Malaikat Kecilku Gabriella

Malaikat Kecilku Gabriella
Gaby Hamil


__ADS_3

"Kak kenapa wajahmu pucat sekali?" Ananda bertanya kepada putri sulungnya saat mereka semua sedang berkumpul di dapur rumah utama pada akhir pekan.


"Benarkah? sepertinya aku masuk angin deh bun, soalnya sudah beberapa hari ini badanku seperti tidak enak semua, setiap mencium masakan juga sangat mual" Gaby menjelaskan.


"Jangan-jangan kau hamil kak" Ayu berseloroh.


"Aunty jangan macam-macam deh, jelas-jelas aku ikut program KB, mana mungkin bisa hamil!" Gaby protes.


"Tidak ada yang tidak mungkin kak, kalau Tuhan sudah berkehendak semua bisa terjadi" Maya menimpali.


"Tante, kenapa malah ikut-ikutan sih?" Gaby semakin protes.


"Apa salahnya sih kak kalau punya anak satu lagi? lagian kan Divo dan Diva sudah besar, jadi sudah bisa bantu jaga adiknya" Ananda kini menasehati.


"Bun, aku kan melahirkannya dengan cara operasi, proses penyembuhannya lebih lama dari yang normal, rasa sakitnya itu loh bun yang gak ketulungan!" Gaby membayangkan rasa nyeri pasca oprasi.


"Bukannya kalau kondisi kakak sehat, nanti bisa tetap melahirkan secara normal ya walaupun sebelumnya oprasi?" Sera bertanya.


"Iya, bisa kok, apalagi jaraknya kan sudah sangat lama, jadi seharusnya tidak ada masalah" Rachel membenarkan.


"Tuh kan kak" Ayu menjadi kompor bledug.


"Ih apa sih kalian semua, pokoknya kakak sudah cukup dua anak saja titik!" kata Gaby dengan teguhnya.


"Ya sudah terserah kakak sajalah kalau begitu" Ananda hanya bisa pasrah, meskipun sesungguhnya dia juga ingin melihat cucu ketiganya dari Gaby dan Dimas lahir.


Karena tidak ingin berdebat lebih lama lagi, maka mereka pun kemudian mengalihkan topik pembicaraan ke hal-hal yang lebih seru sambil menyiapkan makan malam keluarga besar itu.


..........


"Huekkkkk" Gaby memuntahkan isi perutnya saat mereka semua makan malam bersama.


"Kak kenapa?" Ananda benar-benar cemas.


"Aku sepertinya tidak enak badan bun" Gaby yang baru selesai dari kamar mandi duduk dengan lemas di kursi makannya.


"Lebih baik dibawa ke rumah sakit saja kak, biar jelas apa penyakitnya" Maya menasehati ibu dua anak itu.


"Fix kau memang hamil kak" Ayu sangat yakin dengan feelingnya.

__ADS_1


"Wahhhh benarkah?" Grandma Merlyn berseri-seri mendengarnya.


"Yesss cicit baru on the way" Grandma Ruth tidak kalah berserinya.


"Aku hanya masuk angin grandma, nanti minum obat masuk angin juga pasti sembuh" Gaby menolak untuk hamil.


"Aku setuju dengan usul Maya, lebih baik kau periksa ke dokter kak, jangan minum sembarang obat" Mike menatap Dimas penuh arti, sementara yang di tatap paham bahwa dugaan ayah mertuanya bahwa taruhannya berhasil.


"Habis makan malam lebih baik kita ke dokter ya ma" Dimas kemudian membujuk sang istri.


"Benar, lebih baik segera ke dokter saja kak, agar hasilnya lebih cepat ketahuan, apakah memang hamil atau hanya masuk angin saja!" Ron tersenyum jahil sambil menatap ketiga cucu menantu Anderson secara bergantian dengan tatapan yang mencurigakan.


Akhirnya setelah makan malam selesai, Gaby dan Dimas pun berangkat menuju rumah sakit milik keluarga Anderson untuk memeriksakan kondisi wanita cantik itu.


..........


"Bagaimana hasilnya dok?" Dimas bertanya kepada sang dokter.


"Selamat tuan, nyonya, kandungannya sudah berusia empat minggu" sang dokter memberi ucapan selamat.


"Istri saya hamil dok?" Dimas ternganga saat sang dokter memberikannya ucapan.


"Tidak mungkin, dokter pasti salah, saya ini KB dok, mana mungkin bisa hamil" Gaby menolak untuk mempercayainya.


"Terkadang hal ini memang terjadi nyonya, meskipun sang ibu mengikuti program KB, tapi ada kalanya gagal dan akhirnya hamil kembali" sang dokter memberikan penjelasan.


"Sayang" Dimas yang melihat sang istri sangat syok langsung memeluknya. Seketika rasa bersalah menghampiri pria itu.


"Aku tidak mau hamil lagi, aku tidak siap" Gaby menggelengkan kepalanya.


"Sayang jangan begitu, biar bagaimana pun dia titipan Tuhan yang dipercayakan sama kita" Dimas mengecup kening sang istri.


"Tapi aku tidak siap" Gaby menggelengkan kepalanya.


"Sayang" Dimas mempererat pelukannya.


"Nyonya mungkin butuh waktu, itu wajar saja, pasti akan sangat sulit menerimanya jika kita sudah berusaha agar tidak kembali hamil" Sementara dokter yang melihat hal itu mencoba menenangkan.


"Ini saya resepkan vitamin untuk nyonya minum, jika nanti ada keluhan lain silahkan datang kembali supaya bisa ditangani dengan segera" sang dokter menyerahkan kertas resep obatnya.

__ADS_1


"Terima kasih dokter" Dimas menerimanya.


Setelah segala prosedur pemeriksaan selesai, mereka pun kembali pulang ke rumah utama.


..........


"Bagaimana hasilnya?" tanya Mike, Ron dan George serentak saat sepasang suami istri itu baru saja tiba di rumah utama. Semua orang, terutama para pria menunggu dengan harap-harap cemas.


"Positif" jawab Dimas.


"Woahhhhh" Gamal dan Gide bersorak serentak.


"Kalian kenapa sih?" Sera heran melihat suami dan adik iparnya heboh sendiri.


"Iya aneh sekali, kenapa para bapak-bapak jadi pada kepo semua gini sih?" Rachel juga merasa aneh.


"Emmmm anu sayang, aku salut sama Dimas, padahal kan Gaby KB, tapi dia ternyata bisa membobol pertahanan KBnya itu" Gamal menjawab pertanyaan Sera dengan gelagapan.


"Benar, apa lagi sudah bertahun-tahun, seperti mustahil saja rasanya" Gide menambahkan.


"Tapi kan tidak perlu senorak itu" Sera geleng-geleng.


"Tau, kayak orang kampungan saja" Rachel menimpali.


"Jadi ayah akan punya cucu baru ya?" Mike bertanya dengan senyum terkembang.


"Wahhh Dimas luar biasa" Ron bertepuk tangan.


"Siap-siap ngidam dong" George selalu trauma dengan wanita hamil yang sedang ngidam.


"Aku mau istirahat dulu" Gaby yang masih syok langsung berjalan menuju ke kamarnya.


"Sayang tunggu, biar aku temani" Dimas pun kemudian berjalan mengikuti langkah sang istri.


"Tuh gara-gara kalian sih!" Ananda menuding para pria.


"Iya, sudah tau Gaby tidak mau hamil lagi, kalian malah heboh!" Ayu berkacak pinggang.


"Tau, kenapa sih kalian ini!" Maya geleng-ngeleng melihat ulah aneh para pria di keluarga Anderson itu.

__ADS_1


Sementara Gaby dan Dimas masuk ke dalam kamar, semua orang terutama para pria tidak ada lagi yang berani berkomentar. Mereka semua lebih memilih untuk diam agar tidak semakin menyakiti hati Gaby dan menyulut emosi para istri seperti tadi.


__ADS_2