Malaikat Kecilku Gabriella

Malaikat Kecilku Gabriella
Tragedi Taman Bermain


__ADS_3

Setelah drama ngidam naik wahana yang cukup menguras energi serta emosi Dimas dan Gamal, akhirnya mereka bisa beristirahat dengan santai di sebuah kedai makanan.


"Keponakan uncle kalau sudah besar tidak boleh jadi anak bar-bar ya!" celetuk Gamal sambil menunjuk perut buncit Gaby yang sedang dielus-elus oleh Dimas.


"Ihhh kok uncle ngomong gitu sih!" Gaby protes.


"Iya lah, masih di perut saja sudah bikin geger semua orang!" jawab Gamal dengan santai membuat Dimas dan Niken terkekeh geli.


"Namanya juga lagi ngidam, kan wajar!" Gaby tetap tidak terima.


"Yang namanya ngidam tuh makanan, rujak, somay, soto, nasi padang... lah ini? sate kambing motong sendiri, pajamas party make up menor, kencan ganda tapi bikin menderita.. hadehhhhh!!!!!" Gamal geleng-geleng.


"Sudah-sudah, anggap saja kau belajar jadi ayah siaga, kalau sebentar lagi kalian menikah kan jadi tau apa yang harus dilakukan nanti kalau istrimu ngidam!" kata Dimas masih dengan terkekeh sambil menatap Niken yang jadi salah tingkah.


Obrolan-obrolan tidak berfaedah terus berlanjut sampai mereka memutuskan untuk pulang karena hari sudah semakin sore.


"Aku ingin ke toilet dulu ya, sudah tidak tahan!" kata Gaby.


"Biar aku temani!" Niken langsung menggandeng tangan sahabatnya itu.


Mereka berjalan ke toilet terdekat dari tempat duduk kedua pria itu.


BRUK


Gaby yang sudah selesai buang air tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang hingga membuatnya terjatuh ke lantai.

__ADS_1


"Hey lihat-lihat dong!" Niken berteriak ketika orang yang menabrak Gaby melarikan diri dengan cepat.


"Ayo Gab bangun" Niken membantu Gaby berdiri.


"Astaga Gaby!!!!!" Niken berteriak histeris ketika menyadari perut Gaby sudah berlumuran darah.


"Tolonggggggggg, tolonggggggggggg" Niken berteriak meminta bantuan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.


Dimas dan Gamal yang mendengar teriakan Niken pun langsung berlari menuju arah suara tersebut.


"Oh My God!" Dimas spontan memeluk tubuh istrinya yang sudah tak berdaya.


"Sayang,,," bibir Dimas kelu hanya air mata yang menetes.


Dimas langsung menggendong tubuh sang istri dan berlari menuju mobil.


"Biar aku yang bawa mobilnya!" Gamal mengambil kunci mobil Dimas, mereka berempat langsung menuju ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Sementara mobilnya sendiri ia tinggal di area parkir untuk sementara waktu sampai nanti ada supir yang akan mengambilnya.


Setibanya di rumah sakit Gaby langsung di bawa ke ruang tindakan.


"Dokter, tolong selamatkan istri dan anak saya!" Dimas terlihat sangat kacau, air matanya tidak terbendung.


"Kami akan melakukan yang terbaik tuan, mohon bersabar dan berdoa!" kata sang dokter menenangkan.


"Sabar bos, kita tunggu dulu" kata Gamal merangkul tubuh Dimas yang sangat lemas.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan pelakunya bebas begitu saja!" Dimas menunjukkan amarahnya yang membara.


"Aku akan mengurus semuanya, kau tenang saja, sekarang lebih baik kau fokus pada istri dan anakmu" Gamal memberikan penguatan.


"Dimas dimana Gaby? bagaimana keadaannya? apa yang sebenarnya terjadi?" Ananda yang baru saja tiba langsung memberondong menantunya dengan berbagai macam pertanyaan.


"Bunda" Dimas tidak bisa menjawab, kondisinya masih sangat kacau dengan pakaian yang berlumuran darah.


"Astagaaaaaaa" Ananda yang baru menyadari darah yang berlumuran di tubuh menantunya langsung histeris.


"Bunnnnn" Mike yang sesungguhnya syok pun berusaha bersikap tegar di depan sang istri yang sudah tak berdaya.


Suasana mencekam berlangsung selama beberapa jam saat Gaby berada di dalam ruang tindakan.


"Dokter, bagaimana keadaan istri dan anak saya?" tanya Dimas kepada sang dokter yang setelah beberapa jam menangani Gaby.


"Tuan, saat ini kondisi nyonya kurang baik, keadaannya masih kritis, kondisi bayinya juga masih belum begitu stabil namun masih bisa dipertahankan. Kami membutuhkan persetujuan pihak keluarga untuk melakukan transfusi darah karena nyonya banyak sekali kehilangan darah" kata sang dokter menjelaskan.


"Lakukan yang terbaik dokter, saya mohon apapun yang terjadi selamatkan mereka berdua!" Dimas mengguncang tubuh sang dokter.


"Kami pasti berusaha yang terbaik tuan, mohon bantu doanya, saya permisi" kata sang dokter lagi.


Sementara Ananda yang sudah tidak bisa menahan rasa sedihnya langsung tumbang tidak sadarkan diri.


"Bunnnnn" Mike dengan sigap menangkap tubuh sang istri dan membaringkannya di sofa ruang tunggu.

__ADS_1


__ADS_2