Malaikat Kecilku Gabriella

Malaikat Kecilku Gabriella
Berkumpul di Rumah Utama


__ADS_3

"Halo selamat pagi!" Dimas menyapa semua cucu Anderson yang berada di ruang keluarga Rumah utama dengan ceria.


Seperti kebiasaan mereka, keluarga Anderson memang hampir selalu menghabiskan akhir pekan mereka di rumah utama bersama-sama dengan keluarga besarnya.


"Halo kak!" empat krucil membalas sapaan Dimas secara serentak.


"Sayang, sudah datang?" Gaby menengok ke arah Dimas.


"Wajahmu kenapa sayang?" Dimas bertanya dengan menahan senyum geli saat melihat wajah Gaby yang penuh dengan coretan lipstick.


"Kakak kalah main terus, jadi sebagai hukumannya harus dicoret hahahahahahaha" Raf menceritakan kronologisnya dengan terbahak-bahak.


"Mereka curang, bersekongkol membuat aku selalu kalah!" Gaby mengadu kepada Dimas.


Sesungguhnya Gaby memang sengaja mengalah supaya adik-adiknya merasa senang, karena pada kenyataannya permainan yang mereka mainkan sangatlah mudah.


"Ih kakak saja yang tidak pandai bermain!" Richard tidak terima dikatakan curang.


"Iya, kakak kan dari tadi tidak fokus!" Sera membela Richard.


"Iya benar!" Rachel pun tidak mau kalah.

__ADS_1


"Ya sudah iya, kakak memang tidak bisa main!" Gaby berpura-pura cemberut, membuat semuanya tergelak.


"Coba kak Dimas ikut main" kata Dimas kemudian mengambil alih posisi Gaby.


"Sayang, kita tidak jadi pergi?" Gaby protes karena Dimas malah memilih bermain dengan keempat adiknya.


"Sepertinya bermain bersama mereka lebih seru!" kata Dimas dengan santai.


"Yahhhh sayang!" Gaby cemberut.


"Memangnya kakak mau ke mana?" tanya Sera penasaran.


"Wajahmu sudah jelek sayang, kalau ditekut jadi tambah jelek saja!" kata Dimas dengan geli.


"Issshhh menyebalkan!" Gaby makin cemberut membuat semua orang tergelak.


Setelah pertunangan Gaby dan Dimas dilangsungkan satu Minggu yang lalu, hari-hari mereka kini dilalui dengan penuh kebahagiaan. Tidak ada lagi air mata kesedihan dan hati yang hancur.


..........


"Jadi bagaimana dengan rekrutmen karyawan baru di kantor pusat Dim?" tanya Mike kepada Dimas saat mereka sekeluarga besar sedang makan siang bersama.

__ADS_1


"Sudah dilakukan oleh tim HRD yah" jawab Dimas.


Kini Dimas memang sudah mulai mengubah semua panggilannya kepada seluruh keluarga Anderson mengikuti Gaby.


"Oya kata tim HRD, anak Om George yang bernama Gamaliel Sangkakala juga ikut dalam daftar seleksi penerimaan karyawan baru, apakah tidak apa-apa yah? karena mereka jadi tidak enak hati dengan Om George, seharusnya kan dia bisa dengan mudah masuk bekerja tanpa seleksi!" tanya Dimas kepada calon mertuanya.


"Tidak apa-apa, justru George sendiri yang memintaku untuk tidak melakukan nepotisme jabatan, ia mau kalau putra sulungnya itu masuk karena memang kompeten!" jawab Mike dengan tegas.


Mike sangat paham bahwa sahabatnya tidak suka dengan sesuatu yang tidak sesuai prosedur, oleh karena itulah ia membiarkan anaknya masuk lewat jalur umum layaknya karyawan yang lain.


"Baiklah kalau begitu" Dimas mengangguk paham.


"Lalu bagaimana dengan proyek hotel yang ada di kota penyangga?" tanya Ron kemudian.


"Terakhir kali laporannya sudah sampai tahap pembangunan pondasi, seharusnya sekarang sudah ada peningkatan uncle" jawab Dimas.


"Good job, aku harap semuanya bisa berjalan sesuai target kita!" kata Ron.


"Semoga saja uncle, aku akan terus pantau semuanya dengan ketat!" jawab Dimas.


Untuk urusan perkembangan perusahaan, Dimas memang tidak perlu diragukan lagi. Ia sangat bisa diandalkan dan dengan mudah ia juga bisa menguasai semua lini yang ada di lapangan. Kehadiran Dimas di tengah keluarga Anderson memang menjadi sebuah anugerah tersendiri, selain sebagai calon menantu yang sangat mencintai cucu tertua Anderson, ia juga bisa diandalkan menjadi penerus pemegang tampuk kepemimpinan bisnis keluarga bersama Mike dan Ron serta George.

__ADS_1


__ADS_2