Malaikat Kecilku Gabriella

Malaikat Kecilku Gabriella
Dibela Mertua


__ADS_3

Setelah menyelesaikan masa baktinya sebagai seorang dokter senior sekaligus kepala rumah sakit di kota kelahiran Dimas, kedua orang tua pria itu akhirnya bersedia pindah tempat tinggal di ibukota agar bisa berdekatan dengan anak, menantu dan cucu-cucunya.


"Selamat datang di rumah ma, pa" Gaby menyambut kedua mertuanya dengan sangat ramah. Baik Gaby maupun Dimas memang sudah mempersiapkan tempat tinggal yang layak untuk keduanya, yaitu di rumah mewah yang dibeli oleh Dimas untuk Gaby sebagai hadiah pernikahan mereka yang kedua dulu.


"Wahhh rumahnya sudah di renovasi ya?" mama Dimas berdecak kagum saat melihat foto-fotonya menempel di dinding. Ia merasa bahwa kedua anaknya ini memang sengaja melakukannya agar dirinya dan suami nyaman dan merasa ini adalah rumah mereka sendiri.


"Mulai sekarang ini adalah rumah mama dan papa, jadi lakukan apapun yang membuat mama dan papa nyaman ya" Gaby mengajak mertuanya berkeliling.


"Ini kamar utamanya, mama dan papa bisa tidur di sini agar tidak perlu naik turun tangga" wanita hamil itu membuka pintu kamar.


"Terima kasih ya nak, mama dan papa sangat terharu" mama Dimas meneteskan air mata bahagia. Walaupun sebelumnya mereka sudah pernah singgah di rumah ini untuk bersantai, namun merek tidak pernah berfikir kalau ini akan menjadi tempat tinggal di masa tua mereka kelak.


"Sama-sama ma, kan dengan begini kita jadi bisa semakin dekat. Kalau mama kangen sama anak dan cucu bisa langsung nyebrang jalan saja sudah sampai deh di rumah kami, tidak seperti dulu harus ke luar kota" jelas Gaby.


"Iya, mama dan papa sekarang jadi tenang karena kalian sudah dekat dengan kami. Masa tua kami jadi tidak sepi dan semakin terhibur!" kata sang mama.


"Ya sudah, mama dan papa istirahat ya, nanti kalau butuh sesuatu bilang saja sama asisten yang melayani ya" kata ibu hamil itu lagi.


"Iya sayang, terima kasih" angguk sang mama mertua.


..........

__ADS_1


"Ngomong-ngomong kenapa kau mau hamil lagi? bukannya waktu itu bilang tidak mau punya anak lagi karena perutmu masih suka sakit?" sang mama mertua bertanya saat mereka sudah selesai makan malam dan mereka duduk ditepian kolam renang.


"Kalau itu mama tanyakan saja pada papanya Divo" Gaby langsung melirik tajam ke arah Dimas. Sejujurnya ia sudah enggan membahas hal ini lagi.


"Kenapa Dim?" mama bertanya lagi.


"Emmmm itu ma,," Dimas takut sang mama marah.


"itu apa?" mulai curiga karena Dimas tergagap.


"Aku, Gamal dan Gide bikin taruhan untuk menghamili istri kami masing-masing, lalu aku menukar pil KB Gaby dengan vitamin penyubur kandungan" Dimas pada akhirnya melakukan pengakuan dosa kepada orang tuanya.


"Maaf ma,," pria itu tetunduk.


"Memangnya kau tidak ingat kalau Gaby itu tidak mau hamil lagi karena perutnya bermasalah akibat tusukan Vita dulu?" mama yang masih ingat dengan baik tragedi itu memarahi sang anak.


"Iya ma, Dimas lupa" perasaan bersalah menghantui Dimas lagi.


"Apa kau tau Dim, kenapa kau tidak punya saudara kandung?" mama bertanya sama anak semata wayangnya.


"Tidak" geleng kepala.

__ADS_1


"Dulu waktu mama melahirkanmu secara normal, mama mengalami perdarahan hebat hingga kritis, lalu sejak saat itu papamu berjanji tidak akan mau membuat mama hamil lagi, baginya cukup hanya dengan punya satu anak asalkan istrinya tidak mempertaruhkan nyawa lagi saat proses melahirkan. Padahal dokter ahli kandungan sudah mengijinkan, dengan syarat ketika lahir mama harus operasi, namun papamu tetap menolak keras karena dia lebih sayang nyawa istrinya, maka jadilah kau ini anak tunggal!" mama bercerita panjang lebar, sementara sang papa hanya menjadi pendengar saja sambil mengingat memori masa lalunya.


"Iya ma, Dimas menyesal" wajah pria itu sudah sangat pias.


"Kau ini benar-benar keterlaluan!" mama geleng-geleng.


"Apa kau tidak berfikir resikonya nanti? mama ini sangat sayang sama menantu mama, kalau terjadi sesuatu padanya kau harus tanggung jawab ya!" wanita tua itu mengomeli Dimas seperti Gaby mengomeli Divo. Ia sangat menyayangi sang menantu karena Gaby adalah tipe wanita yang selalu mendengar semua nasehat orang tua. Melihat bagaimana Gaby memperlakukan Ananda seperti layaknya ibu kandung sendiri membuat sang mama mertua merasa bersyukur karena menantunya tergolong anak yang berbakti. Jika dengan Ananda saja Gaby bisa rukun, maka mama yakin bahwa mereka juga pasti bisa hidup rukun berdampingan, dan itu jarang terjadi mengingat stigma ibu tiri dan ibu mertua tidak pernah akur dengan anak tiri atau menantu perempuannya.


"Maaf ma" lagi-lagi dengan wajah sedih.


"Minta maaf sama istrimu, tebus kesalahanmu dengan menjadi suami yang lebih baik lagi mulai sekarang!" kekesalan mama memuncak.


"Iya ma" angguknya.


"Sayang, tapi bagaimana kondisimu saat ini?" setelah puas mengomeli Dimas, mama kini beralih ke Gaby.


"Baik ma, mudah-mudahan lancar sampai hari lahir nanti" Gaby tersenyum, meskipun ia masih gentar, namun wanita hamil itu tidak ingin lagi mengungkit kekesalan serta kekhawatirannya. Baginya asal bisa melahirkan dengan selamat saja sudah cukup.


"Cucu grandma, jangan nakal ya nak, bantu mamamu nanti waktu mau cari jalan lahir ya, kasihan mama kalau nanti perutnya sakit lagi, oke!?" ucap wanita tua itu di perut Gaby.


"Siap grandma" jawab Gaby dengan suara anak kecil, membuat sang ibu mertua terkekeh geli.

__ADS_1


__ADS_2