Malaikat Kecilku Gabriella

Malaikat Kecilku Gabriella
Memasak Sate Kambing


__ADS_3

"Kenapa mesti ke sini sih pak Manto? memangnya tidak ada yang jual kambing selain di pasar hewan ini?" gerutu Ron saat dirinya, Mike dan George berjalan beriringan mencari kambing berkualitas bagus bersama dengan pak Manto supir pribadi Mike yang memang paham dengan dunia perhewan potongan.


"Ck, kau ini bodoh atau apa sih? Mana ada mall yang menjual hewan potong hidup-hidup!?" Mike berdecak kesal dengan pertanyaan yang diajukan oleh adiknya.


"Nah kalau begitu bisa kita jadikan target marketing selanjutnya!" Ron berseloroh memberi ide konyol.


"Iya bagus, tapi setelah itu satu mall akan beraroma kotoran hewan dan tidak ada lagi pengunjung yang mau masuk ke dalam mall!" Mike menatap sinis Ron.


"Bisa tidak sih kalian diam? kenapa terus saja membahas sesuatu yang tidak berfaedah?" George yang sejak tadi hanya mendengar perdebatan receh kedua sahabatnya itu mengomel.


Berjalan diantara hewan-hewan beraroma menyengat saja sudah membuatnya ingin pingsang, belum lagi tatapan para pedagang dan pengunjung yang seperti heran melihat mereka bertiga yang berpakaian resmi masuk ke pasar hewan, ditambah debat receh dua Anderson ini, rasanya benar-benar bikin George yang selama ini terkenal paling diam dan tidak banyak protes pun menjadi geram.


"Pak Manto, apa masih jauh?" Mike menggulung kemejanya sampai ke siku.


"Sudah dekat tuan, itu di ujung sana!" kata pak Manto sambil menunjuk sisi sebelah kanan depan yang menampilkan deretan kambing kualitas super dengan harga yang cukup lumayan.


"Kalau begitu cepat pilihkan dan segera kita pergi dari sini!" Ron sudah tidak tahan dengan aroma kotoran yang seperti menohok paru-parunya.


"Baik tuan" Pak Manto kemudian menemui sang pedagang yang ternyata teman baiknya. Setelah bertransaksi tanpa negosiasi, karena memang The Andersons tidak butuh tawar menawar harga, akhirnya mereka pun pergi meninggalkan pasar.


"Ikuti mobil mewah ini ya" kata pak Manto kepada teman baiknya yang menjadi pedangan hewan itu saat mereka sudah di area parkiran mobil.


Mereka pun pulang dengan hati yang lega. Mike, Ron dan George sengaja tidak menyalakan AC mobil karena aroma kuat pasar hewan itu seperti tertinggal di dalam tubuh mereka, sehingga mereka membuka lebar-lebar jendela mobilnya dan menikmati terpaan angin segar yang cukup membantu meredakan rasa mual akibat aroma tak sedap tersebut. Sementara sang pedagang yang mengantarkan kambing kualitas super itu mengikuti mereka dari belakang menggunakan mobil pick up.


..........


"Ikat saja di sana!" perintah pak Manto kepada temannya itu sambil menunjuk sebuah Batang pohon yang amat besar di halaman depan rumah. Mereka memang sudah sepakat untuk mengerjakan kegiatan masak besar ini di rumah utama, karena selain adil di tengah-tengah, juga sang empunya yaitu duo grandma sedang tidak ada di rumah sudah hampir tiga bulan lalu, yaitu tepatnya setelah hari pernikahan Gaby dan Dimas berlangsung, karena mereka harus kembali mengurus bisnis fashionnya di benua eropa. Alhasil mereka bebas melakukan apapun sesukanya mengacak-acak kediaman utama The Andersons itu.

__ADS_1


"Wahhhhhh grandpa sudah pulang ya?" Gaby yang melihat ketiga pria tampan itu keluar dari mobil tersenyum dengan bahagia.


"Sekarang kami harus apa?" tanya Mike kepada sang putri.


"Sembelih, kemudian kuliti sampai bersih dan potong sebesar dadu untuk nanti di tusuk ke lidinya!" kata Gaby dengan santai sambil bergelayut di tangan sang suami.


"Aku lebih baik bekerja di kantor dan lembur satu bulan penuh dari pada harus mengerjakan hal beginian!" Ron putus asa.


"Daddy!" Ayu yang mendengar suaminya mengeluh langsung menghardik.


"Iya, maaf!" kata Ron lesu.


"Ayo kita mulai!" George mempercepat pekerjaannya karena ia tau bahwa ini akan memakan waktu yang lumayan lama.


"Lepas pakaian kalian supaya leluasa!" kata Ananda saat melihat ketiganya masih memakai kemeja dan celana panjang plus sepatu pantofel.


Setelah mengikuti perintah Ananda untuk melepas semua atribut kerja kantoran, akhirnya mereka mulai mengeksekusinya.


"Aku sudah pegang, dia saja yang terlalu sensitif dengan sentuhanku, makanya memberontak!" Ron membalas dengan kesal.


"Jangan salahkan kambingnya, kau saja yang tidak becus!" Mike menatap sinis sang adik.


"Sudah lebih baik kita tukar posisi saja, kau pegang kepala, aku yang sembelih!" Ron meraih pisau dari tangan Mike.


"Waaaaaaa waaaaaa, kenapa dia gerak-gerak sih!" Mike histeris ketika kambingnya memberontak saat Mike memegang kepalanya.


"Makanya jangan sok tau, sudah ku bilang susah kan mengendalikan ini kambing!" Ron mengejek sang kakak.

__ADS_1


"Kalian ini bisa diam tidak? aku sudah lelah ini memeluk begini terus!" George yang sejak awal persiapan sudah memeluk tubuh sang kambing seperti seorang pria memeluk wanitanya dengan posesif menjadi emosi jiwa.


"Cepat!!" George kembali membentak, sontak membuat keduanya takut.


Meskipun dalam kantor posisi George adalah asisten CEO, namun pada kenyataannya dalam dunia persahabatan mereka, ia adalah kakak tertua yang selalu disegani dan membuat keduanya ciut jika sudah marah-marah.


"Iya, iya,, kalem broooo!" Ron akhirnya memulai tugasnya meskipun dengan ngeri-ngeri sedap.


Butuh waktu hampir setengah hari untuk mereka membereskan semua potongan sesuai dengan harapan Gaby. Sebagian yang tidak dipotong untuk sate mereka bersihkan untuk kemudian diantar ke panti asuhan agar bisa diolah oleh keluarga panti sesuai dengan keinginan mereka.


..........


"Kipas yang benar!" Mike memerintah Ron untuk mengipas arang yang sudah mulai padam dengan kipas sate.


"Pegal tau, sebanyak ini!" Ron benar-benar dibuat emosi oleh Mike yang sepanjang mengerjakan selalu protes dengan pekerjaannya.


"Kenapa tidak pakai kipas angin saja sih?" George memberi usul.


"Kau tanya saja kepada tuan putri!" Ron sudah malas.


Kalau sudah begitu, baik Mike ataupun George juga sudah malas berkomentar, karena pasti memang Gaby memiliki alasan kuat kenapa meminta mereka mengipas dengan tangan alih-alih dengan kipas angin.


"Ya sudah, kerjakan saja yang baik!" begitulah pada akhirnya George berkata.


Mereka akhirnya memilih menyelesaikan apa yang sudah mereka mulai dengan baik. Dengan perjuangan yang panjang dan berat, akhirnya tugas hari ini selesai di meja makan. Demi seorang keturunan Anderson yang masih di dalam perut, sesepuh mereka rela menurunkan harga dirinya turun langsung ke lapangan untuk memilih bahan yang berkualitas dan menjadi tukang sate dadakan yang berlumuran peluh serta pakaian yang sudah tidak berwujud.


"Terima kasih grandpa, kalian bertiga luar biasa!" Gaby memeluk Mike, Ron dan George setelah semuanya selesai. Membuat ketiganya bernafas dengan lega karena hari ini berlalu juga.

__ADS_1


"Jangan berbahagia dulu, karena baru saja Gaby berbisik kalau dia menginginkan sesuatu kembali!" kata Ayu dengan senyum jahilnya kepada pria-pria itu, yang sontak membuat ketiganya melotot.


"Hahhh nasibbbb!!!"


__ADS_2