Malaikat Kecilku Gabriella

Malaikat Kecilku Gabriella
Calon Investor Baru


__ADS_3

"Nah ini dia yang di tunggu, bagaimana persidangannya kemarin apakah sudah beres?" tanya Ron kepada Dimas yang baru saja masuk ke ruang kerjanya.


"Sudah uncle, aku pastikan dia akan membusuk di penjara!" Dimas masih geram.


"Bagus!" Ron menepuk bahu keponakannya.


"Oya, karena kau sudah datang, maka ada yang harus kau lakukan sekarang!" kata Ron dengan wajah yang serius.


"Ada apa? kenapa sepertinya sangat serius?" Dimas melihat raut wajah Ron yang sangat tegang.


"Ini, ada investor yang akan menanamkan modalnya ke proyek baru yang akan kita kerjakan, aku mau kau yang menemuinya" kata Ron serius.


"Loh kenapa tidak uncle saja yang menemui? bukankah ini proyek yang uncle pegang?" Dimas merasa aneh.


"Tidak, aku tidak bisa karena ada hal penting lain yang harus aku kerjakan" kata Ron berkilah.


"Kapan pertemuannya?" tanya Dimas.


"Siang ini saat jam makan siang di restoran The Lunar" jawab Ron.


"Apa yang harus aku persiapkan?" tanya Dimas yang memang tidak pernah memegang proyek ini sebelumnya.


"Aku akan kirim filenya melalui email, kau hanya perlu memutarkan videonya saja, disana sudah dijelaskan semua detailnya!" kata Ron menjelaskan.


"Oke, akan aku pelajari dulu videonya agar bisa menjelaskan bila memang dibutuhkan" kata Dimas menyetujuinya.


"Terima kasih ya" Ron kemudian keluar dari ruangan Dimas dengan senyum yang mengembang.


..........

__ADS_1


"Selamat siang nyonya, perkenalkan saya Dimas, perwakilan dari The Andersons" Dimas mengulurkan tangan saat sang investor menghampirinya.


"Acia" sang investor membalas uluran tangan Dimas dengan manja.


"Silahkan duduk" kata Dimas dengan sopan.


"Terima kasih" kata Acia dengan mendesah.


"Maaf sebelumnya kalau tuan Ronald Anderson tidak bisa hadir karena sedang ada pekerjaan lain yang tidak bisa ditinggalkan, jadi saya yang diminta untuk mempresentasikan proyek yang akan dilakukan nanti" kata Dimaa menjelaskan.


"Tidak apa-apa, sama saja" Acia menjawab dengan gayanya yang manja.


"Kalau begitu saya akan putarkan dulu video yang sudah dipersiapkan" kemudian Dimas membuka tabnya dan menghadapkannya ke Acia.


"Biar saya pindah duduk saja supaya kita bisa menontonnya bersama-sama" Acia yang awalnya duduk berhadapan dengan Dimas kemudian berdiri dan pindah mensejajarkan diri dengan jarak yang cukup dekat.


"Apakah ada yang masih kurang jelas?" Dimas bertanya setelah video selesai diputar.


"Tidak ada, semua cukup jelas" Acia tersenyum manja.


"Kalau begitu ini ada berkas yang bisa anda pelajari dan bisa ditandatangani jika sudah siap" Dimas berusaha bersikap seprofesional mungkin.


"Terima kasih" Acia menerima berkas itu sambil mencuri kesempatan memegang tangan Dimas.


"Apakah masih ada yang ingin anda utarakan nyonya?" tanya Dimas sebelum berniat menutup pertemuan mereka. Ia benar-benar risih dengan sikap Acia yang menurutnya sok centil itu.


"Apa malam minggu besok kita bisa bertemu lagi?" Acia menjurus ke arah lain.


"Maaf nyonya, kebetulan malam minggu besok saya sudah janji kepada istri saya untuk mengantarnya ke dokter kandungan guna memeriksa perkembangan anak kami" Dimas memblokir akses Acia untuk menjurus ke arah yang lebih pribadi.

__ADS_1


"Oh begitu ya? baiklah kalau begitu" Acia yang gagal akhirnya menyudahi pertemuan mereka dengan wajah yang masam.


..........


"Uncle, kau sengaja mengerjai aku ya?" Dimas kembali ke kantor dengan hati yang kesal.


"Bwahahahahahahahah, maaf, maaf, bukan maksudku mengerjaimu, tapi memang jujur saja aku malas bertemu dengan wanita itu" Ron tidak bisa menahan tawanya.


"Memangnya ada apa?" Gamal bertanya penasaran.


"Apa kau tau, tadi aku diminta oleh uncle untuk menggantikannya meeting dengan salah satu investor, aku pikir karena ini penting maka aku bersedia saja, ternyata saat aku bertemu dengannya, astagaaaaaaaa" Dimas bercerita menggebu-gebu dengan wajah yang jijik.


"Apa yang kau maksud itu nyonya Acia?" George mengernyitkan dahinya.


"Om tau?" Dimas terbelalak.


"Bwahahahahahahahahah, akhirnya kau kena juga ya?" kini giliran Mike yang terbahak-bahak.


"Dia itu memang terkenal sebagai seorang investor centil, semua pria yang menjadi rekan bisnisnya sudah pasti tidak luput dari godaannya" George menjelaskan dengan senyum geli karena melihat ekspresi jijik Dimas.


"Astagaaaa, amit-amit" Dimas mengelus perutnya.


"Kenapa kau begitu?" Mike aneh dengan tingkah Dimas yang mengelus-elus perutnya.


"Istriku kan sedang hamil yah, aku tidak mau keturunanku nanti seperti itu, amit-amit" Dimas bergidik ngeri.


"Next giliranmu Gamal" Ron menyunggingkan senyum jahilnya.


"No way!" Gamal langsung menggelengkan kepalanya ngeri, membuat mereka semua yang sedang berada di dalam ruang rapat tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


__ADS_2