
Sementara Gaby dan Dimas yang berada di danau sedang dimabuk asmara karena perasaan mereka ternyata sama-sama saling mencintai, keluarga besar Anderson berkumpul di rumah utama karena keesokan harinya adalah tanggal merah dan semua cucu Anderson merengek ingin menginap di rumah grandmanya, kecuali Gaby yang memang tetap akan sibuk bekerja di hari libur.
"Sial!" Mike memekik saat pesan masuk muncul di ponselnya dan menunjukkan beberapa gambar Gaby yang sedang bermesraan dengan Dimas di pinggir danau.
"Ada apa sih?" tanya Ron penasaran saat melihat sang kakak menunjukkan ekspresi kesal.
"What!!!???" Ron langsung terperangah melihat update photo terbaru yang dikirimkan oleh bodyguard bayaran Mike yang selalu mengikuti Gaby kemana pun gadis itu pergi.
"Beraninya bocah itu menyentuh putriku!" Mike terlihat emosi.
"Wait, sabar, jangan emosi!" Ron seperti sengaja menggoda Mike.
"Bagaimana aku tidak emosi hah!?" suara Mike meninggi.
"Ada apa sih kalian ini selalu saja ribut-ribut?" Ananda yang mendengar suara sang suami meninggi langsung menengok ke arah kedua pria paruh baya itu.
"Lihat ini kakak ipar!" Ron menyodorkan ponselnya kepada Ananda sambil mengulum senyum geli.
__ADS_1
"Ya Tuhan!?" kini giliran Ananda yang syok melihat gambar sang putri sedang berciuman dengan seorang pria.
"Ada apa kak?" Ayu yang juga ikut penasaran kemudian terbelalak melihatnya.
"Mana, Mama mau lihat!" kemudian duo grandma melihat secara bersamaan.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa" nyonya Merlyn terlonjak girang.
"Astaga Mama, kenapa mesti berteriak sih!?" Mike terkejut karena suara sang Mama yang memenuhi seluruh ruang keluarga.
"Maaaaaaaaa" kini Ananda yang protes kepada mertuanya, ia merasa semuanya terlalu cepat, Putri yang dianggapnya selama ini masih kecil tidak terasa sudah dewasa dan mulai merasakan jatuh cinta.
"Memangnya kenapa, apa yang salah dari mereka?" nyonya Ruth memicingkan mata.
"Iya, Mama rasa mereka sangat serasi!" kata nyonya Merlyn.
"Aku setuju dengan duo grandma!" kata Ron sambil merangkul kedua ibunya itu.
__ADS_1
"Gaby masih terlalu muda!" Ananda mencari alibi untuk ketidak siapannya. Dia lupa kalau beberapa waktu lalu dirinya sempat menanyakan tentang jodoh kepada putrinya itu.
"Apa lagi sih yang ditunggu? cucuku itu sudah cukup dewasa, usianya saja sudah dua puluh tiga tahun. Apa kau lupa dulu kau menikah umur berapa?" nyonya Merlyn menyudutkan Ananda.
"Aku juga belum yakin dengan Dimas!" kata Mike mendukung sang istri.
"Oh come on Mike, apa ujian kemarin belum cukup untuk meyakinkan hatimu bahwa Dimas adalah kandidat yang paling tepat bagi Gaby?" Ron mengingatkan sang kakak.
"Ujian apa?" tanya duo grandma serempak. Membuat Ron mau tidak mau menceritakan semua rencananya kepada yang lain.
"Wahhhh kalau begitu lanjutkan saja rencana pertunangan yang kalian ceritakan kepada Dimas itu, buat Dimas dan Gaby benar-benar bertunangan tanpa sepengetahuan mereka!" kata nyonya Merlyn.
"Maksud Mama?" tanya Mike penasaran karena tidak paham dengan ucapan sang mama.
Dengan semangat akhirnya nyonya Merlyn memberikan usulnya, ditambah polesan sedikit dari Ron dan Nyonya Ruth yang juga mendukung, akhirnya jadilah skenario yang sangat matang untuk mempersiapkan pertunangan Gaby dan Dimas.
Sementara Ananda dan Mike hanya bisa pasrah. Meskipun dengan berat hati melepas putrinya, namun mereka juga tidak melarangnya karena mereka juga beranggapan bahwa Dimas adalah kandidat yang tepat. Lebih lagi hubungan diantara keduanya memang dilandasi oleh rasa saling cinta satu sama lain.
__ADS_1