Malaikat Kecilku Gabriella

Malaikat Kecilku Gabriella
Sadar


__ADS_3

"Sayang, bangunlah, buka matamu, lihat aku" Dimas tak henti-hentinya menangisi keadaan sang istri yang terbaring lemah di atas brankar rumah sakit.


"Nak, apa kau dengar papa bicara? ayo bilang sama mama untuk bangun, katakan kalau papa sangat mencintai mamamu!" Dimas mengelus sisi perut Gaby yang tidak terluka membuat Ayu dan Ron yang sejak tadi menemaninya terenyuh.


"Dim, ayo sarapan dulu, kamu belum makan sejak semalam kan?" Ayu menyodorkan sepiring nasi ke hadapan Dimas.


"Aku tidak lapar Aunty" jawab Dimas yang masih tetap tidak bergeming sedikitpun dari sisi Gaby sejak kejadian kemarin malam.


"Kalau kau tidak makan dari mana kau mau dapat kekuatan untuk menjaga istri dan anakmu? biar aunty suapin ya?" Ayu membujuk keponakannya.


Sejenak Dimas menatap sang aunty dan mencerna apa yang diucapkannya kemudian menerima piring nasi itu.


"Terima kasih" kata Dimas pada akhirnya.


"Makan yang banyak supaya tenagamu pulih dan bisa terus menjaga Gaby sampai sehat" kata Ayu yang merasa prihatin melihat kondisi sepasang suami istri itu.


"Pelan-pelan saja, jangan tergesa-gesa" kata Ron menambahkan dan dijawab anggukan oleh Dimas yang makan sambil terus menangis.


Meskipun rasa dari makanannya tidak bisa Dimas nikmati, setidaknya ia bisa mengisi perut agar tidak sakit dan tetep bertenaga, seperti yang dikatakan oleh sang aunty tadi.


..........


Sementara Ananda yang sejak semalam syok dengan kondisi putrinya, masih terbaring lemah di kamar rawat sebelah.


"Ayah, bunda mau ketemu kakak!" Ananda merengek kepada sang suami.


"Bunda istirahat dulu ya, nanti kalau sudah lepas infus baru kita ketemu kakak" Mike menenangkan sang istri.

__ADS_1


"Tidak, bunda mau sekarang juga!" Ananda bersikeras berusaha berdiri dari tempat tidurnya.


"Baiklah, tapi janji ya bunda tidak boleh histeris lagi seperti semalam!" Mike menatap wajah istrinya lekat.


"Iya" jawab Ananda dengan yakin.


Meskipun Ananda bukan ibu kandung yang melahirkan Gaby, tapi baginya Gaby tetaplah putrinya yang sangat ia sayangi sama seperti Raf dan juga Sera. Melihat kondisi Gaby yang kritis dan mempertaruhkan nyawa seperti saat ini membuat hatinya hancur berkeping-keping. Andaikan bisa memilih, ia akan meminta dirinya yang berada di kondisi Gaby saat ini. Ia rela melakukan apapun demi kebahagiaan sang putri, bahkan jika harus menggantinya dengan nyawanya sendiri.


"Kakkkkk, sayang, ini bunda nakkkk, cantik ayo buka matanya, tatap bunda" Ananda yang duduk di kursi roda mengelus pipi sang putri dengan penuh kasih sayang. Air matanya tidak bisa ia bendung, tubuhnya berguncang hebat menyaksikan bagaimana putrinya terbaring lemah dengan wajah pucat akibat kehabisan banyak darah.


"Ayah, kenapa kakak tidak bangun juga? kenapa kakak tidak dengar panggilan bunda?" Ananda mulai terisak.


"Bunnn, tadikan sudah janji tidak boleh begini, kita kembali ke kamar ya?" Mike mencoba menenangkan sang istri.


"Tidak, bunda mau di sini saja sampai kakak sadar!" Ananda menjawab dengan lugas.


..........


Setelah lebih dari dua puluh empat jam, akhirnya Gaby pun membuka matanya.


"Sayang, kau sudah sadar?" Dimas yang melihat istrinya membuka mata langsung mengembangkan senyum bahagiannya.


"Aku kenapa?" tanya Gaby yang masih bingung dengan situasi yang ada.


"Kau sedikit terluka, tapi tidak apa-apa" Dimas tidak ingin sang istri khawatir.


"Benarkah?" Gaby masih penasaran.

__ADS_1


"Sudah jangan terlalu banyak pikiran ya, sekarang aku panggilkan dulu dokternya untuk memeriksamu dan juga anak kita" kata Dimas sambil mengecup kening sang istri.


Setelah diperiksa oleh dokter, kini Gaby dinyatakan telah stabil, namun tetap harus istirahat total di tempat tidur selama beberapa waktu kedepan sampai benar-benar pulih.


"Kakkkk" Ananda yang sudah mendapat kabar tetang kesadaran sang putri pun langsung keluar dari kamar rawatnya dan melihat kondisinya secara langsung.


Sejak Ananda pulih dari pingsang dan dinyatakan sudah tidak apa-apa, Mike memang sengaja tetap memperpanjang sewa kamar rawat Ananda yang berada di sebelah kamar rawat Gaby untuk istrinya beristirahat sambil menunggu sang putri siuman.


"Bunda" Gaby tersenyum melihat sang bunda yang hadir di dekatnya.


"Apa yang sakit sayang?" Ananda mengelus wajah putrinya yang sayu.


"Aku baik-baik saja bun" jawab Gaby agar sang bunda tidak khawatir.


"Jangan bohong, bunda tau kakak menahan sakit" Ananda tau betul kalau putrinya itu memang tidak pernah ingin membuatnya khawatir.


"Hanya sakit sedikit kok bun" Gaby mencoba meyakinkan.


"Bunda bahagia melihat kakak bisa seperti ini, kakak harus cepat sehat ya, jangan bikin kami khawatir lagi" Ananda mengusap kepala Gaby dengan lembut.


"Maaf ya bun, kakak bikin bunda cemas" kata Gaby.


"Kakak tidak salah sayang, lagi pula bunda tidak marah kok, bagi bunda yang penting kakak baik-baik saja, itu sudah bikin bunda bahagia!" kata Ananda jujur.


"Terima kasih bun" Gaby menarik tangan sang bunda dan meletakkannya di pipinya, merasakan kehangatan kasih sayang seorang ibu sambung yang selama ini sudah membuatnya bisa terus bertahan hidup setelah kepergian Ariella sang ibu kandungnya.


Sementara Dimas yang berada di depan mereka hanya bisa menatap dengan penuh rasa syukur, betapa dalam kondisi terpuruk seperti ini pun ia tetap dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangi istrinya dengan tulus, sehingga bisa membantu istrinya pulih dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2