
"Ma, malam ini bobok di kamar yuk, papa kangen banget sama mama loh" Dimas membujuk sang istri yang sudah genap satu minggu tidak mau tidur di dalam kamar.
"Enggak ah, mama masih mau tidur sama Sera dan Rach" Gaby menolak dengan keras.
"Mama kok tega sih, papa udah kayak jomblo ngenes loh ma seminggu ini" Dimas memasang wajah memelas.
"Ini kan bawaan orok pa, papa kayak gak pernah punya anak aja sih" Gaby tetap teguh pada pendiriannya.
"Iya papa tau, tapi masa cuma satu malam saja gak bisa sih ma, papa tuh bener-bener kangen sama mama" Dimas sudah kehabisan akal membujuk sang istri.
"Makanya, siapa suruh papa lancang bikin mama hamil lagi!?" Gaby melengoskan wajahnya.
"Ya namanya juga kebobolan ma, kan papa juga gak niat" pria tampan itu membela diri.
"Masa? yakin papa gak niat ngehamilin mama?" cibir wanita itu.
"Mama gak percaya sama papa?" Dimas mulai khawatir jika rahasianya terbongkar.
"Tau deh, papa pikir aja sendiri!" Kemudian wanita itu pergi melenggang begitu saja.
"Maaaa plissss" Dimas memohon sambil memeluk sang istri dari belakang saat Gaby sudah nyaris keluar dari dalam kamar mereka setelah selesai mandi pagi.
"Oke, mama mau tidur satu malam sama papa di kamar, tapi ada syaratnya!" Gaby menyetujui permohonan sang suami dengan syarat.
"Apa?" Dimas berbinar-binar.
"Mama mau papa masakin mama belalang goreng dulu, tapi belalangnya harus nangkep sendiri di kebun belakang rumah kita!" Gaby menjelaskan syaratnya.
"Ma yang benar saja, papa kan gak pernah nangkep belalang ma!?" Dimas memelas.
__ADS_1
"Ya terserah papa sih, kalo mau tidur sama mama ya lakukanlah, tapi kalo enggak juga gakpapa kok mama gak rugi-rugi amat!" katanya sambil mengangkat bahu.
"Tapi papa gak yakin berhasil kalo ngerjain sendiri ma" Dimas masih mencari alasan.
"Kalo papa butuh bantuan, papa kan bisa minta tolong sama dua pengawal papa yang selalu nempel kemana-mana sama papa itu!" Gaby melipat kedua tangannya di depan dada.
"Dua pengawal?" sang suami kebingungan.
"He em, Gamal dan Gide, manfaatkan tenaga mereka untuk menyelesaikan syarat ini!" Angguk ibu hamil itu dengan senyum licik yang terpancar jelas di wajahnya.
"Huffff ya sudah, nanti papa carikan deh belalangnya bareng sama Gamal dan juga Gide" dengan berat hati ia pun menyetujui persyaratan dari sang istri.
..........
"What? mencari belalang di kebun belakang!?" Gamal terkejut saat Dimas meminta bantuannya.
"Apa tidak bisa beli saja? mungkin ada di toko online!" Gide memberi usul.
"Gaby kan hamil anakmu, kenapa kami ikut-ikutan kena sial sih?" Gamal menolak.
"Hey, apa kau lupa itu ide siapa yang membuat Gaby hamil lagi? jadi sudah seharusnya kan yang seperti ini juga kau ikut bertanggung jawab!" Dimas mengingatkan perihal taruhan mereka.
"Ya sudah jangan berdebat, gini saja, sekarang lebih baik kita bertiga saling membantu saja, kan sekarang istri kita bertiga sedang hamil dan dalam masa ngindam, firasatku mengatakan kalau dalam beberapa waktu kedepan kita pasti akan direpotkan oleh ngidamnya mereka, jadi lebih baik kita bertiga kompak saja, toh ini memang sudah jadi konsekuensi kita menghamili mereka kan!?" Gide berusaha bijaksana.
"Nah iya, itu maksudku, sekarang kalian bantu aku dulu, besok-besok aku pasti akan bantu kalian kalau istri kalian ngidam!" Dimas bahagia.
"Ya sudah baiklah, kalau begitu aku setuju!" Gamal pada akhirnya mengangguk.
..........
__ADS_1
"Ayo papa Dimas, semangat!" Gaby yang melihat suaminya frustasi mengejar-ngejar belalang yang lompat kian kemari tersenyum puas karena bisa mengerjai pria tampan itu.
"Syeba lihat, papa Gamal lagi mainan belalang tuh" Sera yang sedang menggendong putrinya menunjuk sang suami yang memegang belalang dengan ekspresi geli bercampur takut.
"Yeyyyy papa Gide dapat!" Rachel melonjok kegirangan saat Gide menangkupkan kedua telapak tangannya yang berisi belalang.
"Arrrggggghhhhh kenapa lepas lagi sih!" Dimas yang sejak tadi hanya lari-larian tanpa hasil berteriak dengan kesal.
"Yahhhh dia loncat!" Gamal mengejar belalang yang kabur dari toples.
"Dimas bantu aku, ini besar sekali!" Gide berteriak saat melihat belalang jumbo di dahan sebuah pohon.
"Mana?" Dimas mengedarkan pandangannya.
"Itu, cepat jaga di sana!" Gide mengendap-endap dari sisi kanan, sementara Dimas dari sisi kiri.
"Yahhhh terbang" Dimas hanya berteriak saja, namun tidak bergeming dari tempatnya sama sekali.
"Ya dikejar dong, kenapa kau hanya diam saja!" Gide yang merasa Dimas tidak ada usaha sama sekali jadi gemas sendiri.
"Sudah jauh" Dimas mengangkat bahu sambil nyengir kuda.
"Ah dasar kau ini!" ingin rasanya Gide menggetok kepala kakak iparnya itu dengan martil saking kesalnya.
"Ck, kau ini payah sekali sih jadi laki-laki, kalau tidak ada kami pasti sampai anakmu lahir juga belalangnya tidak ada yang bisa kau tangkap!" Gamal berdecak mencibir sang kakak ipar yang sama sekali tidal berhasil menangkap satu pun belalang sejak tadi.
"Itulah fungsinya brotherhood, jadi meskipun aku payah tapi dengan dukungan kalian semua, aku bisa tetap membahagiakan istriku!" jawabnya dengan santai.
"Cih!" Gamal berdecih dengan raut yang mengejek.
__ADS_1
Cukup lama ketiga pria itu berpetualang di kebun untuk menangkap belalang sebelum akhirnya mereka berkutat di dapur untuk menggorengnya. Dengan hanya memakai kaos oblong dan celana pendek, tidak akan ada yang menyangka bahwa ketiganya adalah orang-orang penting di perusahaan raksasa sekelas Anderson.
"Permainan baru dimulai sayang, lihatlah nanti, akan ada permainan permainan berikutnya yang membiat kalian lebih frustasi dari ini!" Gaby, Sera dan Rachel tersenyum puas melihat ketiganya sibuk.