Malaikat Kecilku Gabriella

Malaikat Kecilku Gabriella
Panggilan Sayang


__ADS_3

"Mama dan Papa tidak ke Rumah Gaby dulu?" tanya Gaby kepada calon mertuanya.


"Lain kali saja nak, kami harus segera kembali karena besok papamu ada jadwal mengoprasi Pasie di rumah sakit" kata Mama Dimas sambil memeluk calon menantunya yang cantik itu.


"Hati-hati di jalan ya ma, pa" kata Dimas kemudian.


"Iya, kalian juga jaga diri ya, sehat terus sampai hari pernikahan nanti" Mama memberi nasehat.


"Iya ma" jawab Dimas dan Gaby serentak.


"Nyonya, tuan, kami pamit ya, terima kasih atas segalanya" kata Mama Dimas kepada seluruh keluarga Anderson.


"Hati-hati di jalan nyonya" Ananda memeluk calon besannya.


"Iya, terima kasih, saya titip Dimas ya nyonya" kata Mama Dimas lagi.


"Iya nyonya tenang saja, sekarang Dimas sudah menjadi bagian keluarga kami" kata Ananda dengan ramah.


"Terima kasih" Mama Dimas tersenyum bahagia melihat bagaimana Dimas diperlakukan dengan baik oleh keluarga bos besarnya yang kini akan menjadi mertuanya.


"Mari semuanya, kami pamit undur diri" kata Papa Dimas sambil menunduk hormat.


"Hati-hati di jalan" kata semua orang mengantar kepergian besan keluarga Anderson itu.


Setelah keluarga besan pergi, keluarga Anderson pun kemudian bersiap untuk pulang.

__ADS_1


"Sera, Rachel, kalian pulang sama bunda dan ayah ya, biar kak Gaby dan Kak Dimas naik mobilnya berdua saja" kata Ananda kepada dua gadis ciliknya itu.


"Iya bun" jawab Sera dan Rachel dengan kompak.


Ia sengaja ingin memberikan ruang privasi bagi Gaby dan Dimas yang baru saja bertunangan agar bisa lebih leluasa berbicara dari hati ke hati setelah sebelumnya di prank oleh seluruh keluarga.


"Raf dan Richard sama Mommy dan Daddy seperti tadi kan?" Ananda memastikan kedua bocah laki-lakinya.


"Iya, mereka sama kami lagi saja" jawab Ayu sambil merangkul bahu keduanya.


"Duo grandma hati-hati ya, nanti kita bertemu di rumah" kata Ananda kepada kedua ibu mertuanya sebelum membuka pintu mobil untuk mempersilahkan keduanya masuk.


"Oke" kemudian semua orang masuk ke dalam mobil dan kembali pulang ke rumah Mike.


..........


"Ya nona" jawab Dimas sambil mengecup tangan Gaby.


"Ini kita benar sudah tunangan?" Gaby masih belum percaya seratus persen.


"Memangnya nona tidak yakin?" Dimas menoleh sesaat sebelum akhirnya kembali melihat ke arah depan.


"Aku masih seperti mimpi" kata Gaby.


"Kalau nona saja seperti mimpi, apalagi saya yang seperti mustahil bisa menjadi tunangan seorang putri cantik seperti anda" jawab Dimas sambil kembali mengecup tangan Gaby.

__ADS_1


"Ishhhh gombal!" Gaby tersipu malu.


"Saya tidak gombal nona, ini sungguhan" Dimas kemudian menghentikan mobilnya di tempat yang agak sepi.


"Anda adalah sesuatu yang sangat berharga bagi saya, selama ini saya tidak berani terlalu bermimpi muluk untuk mendapatkan Anda" Dimas menatap tajam ke arah tunangannya itu.


Gaby yang merasa tersanjung langsung menghadiahkan Dimas sebuah ciuman lembut di bibirnya yang lama kelamaan semakin dalam dan menuntut. Sejenak mereka meluapkan rasa bahagianya setelah selama beberapa hari belakangan ini hidup mereka bagaikan roller coaster yang naik turun tidak karuan.


"Ayo kita pulang, yang lainnya pasti sudah menunggu di rumah" Dimas kemudian menjalankan kembali mobilnya.


"Iya, ayo" Gaby mengangguk.


"Oya, Om sudah ada ide mau memanggilku dengan sebutan apa?" Gaby bertanya kemudian.


"Belum, masih bingung" kata Dimas sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku juga bingung, PR sekali sih" kata Gaby sambil ikut menggaruk kepalanya yang juga tidak gatal.


"Kalau panggil sayang saja boleh tidak?" Dimas ragu-ragu.


"Emmmmmmm" sesungguhnya karena tidak terbiasa Gaby pun jadi agak geli mendengarnya.


"Boleh tidak?" Dimas bertanya serius.


"Ya sudah, kita saling panggil sayang saja deh, aku juga bingung habisnya heheheh" Gaby terkekeh geli sendiri.

__ADS_1


"Oke sayangku" kata Dimas kemudian yang juga ikut terkekeh geli mendapati dirinya yang sok romantis.


__ADS_2