
"Dimas, ayo duduk!" nyonya Merlyn mempersilahkan calon cucu menantunya duduk di kursi yang bersebelahan dengan George dan Maya.
"Terima kasih nyonya" jawab Dimas dengan sopan.
"Sama-sama, ayo makan jangan sungkan ya!" kata nyonya Merlyn lagi dengan ramah.
"Kak, duduk sini" Ananda yang melihat putrinya baru turun dari kamarnya di lantai dua langsung meminta Gaby duduk di kursi yang tepat berhadapan langsung dengan Dimas.
"Iya Bun" jawab Gaby sambil duduk dengan santainya sebelum sesaat kemudian ia sadar dengan keberadaan Dimas yang ternyata sudah duduk terlebih dahulu tepat di depan kursinya.
Karena sejak pagi hari ia tidak turun dari kamarnya, Gaby pun tidak tau kalau ternyata Dimas datang dan sedang bekerja di ruangan ayahnya sejak tadi. Ia keluar kamar dengan pakaian rumah yang sangat santai dan tanpa make up menghiasi wajahnya, menunjukkan wajah aslinya yang sangat imut.
"Selamat siang nona" Dimas berusaha bersikap senormal mungkin.
"Siang" Gaby membalas dengan senyum yang dipaksa.
"Oya ngomong-ngomong bagaimana dengan acara besok? apakah sudah beres semua?" Ron sengaja memancing pembicaraan karena merasa suasana makan mereka terasa sangat canggung dan sunyi.
"Sudah, besok kita tinggal berangkat saja dari sini!" jawab Mike.
"Good!" Ron manggut-manggut.
"Oya, Dimas besok ikut rombongan keluarga kan?" nyonya Merlyn sengaja bertanya kepada Dimas.
"Dimas nginep di sini kan malam ini? pasti dong ya? kan kita sudah seperti keluarga, pastinya Dimas akan stay sampai acara selesaikan?" nyonya Ruth seperti memaksa dan memberi penekanan.
"Pastinya dong mom, kan pakaiannya saja sudah ada di dalam paket seragam keluarga kita" jawab Ayu menimpali dengan pura-pura lugu.
"Besok Dimas yang akan mengantar Gaby menuju hotel" kata Mike dengan santainya, membuat Gaby dan Dimas saling tatap dalam diam beberapa saat.
"Ditemani oleh Sera dan Rachel tentunya!" lanjut Mike lagi.
"Maaf duluan ya semua, aku sudah selesai" suasana hati Gaby yang sedang tidak enak, ditambah dengan kehadiran Dimas yang tiba-tiba, membuat nafsu makan Gaby menjadi hilang sama sekali.
"Kakak tidak menghabiskan makannya?" Ananda paham dengan sikap putrinya itu.
__ADS_1
"Kakak masih kenyang Bun" jawab Gaby sambil berdiri dan naik kembali ke kamarnya di lantai atas.
Mereka makan dengan tetap melanjutkan pembahasan tentang pertunangan besok, membuat Dimas merasa sangat tidak nyaman. Namun dengan sikapnya yang gentleman, Dimas tetap menghabiskan makanannya dan bertahan sampai acara makan siang selesai.
..........
"Dimas, tidak apa-apa kan kalau kita selesaikan ini sampai nanti malam?" Ron sengaja mengulur waktu penyelesaian pekerjaan mereka sampai malam hari agar rencananya menahan Dimas tetap tinggal dan menginap di rumah Mike berjalan sesuai rencana.
"Iya bos, tidak apa-apa" Jawab Dimas.
Bagi Dimas melakukan pekerjaan ini justru bisa sangat membantunya melupakan masalah pribadinya dengan Gaby yang sedang ia hadapi saat ini. Ia bahkan benar-benar menikmati mengerjakan tugas lemburnya itu sampai tidak terasa kalau sudah waktunya makan malam. Seperti halnya tadi siang, malam ini pun Dimas kembali makan bersama dengan keluarga besar Anderson plus Maya dan George yang sudah menjadi bagian dari keluarga. Namun bedanya kali ini Gaby sama sekali tidak turun dari kamar dan memilih untuk tidak makan bersama.
"Dimas, aku sudah meminta pelayan menyiapkan kamar tamu untukmu, jadi nanti kau tidak perlu capek-capek pulang ke apartemen dan kembali lagi kesini besok pagi. Pakaian tidur dan pakaian untuk besok pagi juga sudah disiapkan, jadi kau tidak perlu repot-repot lagi memikirkannya!" kata nyonya Merlyn yang sudah merencanakan ide ini sejak jauh-jauh hari.
"Terima kasih nyonya, saya jadi merasa merepotkan" Dimas benar-benar tidak enak.
Hal ini membuatnya tidak bisa menolak karena semua sudah disiapkan dengan baik, jika dia menolak takutnya malah akan menyinggung perasaan keluarga Anderson.
"Jangan sungkan, kau sudah aku anggap seperti cucuku sendiri" kata nyonya Merlyn dengan sangat lembut.
..........
"Nona!?" Dimas yang baru selesai mengerjakan pekerjaan lemburnya di ruang kerja Mike berpapasan dengan Gaby yang baru saja turun dari kamarnya.
"Om Dimas belum tidur?" tanya Gaby basa-basi.
"Belum nona, saya baru selesai mengerjakan tugas terakhir Minggu ini" jawab Dimas.
"Oohhhhh" Gaby hanya ber oh ria saja.
"Nona sedang apa?" tanya Dimas.
"Aku ingin masak untuk makan" kata Gaby yang merasa lapar karena sejak siang ia hanya makan sedikit.
"Biar saya bantu nona" Dimas menawarkan diri.
__ADS_1
"Tidak perlu, terima kasih!" Gaby berkata dengan datar dan langsung berjalan ke arah dapur.
"Apa yang bisa saya bantu?" Dimas mensejajarkan dirinya dengan Gaby yang sedang sibuk memotong sayuran.
"Tidak perlu Om, aku bisa sendiri!" jawab Gaby dingin.
"Sini biar saya bantu potong" Dimas mengambil sayuran yang masih belum dipotong.
"Tidak usah!!!" Gaby membentak.
"Kenapa sih Om tidak pergi saja? kenapa terus menggangguku????" Gaby histeris sambil memukul tubuh Dimas.
"Nona!!" Dimas langsung memeluk gadis yang ia cintai itu.
"Kenapa harus seperti ini!?" Gaby tidak bisa lagi menahan tangisnya.
"Maafkan saya nona!" Dimas yang tak kuasa menahan dirinya lagi, langsung mencium bibir Gaby dan menumpahkan segala emosinya yang sudah tak tertahankan itu. Cukup lama mereka berpagut untuk melepas rindu yang seperti sudah seribu tahun lamanya tidak bertemu.
"Aku takut!" Gaby terisak pilu membayangkan hari esok.
"Nona, berjanjilah pada saya untuk hidup dengan bahagia, saya akan berdoa untuk kebahagian nona seumur hidup!" Dimas mengusap air mata Gaby yang mengalir deras tanpa bisa dibendung.
"Aku tidak bisa!" Gaby seperti tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi hari pertunangannya besok.
"Anda adalah wanita yang sangat hebat, saya yakin anda pasti bisa melalui semua ini dengan baik!" Dimas membelai pipi Gaby dengan lembut.
"Ayo kita lanjutkan masaknya, agar nona bisa makan dan kemudian istirahat supaya besok bisa lebih fresh!" Dimas kemudian mulai memotong sayurannya.
Mereka memasak dan makan dalam diam. Dimas yang awalnya hanya ingin membantu, akhirnya ikut makan bersama untuk memberikan dukungan moral kepada gadisnya itu.
"Sudah selesai" Dimas menaruh piring terakhir yang sudah dicucinya ke rak piring.
"Sekarang nona kembalilah ke kamar untuk istirahat, percayalah nona, meskipun kita tidak bisa bersama, namun saya akan tetap terus disamping nona selamanya, nona bisa mengandalkan saya bila membutuhkan pertolongan!" Dimas menatap dengan yakin.
"Terima kasih Om" Gaby memeluk Dimas untuk yang terakhir kalinya.
__ADS_1