
TOK TOK TOK
"Permisi tuan Dimas, ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda" kata sekertarisnya kepada Dimas di ruang kerjanya.
"Siapa?" tanya Dimas penasaran.
"Seorang wanita, namanya Vita, ia mengaku sebagai kekasih Anda" jawab sang sekertaris.
"Baiklah, aku akan menemuinya di ruang tunggu, suruh dia tunggu di situ!" kata Dimas kemudian.
"Baik tuan, saya permisi" kata sang sekertaris dengan hormat.
"Ckck, mau apalagi sih dia!" Dimas berdecak kesal.
"Kau harus selesaikan ini dengan segera, kalau tidak ini akan jadi petaka bagi hubunganmu dan Gaby!" Ron yang kebetulan sedang berada di ruangan Dimas menasehatinya.
"Aku merasa sudah selesai uncle!" Dimas geregetan.
"Tapi tidak dengannya, dia masih membutuhkanmu untuk mendompleng popularitasnya!" kata Ron menganalisis situasi.
"Aku sarankan kau ceritakan hubunganmu dengan Vita kepada Gaby segera, dia harus dengar dari mulutmu sendiri sebelum terjadi salah paham karena lebih dulu mendengar dari orang lain, apalagi sampai memergoki kalian berdua yang mungkin saja tidak ada apa-apa, namun karena dia sudah terlanjur cemburu buta maka semua bisa jadi kacau. Aku pernah mengalami ini dengan Ayu dulu saat baru pertama kali menikah dan aku sangat bahagia karena istriku bisa mengendalikannya, bahkan mantanku itu benar-benar dipermalukan di depan umum oleh Ayu!" Ron mengenang saat Ayu mempermalukan Denise dengan cara yang elegan.
"Iya, aku juga berencana menceritakannya kepada Gaby setelah ini, aku sudah tidak mau berurusan lagi dengan Vita, dia adalah bagian dari masa laluku yang sudah aku kubur dalam-dalam!" kata Dimas dengan entengnya mengingat bagaimana Vita selama sepuluh tahun ini hanya menjadikannya boneka saja.
"Bagus, sekarang lebih baik kau temui Vita dan selesaikan semuanya!" Ron menggerakkan tangannya seperti sedang mengusir Dimas dari ruang kerjanya sendiri.
..........
Sementara itu di ruang tunggu yang sekaligus merangkap menjadi ruang kerja keempat sekertaris petinggi perusahaan Anderson, sesaat sebelum Dimas menemui Vita dan masih mengobrol dengan Ron di ruangannya:
"Selamat siang, apa tuan Dimas ada di ruangannya?" tanya Gaby dengan ramah kepada para sekertaris direktur yang meja kerjanya berjajar rapi di depan lift khusus direksi.
"Selamat siang, Ada nona, silahkan masuk saja langsung!" kata salah satu tim sekertaris itu kepada Gaby dengan sopan.
"Hey, tunggu! kenapa dia bisa langsung masuk sementara aku harus menunggu di sini?" Vita protes kepada sang sekertaris.
"Maaf Anda siapa ya?" Gaby bertanya dengan sopan.
__ADS_1
"Aku kekasihnya Dimas!" jawab Vita dengan menatap tajam Gaby dari atas sampai bawah.
"Kekasih Dimas?" Gaby terlihat bingung.
"Iya, memangnya kau tidak pernah lihat TV apa? berita tentang hubungan kami sudah beredar sejak sepuluh tahun lalu!" kata Vita dengan sombongnya, sementara Gaby masih mencerna semua informasi ini dalam diam. Sejujurnya Gaby memang jarang sekali melihat TV apalagi acara gosip yang beredar tentang artis-artis ibukota.
"Sayang?" tiba-tiba suara Dimas membuat dua gadis itu berbalik melihat ke arah Dimas.
"Sayang?" Vita dan Gaby pun merespon Dimas dengan serentak, membuat keduanya saling bertatapan tajam.
"Ada apa kau datang kemari sayang?" Dimas merangkul pinggang Gaby dan mengecup pipinya mesra di hadapan Vita, membuat gadis itu murka.
"Apa-apaan ini Dimas?" Vita berkacak pinggang.
"Halo Vita, apa kabar? Oya, kenalkan ini Gaby tunanganku, sebentar lagi kami akan menikah!" kata Dimas dengan senyum kemenangan.
"Dimas, kau berselingkuh di belakangku?" Vita meninggi.
"Selingkuh? ckck apa kau lupa kalau kita sudah putus? itu artinya aku pria bebas yang bisa menjalin hubungan kembali dengan gadis manapun!" Dimas berkata dengan percaya diri.
"Aku lelah Vita, sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menunggumu, mau sampai kapan aku harus bersabar? usiaku sudah lebih dari cukup untuk menjalin hubungan yang lebih serius ketimbang hanya berpacaran yang tidak jelas kemana arah tujuannya!" Dimas menggenggam tangan Gaby lalu mengecupnya dengan mesra, menunjukkan bahwa gadis pilihannya ini adalah gadis yang jauh lebih baik dari Vita.
"Dimas!" Vita kembali berteriak.
"Aku minta sekarang pergilah, jangan pernah buat keributan di sini dan anggap kita tidak pernah kenal!" Dimas berkata dengan santai.
"Aku tidak mau!" Vita menolak.
"Kalau kau tidak mau, maka terpaksa aku yang akan mengeluarkanmu dari kantor ini!" Dimas berbicara tanpa beban.
"Tidak bisa!" Vita bersikeras.
"Panggilkan security!" Dimas menoleh kepada sekretarisnya.
"Baik tuan" jawab sang sekertaris.
"Aku tidak mau putus denganmu dan kau lihat saja nanti karena sudah merebut Dimas dariku!" Vita memberontak saat dua security menariknya masuk ke dalam lift.
__ADS_1
"Hufffff, ayo sayang kita masuk" Dimas mengajak Gaby yang masih syok masuk ke dalam ruangannya.
"Siapa dia sebenarnya sayang?" tanya Gaby dengan bingung. Ia berusaha untuk tidak terbawa emosi meskipun pada kenyataannya dia cemburu.
"Ini, bacalah semuanya agar kau paham siapa dia!" Dimas memberikan ponselnya yang sudah menampilkan deretan pesan singkat antara dirinya dan Vita sejak lama, dimana Dimas selalu mengajaknya menikah namun Vita selalu menolak dengan sejuta alasan.
"Jadi kalian sudah lama berpacaran dan baru saja putus?" Gaby berkata lirih.
"Dengarkan aku, meskipun kami sudah berpacaran selama sepuluh tahun, tapi saat ini hatiku sudah hambar terhadap dirinya, hanya kau yang ada di sini!" Dimas menarik tangan Gaby kedadanya.
"Apa benar?" Gaby masih diliputi rasa ragu.
"Kalau kau tidak percaya padaku, kau bisa tanya kepada uncle Ron, dia tau persis bagaimana hubunganku dengan Vita selama ini, dan tidak mungkin kan dia berbohong pada keponakannya sendiri hanya untuk membelaku yang bukan siapa-siapa ini kalau bukan karena sebuah kejujuran?" Dimas yang jujur merasa tidak takut sama sekali.
"Baiklah, aku percaya padamu!" Gaby kemudian tersenyum lembut.
"Dim" Ron melongok ke ruang kerja Dimas.
"Uupsss ada Nona toh!" Ron menggoda Gaby yang ternyata sedang berada di ruangan Dimas.
"Ah uncle, kebetulan kau datang, bisa tolong aku ceritakan bagaimana hubunganku dengan Vita? sepertinya permaisuriku membutuhkan penjelasanmu!" Dimas merasa senang dengan kehadiran Ron yang tanpa sengaja itu.
"Apa mereka bertemu barusan?" Ron penasaran.
"Begitulah, aku hanya tidak ingin nyonya Dimas ini salah paham!" kata Dimas sambil mengelus kepala Gaby.
Kemudian tanpa menunggu lagi Ron pun bercerita tentang hubungan Dimas dan Vita sebanyak yang ia tau. Kronologisnya sama persis seperti yang ada di ponsel Dimas, membuat Gaby lebih yakin bahwa Dimas adalah pria yang jujur.
"Jadi nyonya sudah percaya kan sekarang?" tanya Dimas kepada tunangannya itu.
"Iya aku percaya!" kata Gaby kemudian.
"Ngomong-ngomong apa imbalan untukku yang sudah banyak mengeluarkan energi untuk bercerita hah?" tanya Ron kepada Gaby.
"Ahhh ini, aku bawakan bekal untuk uncle!" Gaby hari ini memang sengaja membawa makan siang sebanyak sepuluh porsi untuk dimakan bersama dengan Mike, Ron, George, Dimas dan juga para sekertaris.
Mereka berlima pun kemudian makan dengan nikmat di ruang rapat, sementara para sekertaris lebih memilih makan di meja mereka karena sungkan jika harus bergabung dengan para petinggi.
__ADS_1