
Setelah drama taruhan para suami dan ngidam para istri yang sekaligus juga sebagai ajang balas dendam, kini usia kandungan Gaby pun sudah mendekati waktu persalinan.
"Ma, adik kapan lahirnya sih? kok lama sekali?" tanya Divo yang sudah tidak sabaran.
"Doakan satu minggu lagi ya sayang" jawab Gaby kepada sang putra sulung.
"Dedek, ini kak Diva, jangan nakal ya di perut mama, harus jadi anak pintar ya sampai nanti waktunya lahir!" dengan penuh kasih sayang sang kakak menasehati adik bungsunya yang masih di dalam perut mama.
"Iya kakkkk" kemudian Gaby menjawab dengan suara anak bayi, yang membuat Divo dan Diva tergelak.
"Kalian lagi ngapain sih?" Dimas yang melihat Divo, Diva dan sang mama sedang asik tertawa kemudian ikut bergabung.
"Aku lagi nungguin dedek lahir pa" kata Divo dengan antusias.
"Iya, tadi aku juga ngajak dedek berbicara" kini giliran Diva yang berkata.
"Doakan mama ya supaya sehat sampai dedeknya lahir" sesungguhnya Dimas merasa sangat cemas menunggu hari lahir anak bungsunya tersebut. Sejak ia mengetahui alasan mengapa Gaby menolak untuk hamil lagi, rasa sedih dan bersalahnya terhadap sang istri seperti tidak ada habisnya.
"Pasti dong pa, kak Divo dan kak Diva kan rajin berdoa ya?" Gaby yang selalu melihat raut cemas dan bersalah di wajah suaminya merasa jadi kasihan sendiri.
"Iya" sahut keduanya secara bersamaan.
"Ya sudah kakak berdua sekarang bobok gih, sudah malam, besok baru main lagi sama dedeknya" Gaby mengelus kepala putra dan putrinya.
"Oke ma" angguk Divo.
"Selamat malam ma, pa" Diva pun mengecup pipi kedua orang tuanya sebelum kemudian ia keluar dari kamar.
"Selamat malam sayang" jawab Gaby sambil membalas kecupan sang putri.
"Mimpi indah ya kak" Dimas memeluk kedua anaknya.
..........
"Paaa, bangun paaa" Gaby yang merasakan kontraksi hebat kemudian membangunkan suaminya.
"Kenapa ma?" Dimas terkejut dengan wajah sang istri yang sudah penuh keringat.
"Mama sepertinya mau melahirkan" jawab Gaby.
"Ya sudah ayo kita ke rumah sakit!" Dimas kemudian menggendong sang istri menuju ke mobilnya.
"Tolong jaga anak-anak ya, lalu kasih tau ke mama dan papa di sebrang supaya bilang ke keluarga besar yang lain!" sebelum berangkat ke rumah sakit Dimas berpesan kepada asisten rumah tangganya.
"Baik tuan" kata sang asisten.
__ADS_1
"Awwww paaa, ini sangat sakit" sesungguhnya sejak kemarin Gaby memang sudah mulai mengalami kontraksi semu, namun karena durasinya masih jarang dan jaraknya masih pendek-pendek maka ia belum memberitahukan kepada suaminya.
"Tahan ya ma, sebentar lagi kita sampai" jawab Dimas sambil menyetir mobil.
"Arghhhhh" Gaby sudah tidak tahan lagi, air ketubannya sudah pecah dan membasahi seluruh jok mobilnya.
"Sayang sabar dulu ya" Dimas mengelus perut istrinya dengan tangan yang bergetar hebat saking paniknya. Bayangan Gaby dimasa lalu yang sempat kritis berkelebatan di otaknya.
"Paaaaa" Gaby melenguh menahan rasa sakitnya.
"Maaa tahan dulu ya, sebentar lagi kita sampai" Dimas masih berusaha fokus menyetir.
"Tidak pa, mama sudah tidak kuat lagi, cepat menepi, bantu mama paaaa" kata Gaby.
"Tapi ma" pria itu bingung setengah mati.
"Cepat, bantu mama, ini sudah di ujung!" Gaby berteriak histeris saking sakitnya. Ia merasa sang bayi sudah mulai bergerak keluar.
"Iya, iya baik" Dimas kemudian menepi sesuai dengan perintah sang istri.
"Turunkan kursi mobilnya lalu lepaskan celana mama!" Gaby memberi instruksi, sementara Dimas hanya mengikuti saja.
"Arggghhhhhh paaaaaa arrrgggghhhhhh pegang dedek supaya tidak jatuh arrrggghhhhh" dengan sekali dorongan kuat Gaby pun berhasil melahirkan bayinya.
"Owek, owek owek" putra ketiga Gaby dan Dimas pun lahir di dalam mobil dengan selamat.
"Cepat pa jalan lagi" Gaby menepuk lengan suaminya yang masih syok melihat sang istri melahirkan di dalam mobil secara normal hanya dengan kondisi seadanya.
"Eh iya" Dimas pun kemudian mulai melajukan mobilnya dengan wajah yang masih pias karena tidak percaya dengan kejadian yang baru saja terjadi.
..........
"Tolong bantu istri saya, tadi dia melahirkan ditengah perjalanan menuju ke sini!" Dimas kemudian menunjuk ke arah Gaby dan bayi mereka.
Dengan sigap tim medis pun mengangkat Gaby dan bayinya ke atas brankar rumah sakit.
"Selamat ya tuan dan nyonya, meskipun dengan kondisi yang seadanya di tengah jalan, namun bayi yang dilahirkan sangat sehat dan normal" dokter yang membantu memeriksa kondisi ibu dan bayinya memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.
"Terima kasih dokter" Dimas tersenyum bahagia. Setelah selama beberapa bulan hatinya tidak tenang karena kondisi sang istri, akhirnya kini ia merasa lega.
"Kami akan membersihkan ibu dan bayinya dulu, baru setelah itu dipindahkan ke ruang perawatan" kata sang dokter lagi.
"Baik" Dimas pun mengangguk.
Tidak butuh waktu yang lama bagi Gaby untuk bisa memulihkan kondisinya pasca melahirkan. Setelah dibersihkan dan di pindah ke kamar rawat, ibu tiga anak itu sudah seperti layaknya orang sehat kembali.
__ADS_1
"Ma, istirahat dulu, jangan banyak gerak" Dimas masih takut dengan kondisi sang istri.
"Mama sudah tidak apa-apa kok pa" Gaby merubah posisinya dari tiduran menjadi duduk.
"Tapi kan mama baru melahirkan" Dimas tetap tidak tega.
"Mama kan melahirkannya dengan cara normal, jadi sekarang sudah tidak sakit lagi pa" Gaby yang rajin ikut kelas senam hamil memang sudah mempersiapkan fisiknya dengan baik, sehingga kondisinya cepat pulih.
"Sayang" Ananda yang baru datang langsung memeluk Gaby dengan erat.
"Bunda" Gaby sangat bahagia melihat kehadiran kedua orang tuanya.
"Mana cucu grandpa?" Mike langsung menuju ke boks bayi yang ada di sebelah Gaby.
"Jagoan Anderson bertambah satu lagi ya?" pria tua itu menggendong cucunya dan mengajaknya bicara layaknya orang dewasa.
"Nak" tidak lama berselang mama dan papa Dimas serta Divo dan Diva pun tiba.
"Mama" Gaby memeluk ibu mertuanya.
"Wah tampannya cucu grandpa yang paling bungsu!" kata papa Dimas sambil melihat wajah bayi yang digendong oleh Mike.
"Ini tuan gendonglah" Mike kemudian memberikan bayinya kepada sang besan.
"Terima kasih" senyum bahagia terpancar dari grandpa.
"Kakak mau lihat dong" Divo penasaran dengan wajah adik laki-lakinya.
"Kak Diva juga dong" keduanya lalu rebutan untuk memangku sang adik bungsu.
"Selamat berpuasa ya Dim" Ron yang baru tiba langsung memberi kado sebungkus permen kepada sang keponakan.
"Daddy!" Ayu memukul lengan suaminya.
"Apa kau butuh bantuan membeli kado juga untuk suamimu Ayu?" George tersenyum jahil.
"Iya, belikan dua bungkus sekalian, satu untuk Ron satu lagi untuk papa sendiri!" Maya menjawab dengan tatapan membunuh, membuat yang ditatap langsung menciut.
"Hahaha rasakanlah kalian!" Mike ikut-ikutan.
"Tiga bungkus sekalian ya!" Ananda yang melihat suaminya mengolok-olok Ron dan George pun ikut terpancing, membuat sang suami menelan salivanya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, satu persatu keluarga besar Anderson pun mulai berdatangan. Seperti biasanya suasana ramai pun langsung terjadi ketika mereka semua berkumpul dalam satu ruangan.
"Selamat datang ke dunia putraku sayang Gadive!" Batin Gaby dalam hati. Rasa bahagia Gaby tumbuh berkali-kali lipat dengan kehadiran sang buah hati. Meskipun awalnya ia gentar karena kondisi fisiknya tidak cukup mendukung, namun dengan persiapan yang matang ia pun bisa melewati ini semua dengan baik.
__ADS_1
"Terima kasih nak karena sudah lahir dengan selamat!" Begitu pula dengan Dimas, setelah rasa berdosa dan takut kehilangan sang istri selama berbulan-bulan, akhirnya kini semua terbayar dengan manis. Kelahiran sang buah hati dengan jalan normal yang tergolong sangat mudah, membuatnya merasa sangat bersyukur karena semua rasa takutnya tidak terjadi. Mereka berdua kini bisa hidup bahagia dengan ketiga buah hatinya.
...THE END...