardik sang adik.


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya" seloroh Ron.


"Daddy, jangan membuat keadaan tambah panas!" Ayu melotot ke arah suaminya membuat Ron mengangkat bahunya.


"Dengarkan aku Bun, Gaby itu hanya pindah ke apartemen milik Dimas, jaraknya saja tidak sampai satu kilometer dari tempat kerja Gaby. Lagipula setiap hari ayah dan Ron selalu bertemu dengan Dimas, jadi sudah bisa dipastikan bahwa Gaby akan baik-baik saja!" Mike sudah kehabisan akal memberi pengertian kepada sang istri yang selalu over protect terhadap ketiga anaknya.


"Tetap saja kakak tidak akan ada di dekat kita setiap saat seperti sebelum menikah!" Ananda tetap merasa bahwa ia akan dipisahkan oleh anaknya.


"Kakak ipar suamimu itu kan kaya raya, minta saja dibelikan sebuah rumah mewah di sekitar komplek rumah kalian untuk ditempati oleh Gaby dan Dimas setelah menikah nanti!" Ron memberi ide.


"Dimas tidak akan mau, dia pasti akan merasa harga dirinya diinjak-injak!" Mike berasumsi bahwa lelaki sejati tidak akan pernah mau menerima bantuan apapun dari mertuanya jika ia merasa mampu.


"Loh siapa yang mau menginjak-injak harga diri Dimas? kan aku hanya menyarankan untuk membelikan mereka rumah di sekitar tempat tinggal kalian, anggap saja sebagai hadiah pernikahan mereka, aku rasa Dimas tidak akan masalah!" Ron cukup paham akan karakter Dimas yang selalu menghargai pemberian orang lain.


"Sambil menunggu Dimas mengumpulkan uang untuk membeli rumahnya sendiri, kalian bisa menyuruhnya tinggal disana sementara waktu, nah nanti kalau uang mereka sudah cukup, suruh dia beli rumah di sekitar rumah kalian juga, jadi tetap tidak jauh-jauh kan!?" imbuh Ron lagi.


"Daddy tumben cerdas?" seloroh Ayu mendengarkan ide sang suami.


Terkadang untuk hal-hal tertentu Ron memang ada benarnya, meskipun sering juga dia nyeleneh dengan ide-ide konyol, membuat sang istri geleng-geleng kepala.


"Loh mommy memangnya baru sadar? suamimu ini selain tampan dan kaya raya juga terkenal sangat cerdas loh!" Ron mencumbu sang istri tanpa kenal tempat dan waktu seperti biasanya yang selalu sukses membuat Ayu jengah.

__ADS_1


"Sepertinya ide Kak Ron bagus juga, ayah boleh ya kalau bunda belikan kakak rumah di sekitar tempat tinggal kita? kemarin bunda kebetulan dapat info dari ibu-ibu arisan kalau ada yang mau menjual rumahnya karena mereka sekeluarga mau pindah ke luar negeri secara permanen" Ananda kemudian merajuk kepada Mike.


Sesungguhnya Ananda adalah wanita yang tidak pernah merajuk, ia jarang sekali menunjukkan sisi manjanya, terlebih lagi dihadapan banyak orang. Namun jika sudah berurusan dengan sang anak, maka apapun pasti akan Ananda lakukan, bahkan jika perlu merendahkan harga dirinya sekalipun.


"Ya sudah, terserah bunda saja, atur bagaimana baiknya, asal bunda bahagia dan tidak menangis terus setiap malam!" Mike kemudian meraih tangan sang istri dan menciumnya dengan lembut.


"Makasih ayah sayang" Ananda tersenyum bahagia karena akhirnya ia tidak akan berjauhan dengan Gaby meskipun mereka akan tetap pisah rumah.


..........


"Kak, bunda boleh masuk?" Ananda memanggil putrinya yang sedang duduk di meja rias untuk membersihkan sisa make up yang menempel sepanjang hari saat ia bekerja.


"Masuk saja Bun" Gaby tersenyum saat melihat sang bunda.


"Kak, besok Dimas bisa kesini tidak?" tanya Ananda yang ingin segera menyerahkan kunci rumah yang baru saja ia beli untuk hadiah pernikahan sang putri.


Jangan tanyakan bagaimana prosesnya sehingga bisa dengan cepat semua berkasnya selesai di proses, karena bagi Mike hal yang sulit sekalipun akan dengan sangat mudah dilakukan mengingat kekuasaannya yang sangat besar.


"Seharusnya sih bisa Bun, kan setiap hari sepulang kerja dia hanya akan makan malam dan mengantar kakak pulang" kata Gaby menerka-nerka.


"Memang ada apa bun?" Gaby penasaran.


"Besok saja, ayah dan bunda akan memberikan sesuatu!" kata Ananda dengan senyum misterius.


"Bun ada apa sih? kok bikin kakak penasaran saja?" Gaby benar-benar ingin tau.


"Kakak tidak usah khawatir, ini hal baik kok, jadi tunggu besok kita ngobrol berempat ya!" kata Ananda menenangkan sang putri.


"Huffffffffff ya sudah deh, kalau bunda mau main rahasia-rahasia sama aku" Gaby mengerucutkan bibirnya, membuat Ananda tergelak.


"Anak bunda sudah mau nikah masih saja manja seperti Sera" Ananda kemudian memeluk Putri sulungnya itu.


"Bunda" Gaby pun membalas pelukan sang bunda.


..........

__ADS_1


"Duduk Dim!" kata Mike saat calon menantunya sudah tiba di rumah setelah menjemput Gaby.


"Iya yah" Dimas merasa cemas, meskipun Gaby sudah mengatakan bahwa kedua orang tuanya ingin menyampaikan hal baik.


"Ini" Ananda menyodorkan sebuah kunci dan surat-surat berharga kepada Gaby dan Dimas.


"Ini apa bun?" yang Gaby.


"Ini adalah hadiah pernikahan untuk kalian berdua dari ayah dan bunda" kata Ananda kepada kedua calon pengantin itu.


"Bunda, Ayah ini apa?" Dimas menatap bingung karena dilembar terdepan berkas itu tertuliskan Surat tanah dan bangunan.


"Maaf Dim, bukan maksud kami ingin mendahului atau merendahkanmu dengan memberikan rumah untuk kalian tinggali setelah menikah nanti. Karena ayah tau kalau kau mampu memberikan yang terbaik bagi istrimu kelak, ayah tidak meragukanmu sama sekali akan hal itu!" Mike merasa tidak enak dengan situasi ini.


"Satu hal yang harus kalian tau kenapa pada akhirnya kami memutuskan memberikan kalian rumah ini dan berharap kalian bisa menempatinya adalah karena bunda tidak ingin berjauhan dengan kalian. Sudah beberapa malam ini bundamu menangis terus karena memikirkan kalau setelah menikah ia akan kehilangan Putri kesayangannya!" Mike menarik nafasnya.


"Bunda?" Gaby berkaca-kaca menatap Ananda.


"Ayah harap meskipun kalian sudah menikah kelak, kalian akan tetap sering bersama dengan kami, meskipun sudah tidak satu rumah lagi!" Mike menatap keduanya secara bergantian.


"Nanti jika memang kalian sudah ada rejeki ingin membeli rumah dengan hasil keringat sendiri, ayah dan bunda tidak akan masalah jika kalian ingin pindah, namun ya itu tadi, kalau bisa jangan terlalu jauh supaya bundamu tidak khawatir!" Mike mengakhiri penjelasannya dan menatap Dimas.


"Terima kasih ayah, bunda, bagiku ini adalah sebuah kehormatan karena ayah dan bunda selalu menerimaku dengan segala keterbatasan yang aku miliki," Dimas membungkukkan badannya dengan hormat.


"Sejujurnya memang aku ingin sekali membeli rumah impianku dengan keringat sendiri, namun memang saat ini tabunganku belum cukup sehingga rencananya setelah menikah aku akan membawa Gaby ke apartemen terlebih dahulu untuk sementara waktu," Dimas menjeda kalimatnya.


"Tapi sepertinya rencana untuk pindah ke apartemen akan aku pikirkan kembali dan mungkin sementara waktu kami akan pindah ke rumah pemberian ayah dan bunda seperti harapan kalian, sambil aku akan terus menabung sampai bisa membeli satu unit rumah disekitar sini juga!" kata Dimas pada akhirnya memutuskan, membuat sang calon mertua tersenyum bahagia.


Dimas sangat memahami perasaan Ananda, karena beberapa waktu lalu pun sang Mama sama gundahnya ketika mendengar bahwa Dimas akan dipindah tugaskan ke kantor pusat di ibukota dan membuat mereka harus terpisah.


"Terima kasih Dimas atas pengertiannya" Ananda bahagia karena Dimas sangat mengerti dengan kegelisahannya jika harus berjauhan dari Gaby.


"Sama-sama Bun" Dimas mengangguk.


Sementara Gaby yang mendengarkan percakapan ketiganya hanya bisa meneteskan air mata bahagia. Bagaimana tidak, karena demi dirinya Ananda dan Mike rela merogoh uang yang cukup fantastis untuk membeli hadiah pernikahannya yaitu sebuah rumah mewah. Dimas yang juga baru merintis karir pun rela menabung demi bisa membelikannya rumah dan membahagiakannya kelak.

__ADS_1


"Terima kasih Tuhan karena Engkau mengirimkan mereka di dalam hidupku" batin Gaby bahagia.


__ADS_2