Malaikat Kecilku Gabriella

Malaikat Kecilku Gabriella
Pajamas Party


__ADS_3

TRING,


Pesan di grup keluarga Anderson berbunyi.


"Aku ngidam" pesan dari Gaby dengan emoticon wajah memelas.


"Ngidam apa?" Ayu merespon dengan emoticon tanda-tanya besar.


"Pajamas party" kata Gaby lagi.


"Maksudnya kak?" Ananda masih belum paham.


"Aku mau kita semuanya berkumpul di rumah utama dengan kostum piyama dan tidur bersama di ruang keluarga dari malam sampai pagi" Gaby menjelaskan.


"Wahhhh serunya!" Grandma Merlyn memberi emoticon love.


"Ayo, ayo!" grandma Ruth juga sangat antusias.


"Ahhhhh kalau cuma itu sih gampang, ayolahhhh!" Ron meremehkan.


"Kapan?" tanya Mike.


"Malam Minggu besok ya?" Gaby tersenyum bahagia.


"Oke!" Ron menjawab enteng.


"Apa saja yang diperlukan nona?" tanya Maya.

__ADS_1


"Tidak ada Tante, kan hanya pajamas party jadi kita hanya akan pakai piyama dan foto-foto keluarga saja" jawab Gaby.


"Baiklah" jawab Maya.


..........


"What???? kau bilang pajamas party, kenapa jadi begini!!!" Ron mendengus kesal saat mereka sudah berkumpul di rumah utama seperti yang diharapkan oleh Gaby.


"Ini kan juga pajamas party uncle, hanya saja piyamanya aku yang pilihkan" kata Gaby sambil membagikan setiap pria di keluarga Anderson sepasang piyama dengan gambar karakter kartun lucu serta boneka serupa yang ia beli beberapa waktu lalu di mall bersama Dimas.


"Haissss kenapa sih anakmu belum lahir saja sudah merepotkan!" Ron kembali protes kepada Dimas.


"Daddy!" Ayu langsung memukul suaminya dan memberi tatapan membunuh.


"Oke-oke!" Ron akhirnya pasrah.


"Siapa bilang?" jawab Gaby dengan enteng.


"Jadi ini?" Dimas menatap piyama yang harus ia pakai dengan tatapan horor.


"Kau tidak mau memakainya?" Gaby langsung berkaca-kaca.


"Bukan begitu, aku hanya kaget saja" Dimas langsung memakainya tanpa banyak bicara lagi dari pada membuat sang istri semakin murung.


Sementara Mike, George dan Gamal hanya bisa pasrah mengikuti maunya Gaby tanpa banyak bicara meskipun dalam hati mereka sangat dongkol.


"Aunty bisa bantu make up karakter kan?" Gaby kemudian mengeluarkan palet make upnya yang semakin membuat para pria itu melongo.

__ADS_1


"Beresss!" Ayu dengan sigap mendandani suaminya terlebih dahulu.


"Sayang, aduh ini mau diapain sih?" Ron yang kesal terus saja mengomel karena wajahnya dirias ala-ala tokoh kartun seperti motif pakaian yang ia kenakan.


"Sudah ikuti saja, jangan banyak bicara!" kata Ayu sambil tersenyum melihat tampilan suaminya.


"Sayang mau apa?" Dimas tidak bisa berkutik saat Gaby mulai memoles wajahnya dengan kuas dan make up.


"Ikuti saja ya papa!" kata Gaby dengan suara khas anak-anaknya membuat Dimas menelan salivanya.


Ananda dan Maya yang awalnya kasihan, namun setelah melihat wajah Ron dan Dimas akhirnya jadi tertarik mencoba di wajah suami masing-masing.


"Bun, kau tega sekali!" Mike merengek seperti anak kecil.


"Sudah diam saja, demi cucu kita yah!" Ananda tersenyum geli melihat wajah tampan suaminya berubah drastis.


"Ma, ini papa kok kayak badut sih?" George pun protes kepada Maya.


"Demi ibu hamil paaaaa" jawab Maya santai.


"Aunty, jangan tebal-tebal ya!" Ayu yang sudah selesai dengan Ron pun beralih ke Gamal.


"Iyaaaa" jawab Ayu dengan santai namun justru semakin mempertebal make up nya di wajah Gamal.


"Kau ini masih diperut saja sudah menyusahkan para grandpa, awas saja kalau sudah besar tidak berbakti ya, ku jitak nanti kau!" Ron yang sudah selesai di make up dan tidak punya daya lagi untuk menolak segala keinginan Gaby akhirnya hanya bisa mengelus perut buncit sang keponakan sambil mengancam, membuat semua anggota keluarga terkekeh.


Sementara duo grandma dan cucu-cucu Anderson yang masih kecil sibuk mengambil gambar momen dimana para pria penguasa jagat raya bisnis dunia di aniaya oleh para istrinya.

__ADS_1


Malam itu pun menjadi malam yang sangat berkesan bagi keluarga Anderson. Bila kumpul keluarga pada hari-hari biasanya hanya dihabiskan dengan mengobrol atau nonton, maka kali ini berkat ngidamnya Gaby mereka semua merasakan kebahagiaan yang luar biasa, kecuali para prianya yang justru merasa teraniaya.


__ADS_2