Malaikat Kecilku Gabriella

Malaikat Kecilku Gabriella
Karma Dibayar Tunai


__ADS_3

"Kak, apa Kak Mike ada di kamar?" tanya Ayu saat semua orang sudah masuk ke kamar hotelnya masing-masing.


"Tidak, bukannya sama suami kamu lagi bahas urusan kerjaan yang sangat penting?" Ananda membalas pesan singkat sang adik.


"Aku ke kamar kakak ya sekarang, ada yang ingin aku ceritain" kata Ayu.


"Iya dek" Ananda kemudian membukakan pintu kamarnya. Karena kamar mereka hanya berhadapan, maka tidak sampai satu menit mereka bertemu.


"Kenapa dek?" tanya Ananda kepada Ayu.


"Kak, aku curiga deh sama para lelaki itu, kayaknya mereka bukan benar-benar membahas urusan kantor" Ayu mulai menduga-duga.


"Tunggu sebentar kak" Ayu kemudian menelpon seseorang.


"Halo, Bu Maya lagi dimana?" Ayu menelpon manager rumah tangga sang kakak sekaligus sahabat baik keluarga Anderson itu.


"Saya di kamar nyonya" jawab Maya dari sebrang telpon.


"Pak George sama Bu Maya tidak?" Ayu bertanya lagi.


"Tidak ada, bukannya suami saya sedang pergi bersama dengan Tuan Mike dan Tuan Ron untuk membahas pekerjaan penting?" Maya menjawab polos.


"Bu Maya bisa tidak ke kamar kak Nanda sebentar?" Ayu sudah mulai yakin.


"Baik, saya kesana sekarang" Maya kemudian berjalan ke kamar Ananda yang bersebelahan dengan kamarnya.


"Ada apa nyonya?" Maya yang sudah masuk ke dalam kamar merasa bingung.


"Aku sepertinya mengendus sesuatu yang tidak beres sama suami-suami kita!" Ayu menatap kedua orang di depannya dengan tatapan misterius yang sulit diartikan.


"Jadi gini kak," Ayu kemudian bercerita dengan sangat menggebu-gebu.


"Astaga mereka ini kenapa sih selalu saja!" Ananda menepuk jidatnya sementara Maya geleng-geleng kepala mendengar ulah sang suami.


"Ayo kita ke supermarket bawah, aku ingin memberikan mereka pelajaran!" kata Ayu.


"Tapi kenapa mesti ke supermarket?" Maya bingung.


"Nanti aku akan jelaskan sambil jalan supaya tidak banyak waktu kita yang terbuang!" Ayu sudah membuka pintu kamar hotel Ananda dan memimpin berjalan menuju lift dan masuk ke supermarket yang berada di lantai bawah.

__ADS_1


.................


"Bunda?"


"Mommy?"


"Mama?"


Para suami yang sedang duduk di sebuah meja restoran yang berada tepat di sebelah supermarket terkejut mendapati istri-istri mereka menghampiri dengan wajah kesalnya.


"Daddy lagi sibuk ya?" Ayu membuka suara kepada Ron dengan wajah yang horor.


"Ehhh, i ini, lagi ngobrol santai kok Mom!" Ron salah tingkah karena ditatap dengan sadis oleh sang istri layaknya singa betina ingin memangsa korbannya.


"Ayah sibuk juga?" Ananda juga menimpali sang adik bertanya kepada suaminya.


"Anu Bun, ayah cuma mau kasih tutorial saja!" Mike bingung harus menjawab apa. Selama lebih dari tiga belas tahun menikah, Ananda jarang sekali menampilkan wajah seseram sekarang.


"Kalau papa ngapain disini?" Maya kini yang mengintrogasi suaminya.


"Papa cuma diminta menemani saja ma, mana mungkin papa menolak perintah bos!" George cari aman.


"Dim, kamu mau disini terus sama mereka?" Ananda yang melihat Dimas seperti seorang tawanan langsung memberi kode.


"Aku sebenarnya dari tadi ingin ke kamar Bun, kasihan Gaby ditinggal sendiri, tapi aku ditahan di sini jadi apa boleh buat!" Dimas pura-pura polos, spontan membuat ketiga pria yang duduk di depannya melotot ke arah Dimas.


"Dasar mantu gak ada akhlak, belum juga sehari udah berani ngadu!" Mike menggerutu.


"Ayah!" Ananda menghardik sang suami.


"Maaf Bun" Mike kembali memasang wajah memelas nya.


"Ayu mana tadi hadiah yang sudah kamu siapkan?" tangan Ananda meraih kantong belanja dari tangan Ayu.


"Bun apa ini?" Mike melongo melihat istrinya membagikan masing-masing pria paruh baya itu sebuah plastik berisi lima puluh butir permen.


"Ini hadiah dari kami untuk kalian karena kalian sengaja mengerjai Dimas supaya tidak malam pengantin dengan Gaby!" Ananda berkacak pinggang.


"Kalian harus berpuasa sampai permen ini habis, ingat ya, satu butir satu hari!" Ayu melotot.

__ADS_1


"What???" Ron terperanjat, membuat Dimas semakin terkekeh.


"Ma, papa juga? kan papa hanya menuruti perintah bos!" George menatap Maya dengan melas.


"Ini bukan jam kantor pa, papa seharusnya bisa menolak!" Maya membalikkan omongan suaminya.


"Bun, jangan gini dong!" Mike protes.


"Kenapa? ayah aja begitu sama Dimas dan Gaby!" Ananda ketus.


"Tapi kan cuma semalam, kalau harus puasa sampai ini habis ayah bisa gila!" Mike frustasi.


"Dimas, kamu masuk kamar gih, kasihan Gaby menunggu!" Ananda tidak menggubris protes suaminya.


"Baik Bun, terima kasih, permisi semuanya!" Kata Dimas sambil tersenyum geli menatap ayah mertua, uncle Ron dan Om George dengan tatapan 'karma dibayar tunai' nya.


"Ayo kita tidur!" Ananda kemudian mengajak Ayu dan Maya naik ke kamar masing-masing.


"Oya, karena kalian lagi puasa, maka silahkan booking kamar masing-masing ya!" Ananda menyunggingkan senyum jahilnya.


"Bunda!"


"Mommy!"


"Mama!"


Para suami kemudian mengejar istri masing-masing sambil terus memohon, namun tetap tidak di gubris oleh mereka.


"Setidaknya untuk malam ini mereka tidak boleh tidur sama kita" begitulah kesepakatan Ananda, Ayu dan Maya saat mereka tadi sedang membeli permen sebagai hukuman ulah jahil para suami yang bersekongkol ingin menggagalkan malam pertama sang pengantin baru dengan mengajak Dimas begadang berempat dan mengulur waktu sampai pagi hari tiba.


.................


Halo para Sabahat, selamat pagiiii... Semoga hari ini tetap semangat menjalani hari ya.. Terima kasih semua untuk dukungannya kepada The Andersons... Mohon terus dukung dengan memberi like, komen, hadiah, favorit dan juga vote (siapa tau masih ada yang nganggur votenya heheheheh)


Habis ini kita belah duren ya, siap-siap hareudangggg... hihihi


Happy Reading All..


Luv Luv..

__ADS_1


__ADS_2