Malaikat Kecilku Gabriella

Malaikat Kecilku Gabriella
Bertunangan


__ADS_3

"Kak" Ananda masuk ke dalam kamar Gaby.


"Bun, apa sudah tidak ada kesempatan lagi untuk kakak memilih jalan hidup sendiri?" Gaby menangis dipelukan sang bunda.


"Sayang, bukankah kakak sudah berjanji mau mencoba dulu? nanti kalau memang kakak tidak mau melanjutkan ke pernikahan, kakak bisa bilang sama ayah" Ananda menenangkan hati Gaby.


"Ini terlalu cepat bun, bahkan wajah pria itu pun kakak belum pernah melihatnya sama sekali" Gaby membayangkan hal-hal buruk di kepalanya.


"Kakak harus berpikir positif ya, percayalah kakak akan mencintai pria ini setelah kalian bertunangan" Ananda menghapus air mata Putri sulungnya.


"Kenapa bunda bisa begitu yakin?" Gaby penasaran dengan sikap tenang sang bunda.


"Apa kakak lupa kalau feeling seorang ibu itu selalu tepat?" Ananda menatap putrinya.


"Kakak takut bunda" Gaby memeluk sang bunda lebih erat dari sebelumnya.


"Kakak jangan takut, kalau memang setelah pertunangan ini kakak tidak yakin, bunda akan berdiri di depan kakak untuk membela, bahkan dari ayah sekalipun!" kata Ananda dengan yakin membuat Gaby percaya. Bagi Gaby, Ananda adalah sosok yang bisa ia percaya dapat melindunginya, bahkan ia lebih percaya kepada sang bunda dibandingkan ayahnya.


"Ayo, semua sudah menunggu kakak, jangan sampai riasan wajah kakak rusak karena banyak menangis" kata Ananda melihat wajah Gaby yang basah. Untung saja make up yang digunakan adalah waterproof yang bisa tahan dari keringat dan air mata.


"Iya Bun" Gaby menggandeng lengan Ananda keluar dari kamar menuju lantai bawah.


Semua mata terpana melihat betapa Gaby begitu memukau bak seorang putri. Dimas yang sejak pagi sudah siap mengantar Gaby pun hampir tidak percaya melihat gadis cantik yang ia cintai itu tampak jauh lebih cantik dari hari biasanya.


"Dimas, kau bawa mobil Gaby ya!" kata Mike sambil menepuk bahu asistennya itu.


"Baik tuan" Kata Dimas dengan menunduk sopan.


"Mari nona" Dimas membuka pintu mobil dan mempersilahkan Gaby duduk di kursi belakang bersama Sera dan Rachel.


"Terima kasih" jawab Gaby sambil tersenyum getir.


Sepanjang perjalanan dari rumah menuju hotel mereka hanya diam membisu. Sesekali Dimas melemparkan pandangannya kearah Gaby melalui spion. Ia bisa melihat kesedihan mendalam yang dialami Gaby. Gadis itu hanya bisa menatap nanar ke arah jalan raya dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan.


"Nona, kita sudah sampai" kata Dimas ketika mereka sudah berada di depan lobby hotel.


"Silahkan" Dimas membukakan pintu untuk Gaby.


"Terima kasih" hanya kata itu yang dari tadi Gaby ucapkan kepada Dimas.


"Sama-sama nona" Dimas mengangguk sambil tersenyum.


Meskipun hatinya sangat pilu, namun Dimas berusaha tegar agar Gaby bisa menjalani semua prosesi pertunangannya dengan baik.


"Ayo sayang" Ananda meraih tangan putrinya.

__ADS_1


Ballroom hotel di tata dengan konsep standing party. Seluruh tamu undangan berdiri di sisi kiri dan kanan ruangan untuk memberi jalan bagi pasangan yang akan bertunangan malam ini.


"Apakah sudah siap?" tanya Ron kepada keluarganya.


"Iya" jawab Mike yakin.


"Dimas, ayo ikut aku ke bagian depan!" Ron memberi perintah kepada Dimas.


"Baik tuan" Dimas mengangguk dan mengikuti Ron berjalan ke bagian depan, persis di ujung karpet merah yang akan menjadi jalan setapak bagi Gaby dan keluarganya.


"Ada apa ini?" Dimas terkejut karena tiba-tiba lampu ruangan mati dan suasana menjadi gelap gulita.


Namun sepersekian detik kemudian layar besar di bagian depan menyala, menampilkan rangkaian foto-foto romantis Gaby dan Dimas mulai dari saat makan di beberapa restoran, bergandengan tangan, berpelukan hingga yang paling vulgar adalah saat mereka berciuman di dalam mobil. Hampir sepuluh menit layar besar itu memutar adegan-adegan romantis pasangan yang sedang dimabuk asmara itu, yang sontak membuat keduanya terperangah tidak percaya.


"Bos!?" Dimas masih bingung dengan semua yang terjadi.


"Cepat hampiri tunanganmu!" Ron menepuk bahu Dimas untuk menyadarkannya bahwa pesta ini sesungguhnya adalah pesta pertunangannya dengan Gaby.


Sementara di ujung ruangan, Gaby masih sangat terkejut, ia berdiri mematung tidak percaya dengan semua yang baru saja ia lihat.


"Kak" Ananda dan Mike merangkul bahu putrinya secara bersamaan.


"Ayah, Bunda!?" Gaby menatap kedua orang tuanya secara bergantian dengan bingung.


"Lihat, itu calon tunanganmu sedang berjalan menjemputmu!" kata Mike dengan senyum puas.


"Bundaaaaa" Gaby seperti bermimpi.


"Nona" Dimas mengulurkan tangannya.


"Om" Gaby menyambut tangan Dimas dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Ayo kita ke depan!" kata Mike kepada anak dan calon menantunya.


Setelah mereka sampai di bagian depan, keduanya pun disambut oleh keluarga besar Dimas.


"Mama, papa?" Dimas kembali terkejut dengan kehadiran kedua orang tuanya.


"Selamat nak" Mama dan papa Dimas memeluk putranya dan juga calon menantu mereka.


"Terima kasih ma, pa" kata Dimas sambil membalas pelukan orangtuanya.


Mereka pun akhirnya melangsungkan prosesi pemakaian cincin sebagai simbol ikatan pertunangan.


"Aku titipkan Putri kesayanganku padamu!" Mike memeluk Dimas dengan erat.

__ADS_1


"Terima kasih tuan atas kepercayaannya" Dimas sangat bahagia dengan sikap hangat Mike.


"Jaga Gaby baik-baik ya" Ananda juga memeluk calon menantunya itu.


"Dengan segenap hati saya nyonya" Dimas tersenyum sopan.


"Bagaimana rasanya di prank?" giliran Ron yang memberikan pelukan.


"Pasti ini ide uncle kan?" Gaby protes.


"Bukan hanya uncle, tapi juga duo grandma, ayah, bunda, aunty Ayu, Om George dan juga Tante Maya heheheheh" Ron terkekeh dengan puas.


"Kalian jahat sekali, aku hampir saja mati karena sedih" kata Gaby cemberut membuat semua tergelak.


"Nona, kenapa Anda sangat menggemaskan?" Dimas mengecup pipi Gaby.


"Hey kalian belum resmi menikah, jangan macam-macam!" Mike melotot ke arah Dimas.


"Maaf tuan" Dimas menunduk malu dan kembali membuat semuanya tergelak.


"Jadi semua orang disini sudah tau kalau aku dan Om Dimas di prank?" Gaby kembali protes.


"Tentu saja" jawab duo grandma dengan kompak.


"Issshhh Jahatnya!!! Om, kenapa Om sampai tidak tau sih!?" kini Gaby protes kepada tunangannya.


"Saya pun korban nona!!" Dimas syok karena sang kekasih protes padanya.


"Jadi kakak mau minta membatalkan pernikahannya tidak?" Ananda kembali menggoda.


"Issshhhhh bunda!!!!" Gaby merajuk kepada Ananda yang kembali membuat semua tamu undangan tergelak.


"Ngomong-ngomong kenapa kalian masih saling memanggil Om dan Nona sih? kaku sekali seperti kanebo kering!" seloroh Ron.


"Iya benar, Dimas mulai sekarang kau harus terbiasa memanggil Gaby dengan sebutan yang lebih romantis dan kau Gaby jangan panggil Dimas Om!" nyonya Merlyn menasehati cucu dan calon cucu menantunya.


"Baik" jawab Gaby dan Dimas serentak.


Malam itu semua orang sangat bahagia. Mereka semua larut dalam riuhnya pesta. Keluarga, sahabat dan semua orang terdekat Gaby dan Dimas hadir untuk memberikan doa dan dukungan.


............


Hallo semua, bagaimana dengan kondangannya? udah pada puaskannnnnn,,, akhirnya nona dan Om tunangan juga.. Nah sebagai kadonya sahabat bisa kasih like, komen, vote, hadiah dan juga favorit ya.. Jangan lupa pantau terus hubungan Gaby dan Dimas kedepannya.. Kita kawal sampai pelaminan yaaaaa...


Happy Reading All..

__ADS_1


Luv Luv..


__ADS_2