Malaikat Kecilku Gabriella

Malaikat Kecilku Gabriella
Mobil Mogok


__ADS_3

Hari-hari berjalan begitu cepat, sudah hampir satu minggu Gaby bekerja di restoran ternama se benua eropa itu.


"Mama gak mau papa anter aja?" Dimas yang sedang menyantap sarapannya bertanya kepada sang istri.


"Gak usah pa, kan mama biasa bawa mobil sendiri, papa fokus kerja aja ya" kata Gaby sambil menyuapi Divo bubur tim kesukaannya.


"Ya sudah terserah mama saja" Dimas akhirnya menyerah. Ia memang sangat paham karakter sang istri yang sangat mandiri sejak mereka belum menikah.


"Mam, mam, mam" Divo yang sudah mulai mengucapkan beberapa kata memberi kode kepada sang mama untuk menyuapinya bubur.


"Uhhhh pelan-pelan dong gantengnya mama, kan gak ada yang minta" Gaby sangat gemas melihat putranya lahap memakan menu sarapannya.


"Divo nanti main yang baik sama grandma ya" Dimas yang sudah selesai sarapan langsung mendekati putranya yang duduk di baby chair.


"Iya papa" jawab Gaby mewakili Divo dengan suara anak kecil membuat sang suami tergelak.


Meskipun mereka berdua kini sudah harus meninggalkan Divo sendiri di rumah bersama grandma dan pengasuhnya saja saat mereka bekerja di siang hari, namun semaksimal mungkin mereka tetap memberikan waktu yang berkualitas bagi sang buah hati setiap harinya yaitu saat sarapan dan makan malam bersama.


..........


"Ck, kenapa sih ini mobil, biasanya gak pernah begini" Gaby bermonolog sendiri saat ia berada di tempat parkir mobil dan hendak pulang ke rumah.


"Ada apa Gaby?" seseorang tiba-tiba muncul di belakang Gaby dan bertanya kepadanya.


"Eh chef Max, ini mobil saya tidak bisa nyala, entah kenapa tiba-tiba seperti ini, padahal biasanya tidak pernah" Gaby menjelaskan kepada Max.


"Coba aku liat" Max membuka kap mobil dan mengecek mesinnya.


"Bagaimana chef?" tanya Gaby.


"Sepertinya harus di bawa ke bengkel, karena ada yang putus kabelnya" kata Max menjelaskan.


"Duh, ada-ada saja sih" Gaby menghela nafasnya.


"Sudah kamu pulang bareng saya saja, biar saya antar sampai di rumah, nanti mobilnya minta di derek ke bengkel saja" kata Max memberi solusi.


"Maaf ya chef jadi merepotkan" Gaby merasa sungkan, namun ia pun tidak punya pilihan lain karena pikirannya hanya ingin cepat sampai rumah dan bertemu dengan putra kesayangannya Divo.


"Ayo masuk" Max kemudian membukakan ointu mobilnya untuk Gaby.


"Terima kasih" Gaby duduk di kursi depan bersebelahan dengan Max yang mengendarai mobilnya.


"Sabuk pengamannya" kata Max sambil mencoba membantu.


"Terima kasih, biar saya sendiri saja" Gaby menolak dengan halus, membuat Max kembali ke posisi awal.


"Ini mau diantar ke mana?" Max bertanya sambil mengendarai mobilnya.


"The Mansion City chef" kata Gaby.

__ADS_1


"Max, panggil saja Max, kita kan sedang tidak bekerja" kata Max sambil sesekali menolek ke arah Gaby.


"Duh tidak sopan dong, kan sama atasan" Gaby merasa canggung jika harus memanggil hanya dengan nama.


"Tidak apa-apa, lagian usia kita paling tidak terlalu jauh, ayo coba panggil Max saja" Max tetap bersikeras.


"Baiklah, Max" kata Gaby pada akhinya.


"Nah begitu jadi lebih santai" Max mengembangkan senyumnya.


Kringggg Kringgggg, ponsel Gaby berdering menunjukkan nama Sera.


"Iya Sera, ada apa?" Gaby menjawab telponnya.


"Kak, aku boleh titip sesuatu tidak?" Sera bertanya di sebrang sana.


"Mau titip apa?" tanya Gaby lagi.


"Aku minta tolong titip belikan seblak extra hot yang ada di depan komplek heheheh" kata Sera sambil tekekeh.


"Mau berapa?" tanya Gaby.


"Satu saja, eh dua deh buat kak Raf satu, nanti dia ngambek kalau tidak dibelikan" kata Sera lagi.


"Baiklah, apa ada lagi?" tanya Gaby.


"Tidak, itu saja" kata Sera yang memang senang sekali dengan seblak.


"Terima kasih ya kakakku sayang" Sera berkata dengan manja.


"Sama-sama cantik" jawab Gaby kemudian menutup telponnya.


"Maaf ya, itu tadi adik saya" Gaby menjelaskan kepada Max.


"Memangnya kamu punya berapa saudara?" Max mulai mencari informasi mengenai kehidupan pribadi Gaby.


"Ada dua, satu laki-laki, satu lagi perempuan, yang barusan telpon" jawab Gaby menjelaskan tanpa berfikir macam-macam.


"Kamu yang paling besar?" tanya Max lagi.


"Iya, saya nomor satu" Gaby mengangguk.


"Ohhhh" Max ber oh ria.


Max memang tidak mengetahui latar belakang Gaby, karena yang memegang CV setiap karyawan adalah Dyah selaku kepala HRD di restoran tempat mereka bekerja, sementara Max hanya bertanggung jawab untuk mengurusi segala hal yang berhubungan dengan urusan dapur saja.


"Max, saya turun di sini saja" kata Gaby menunjuk kedai seblak di depan komplek rumahnya.


"Loh, ini kan masih di depan komplek, belum sampai rumah kan?" Max bingung.

__ADS_1


"Iya, tadi adik saya memesan dibelikan seblak di sini" kata Gaby sambil membuka sabuk pengamannya.


"Kalau begitu biar aku temani saja, nanti aku antar sampai rumah" Max ikut membuka sabuk pengamannya.


"Duh jadi merepotkan, padahal nanti saya bisa kok naik ojek" kata Gaby.


"Sudahlah, tanggung" kata Max yang langsung berjalan ke arah kedai seblak membuat Gaby tidak bisa menolak.


..........


"Kakakkkk" Sera yang sudah tidak sabar memakan seblak langsung menyambut Gaby di halaman rumahnya.


"Hai sayangku" Gaby memeluk Sera dengan lembut.


"Loh kakak pulang sama siapa?" tanya Sera melihat Max yang sudah keluar dari mobilnya.


"Ohh ini namanya Chef Max, bos kakak di restoran" Gaby memperkenalkan Max kepada Sera.


"Halo, aku Max" sambil mengulurkan tangan.


"Sera" jawab Sera dengan santai.


"Kakak tidak bawa mobil?" Sera heran karena tidak biasanya Gaby naik mobil dengan orang lain.


"Mobil kakak masih di restoran, tadi pas mau pulang mogok, jadi akhirnya Chef Max yang bantu kakak antar sampai rumah" Gaby menjelaskan.


"Ohhhhhh" Sera ber oh ria sambil manggut-manggut.


"Mana Divo?" Gaby mencari keberadaan putranya.


"Divo sedang mandi sama bunda" jawab Sera sambil menunjuk ke lantai atas.


"Ohhhhh, ya sudah biar kan saja dulu deh, nanti saja kakak main sama Divonya" kini giliran Gaby yang ber oh ria dan manggut-manggut.


"Oya, chef mau masuk dulu?" Gaby berbasa-basi.


"Ah tidak usah, nanti kamu jadi tidak bisa bermain sama adik-adik kamu kalau aku lama-lama disini" Max mengira bahwa Divo adalah adik laki-laki yang ingin diajak main oleh Gaby.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya" Max berpamitan.


"Iya, terima kasih ya sudah membantu" kata Gaby sambil mengangguk hormat.


"Iya, sama-sama" jawab Max.


"Hati-hati di jalan ya" Gaby melambaikan tangannya sebagai bentuk sopan santun.


"Terima kasih" Max sangat berbunga-bunga ketika Gaby melambaikan tangan dan memintanya berhati-hati di jalan.


"Ayo masuk" kata Gaby sambil menggandeng tangan Sera setelah Max melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Tunggu aku Gaby" kata Max dengan senyum yang mengembang setelah ia keluar dari halaman rumah Mike.


__ADS_2