
"Mama dan Papa beneran tidak mau mampir ke rumah dulu?" Gaby sedih karena mertuanya bergegas pulang setelah semua rangkaian acara pesta selesai.
"Maaf ya nak, bukan kami tidak mau, tapi papamu ada tanggung jawab besar yang harus dijalankan" mama menatap wajah cantik sang menantu.
"Lain kali mama dan papa pasti akan menginap di rumahmu nak, kami janji" kata mama Dimas lagi.
"Baiklah, hati-hati di jalan ya ma, pa" kata Gaby dengan berat.
"Kami pulang ya" Setelah berpamitan kepada anak dan menantunya serta seluruh keluarga besar Anderson, mereka pun akhirnya pulang ke rumah.
Ayah Dimas yang seorang kepala rumah sakit besar di kota kelahiran Dimas memang cukup sulit untuk dapat pergi sesuka hatinya dalam jangkan waktu yang lama. Ia hanya bisa pergi beberapa hari jika sudah meminta ijin terlebih dahulu dan mencari penggantinya agar urusan rumah sakit tidak terbengkalai.
...........
"Sayang, ayo!" Dimas merangkul pinggang sang istri sesaat setelah tiba di rumah baru mereka yang dihadiahkan oleh Mike dan Ananda.
"Sayang!" Gaby terpekik saat Dimas yang sudah tidak sabar langsung menggendong sang permaisuri hatinya dan membawanya ke kamar mereka.
"Aku sudah tidak sabar ingin melanjutkan yang semalam!" Bisik Dimas di telinga istrinya.
"Inikan masing siang, lagi pula kalau nanti ada yang melihat bagaimana?" Gaby tidak menyangka jika suaminya yang sebelum menikah dengannya adalah seorang pria lugu, kini berubah menjadi sangat agresif.
"Aku sudah meminta semua orang untuk tetap di kamar masing-masing jika tidak dipanggil" Dimas memberitahu sang istri.
"Astaga!" Suaminya ternyata benar-bener sudah mempersiapkan rencana kepulangan mereka dengan matang.
Tanpa menunggu lagi, setibanya di kamar, Dimas pun langsung mulai melakukan pemanasan.
"Sayang, aku ingin mandi dulu biar segar" Gaby minta untuk dilepaskan.
__ADS_1
"Kita mandi bersama ya?" Dimas pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk dapat melakukan kegiatan mereka di kamar mandi dengan sensasi yang baru.
"Ihhhhh nakal!" Gaby hanya bisa pasrah saat kemudian sang suami menggendongnya kembali masuk ke dalam kamar mandi yang mewah di dalam kamar mereka.
"Ishhhhhh ahhhhhhh" Gaby mendesah saat tangan Dimas sudah tidak dapat dikondisikan dan mulai menelusup ke bagian dalam pakaian yang dikenakannya.
"Eungghhhhhh" Gaby bergelinjang ketika suaminya menyentuh titik sensitifnya dan mulai melucuti pakaian mereka satu persatu hingga tidak tersisa satupun di tubuh mereka.
"Sayang akuuuuu" Gaby bergetar hebat saat Dimas melancarkan aksinya yang luar biasa memabukkan sang istri.
"Lepaskan sayang, ayo jangan ragu" Dimaa terus bergerak dengan ritme cepat membuat sang istri semakin tidak menentu.
"Ahhhhhhh akuuuu ahhhhhhhhhh" Gaby memeluk suami dengan erat melepaskan semuanya.
"Kau sangat membuatku kecanduan sayang" Dimas tidak memberikan jeda kepada sang istri untuk beristirahat, ia terus saja bergerak ddngan tempo yang membuat istrinya terus bergetar hebat.
"Ayo sayang kita lepas bersama" Dimas mulai mengubah modenya menjadi lebih powerful.
"Arghhhhhhhhhhh" Keduanya bergetar hebat dan terbang melayang dalam waktu yang bersamaan.
Setelah semuanya tuntas, merekapun segera membersihkan diri dan kemudian beristirahat di tempat tidur.
"Terima kasih sayang karena kau sudah memberikan kesempurnaan di dalam hidupku" Dimas mengeratkan pelukannya kepada sang istri kemudian mengecup kening Gaby.
"Aku yang seharusnya berterima kasih karena telah mendapat suami yang sempurna" Gaby menatap sang suami dengan penuh cinta.
"I love you my wife"Dimas mengecup lembut bibir mungil Gaby.
"I love you more hubby" Gaby mengelus rahang suaminya yang kokoh dan tegas.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong aku penasaran, sejak kapan kau mencintaiku?" tanya Dimas kepada sang istri.
"Ishhhh suami macam apa ini yang tidak peka" Gaby berpura-pura cemberut.
"Maafkan aku ya karena tidak peka" Dimas meras bersalah.
"Hehehe, aku hanya bercanda kok" Gaby terkekeh.
"Jadi sejak kapan?" Gaby kembali ke topik pembicaraan.
"Sejak kau menyelamatkan aku dari tangan penjahat yang menyekapku sepuluh tahun lalu" jawab Gaby sambil menerawang jauh ke masa lalu tepatnya sepuluh tahun silam, saat Dimas menyelamatkannya dari penculik yang ingin merebut mahkotanya.
"Benarkah?" Dimas tidak percaya jika sang istri sudah mencintainya sejak usianya masih tiga belas tahun, bahkan sebelum ia mengalami menstruasi.
"He em, sejak saat itu bagiku kau adalah pahlawan sejati, aku bahkan menolak untuk didekati oleh pria manapun karena aku sangat berharap kaulah yang menjadi jodohku. Setiap kali ada kesempatan mengucapkan 'wish' aku berdoa supaya kau menjadi jodohku dan ayah dari anak-anakku kelak dan Tuhan sangat baik karena doaku dikabulkan" Gaby tersenyum manis saat mengatakannya.
"Sayang, aku tidak tau harus berkata apa lagi" kata Dimas saat dirinya tersadar betapa sang istri sangat mencintainya.
"Terima kasih, terima kasih karena sudah mau menungguku yang tidak peka ini" Dimas menghujani sang istri dengan kecupan cintanya.
"I'm so happy to have you beside me baby!" Dimas menitikkan air mata bahagia.
"Aku juga sangat bahagia karena doa dan harapanku kini sudah menjadi kenyataan da kau menjadi suamiku" Gaby menghapus air mata Dimas dan mengeratkan pelukannya.
Mereka terus mengobrol dari hati-kehati sepanjang sore hingga waktu makan malam tiba.
"Ayo kita turun, aku sudah meminta pelayan untuk menyiapkan makan malam kita!" Dimas membantu Gaby mengenakan pakaiannya setelah ia sendiri sudah siap dengan pakaian santainya.
Mereka pun menikmati makan malam romatis berdua di istana megah yang akan menjadi forever home untuk keturunan mereka kelak. Karena setelah melewati diskusi, Dimas dan Gaby ingin menghargai kedua orang tuanya dengan tetap tinggal di sini, meskipun kelak Dimas akan tetap membeli rumah dengan hasil keringatnya sendiri, namun itu akan mereka pergunakan hanya sebagai rumah singgah atau villa saja.
__ADS_1