Malaikat Kecilku Gabriella

Malaikat Kecilku Gabriella
Dimas Cemburu


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu cepat, kini Gaby dan Dimas sedang sibuk mempersiapkan pesta pernikahan mereka. Seluruh keluarga besar Anderson pun ikut dibuat heboh dengan rencana pernikahan ini, tak terkecuali Sera dan Rachel yang ingin menjadi bridesmaid cilik untuk kakak mereka. Gaby yang kemarin tidak bisa mempersiapkan pertunangannya karena dikerjai habis-habisan oleh keluarganya pun kini menuntut untuk dapat berperan paling besar dalam menentukan semua detilnya. Hal ini tentu saja sangat membuat Dimas merasa bahagia karena sikap Gaby sangat berbanding terbalik dengan pengalamannya dulu bersama Vita yang justru selalu menolak untuk segera menikah.


"Terima kasih ya sayang karena sudah mempersiapkan semuanya dengan baik" Dimas memeluk Gaby dari belakang dan menaruh dagunya di bahu Gaby saat gadis itu sedang memasak makan siang untuk keluarga besar Anderson di dapur rumah utama saat akhir pekan.


"Iya sayang, aku ingin pernikahan yang hanya berlangsung sekali seumur hidup ini bisa berjalan dengan baik dan sempurna nantinya" Gaby selalu berdoa bahwa pernikahannya akan terus langgeng sampai maut memisahkan mereka di masa tua nanti.


"Amin" Dimas mengamini doa sang kekasih.


Bagi Dimas, Gaby layaknya oase yang memberinya kesegaran setelah selama sepuluh tahun hidup dalam dahaga cinta.


"Kapan Mama dan papa akan datang?" Gaby yang sudah menganggap orang tua Dimas seperti orang tuanya sendiri sangat tidak sabar menanti kedatangan mereka.


"Mungkin mereka akan datang beberapa hari sebelum pesta kita digelar sayang" kata Dimas.


"Aku harap mereka akan senang dengan konsep yang sudah kita persiapkan ya" harapan Gaby yang ingin membuat kedua calon mertuanya bahagia.


"Aku yakin Mama dan papa pasti senang dengan semua yang sudah kau persiapkan untuk hari besar kita" Dimas mengecup pipi Gaby dengan lembut.


"Sudah matang, ayo kita bawa ke meja makan" Gaby kemudian mengangkat piring saji berisi sayur dan lauk di kedua tangannya, sementara Dimas membawa saus dan beberapa menu tambahan.


Baru-baru ini mereka berdua memang seperti memiliki ritual khusus di setiap akhir pekan yaitu memasak hanya berdua saja menu makan siang untuk dinikmati oleh seluruh keluarga besar di rumah utama. Mereka yang ingin menghabiskan banyak waktu hanya berdua saja tanpa melupakan keluarga, akhirnya memutuskan untuk memasak di dapur tanpa gangguan siapapun sebagai quality time mereka. Bahkan ketika Ananda dan Ayu ingin membantu saja mereka langsung mengusir keduanya agar segera kembali ke ruang keluarga.


"Dasar calon pengantin" begitulah gerutu Ayu kala diusir oleh keponakannya itu.


"Ayo kita makan, masakannya sudah matang" Gaby yang sudah selesai menata makanannya di ruang makan langsung memberitahu semua anggota keluarga yang sedang berada di ruang keluarga.


"Halo nona?" sapa seorang pria muda kepada Gaby.


"Kak Gamal? astaga kakkkk!" Gaby menatap tak percaya pada apa yang di lihatnya. Ia yang sangat bahagia spontan langsung memeluk pria yang tidak lain adalah Gamaliel Sangkakala putra pertama George dan Maya. Sementara Dimas yang menyaksikan adegan pelukan itu hanya bisa mematung saja tanpa bereaksi apapun.

__ADS_1


Gamal yang berusia dua puluh lima tahun adalah sahabat Gaby sekaligus sudah dianggapnya seperti seorang kakak. Ia baru saja menyelesaikan studi pascasarjananya di luar negeri dan sedang mencoba peruntungan dengan melamar pekerjaan dengan jalur umum ke perusahaan Anderson seperti layaknya calon karyawan lain. Meskipun ayahnya adalah orang nomor tiga di perusahaan raksasa itu, bukan berarti membuatnya bisa jumawa dan melakukan seenaknya saja. Ia tetap diajarkan hidup mengikuti aturan main yang ada.


"Apa kabar nona?" Gamal tersenyum manis kepada Gaby.


"Baik kak, kakak sendiri bagaimana? sombong sekali sih, sudah bertahun-tahun tidak pulang!" Gaby memajukan bibirnya.


"Saya baik nona, hanya sedikit sibuk karena harus kuliah sambil bekerja di luar" kata Gamal yang memang sudah beberapa tahun belakangan ini jarang pulang. Ia dan adiknya Gideon Harpa yang berusia satu tahun dibawahnya sudah tinggal di luar negeri sejak mereka lulus sekolah menengah atas.


"Sejak kau dan kak Gide masuk asrama waktu jaman SMA dulu sampai sekarang kuliah S2 di luar negeri, aku seperti tidak punya seorang kakak saja!" Gaby menggerutu.


"Maafkan saya nona" Gamal hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal untuk menghilangkan rasa kikuk.


"Lalu dimana kak Gide?" tanya Gaby mencari sosok pria satu lagi.


"Dia akan menyusul tahun depan nona, karena sedang merampungkan tugas kuliah dan pekerjaannya" jawab Gamal.


"Jadi kalian berdua memang benar-benar kuliah sambil kerja ya? wahhh hebatnya!" Gaby menepuk bahu Gamal dengan bangga, membuat pria itu malu.


"Eh iya, aku sampai lupa kalau kita mau makan siang, ya sudah ayo kak kita lanjutkan sambil makan saja!" Gaby kemudian mengajak semua orang untuk makan siang bersama.


..........


"Sayang, kau kenapa diam saja sih?" Gaby heran karena sejak makan siang sikap Dimas jadi berubah lebih diam.


"Tidak apa-apa" jawab Dimas datar.


"Masa? tapi kok sepertinya ada sesuatu yang berbeda?" Gaby masih penasaran.


"Aku baik-baik saja" Dimas masih menahan diri.

__ADS_1


"Sejak makan siang kenapa diam saja?" Gaby belum paham duduk persoalannya.


"Kalau aku ngomong memang ada yang menanggapi? kan kau sibuk ngobrol dengan Gamal!" Dimas kemudian meraih kunci mobilnya yang tergeletak di ruang tamu.


"Astagaaaaaa, jadi ceritanya cemburu?" Gaby menunggu reaksi Dimas.


"Tidak, siapa bilang!?" Dimas membuang muka agar tidak menunjukkan wajah cemburunya.


"Kalau tidak cemburu kenapa seperti ini? hayo ngaku!" Gaby menusuk-nusuk perut kekasihnya dengan telunjuknya.


"Sudah ah aku mau pulang saja" Dimas kemudian melangkah ke arah teras depan menuju mobilnya.


"Iiiihhhhhh gak boleh pulang dulu sebelum jujur!" Gaby merentangkan tangannya.


"Aku tidak cemburu!" kata Dimas namun wajahnya menunjukkan sebaliknya.


CUP


"Hehehehehe,,, makasih ya sayang sudah cemburu sama aku" Gaby mengecup pipi Dimas karena merasa bahagia dicemburui oleh tunangannya itu.


"Lain kali aku tidak mau dicuekin!" Dimas akhirnya mengeluarkan unek-uneknya.


"Uuuuuuu sayanggggg gemessssss kalau lagi marah" Gaby malah menguyel-uyel pipi Dimas dengan gemasnya.


"Ya sudah aku pulang ya" Dimas kemudian merangkul pinggang Gaby dan mengecup kening gadis itu dengan mesra.


Meskipun ia kesal, namun tetap saja hatinya sangat mudah luluh jika Gaby sudah bersikap menggemaskan seperti ini.


"Hati-hati di jalan ya sayang, i love you" Gaby kemudian mengantarkan Dimas menuju mobilnya.

__ADS_1


"I love you too" kata Dimas yang kemudian menjalankan mobilnya menuju ke luar pagar.


__ADS_2