
Mppppffftttttttt
Kopi yang baru saja di seruput oleh Refal langsung Refal semburkan begitu saja hingga membuat lantai ruangan itu kotor.
Kemudian Refal menatap Shenina yang sedang memasang wajah tidak berdosa. Untung tidak di semburkan pada wajah Shenina kan...
"Kamu mau membuat saya diabetes dan lidah saya sakit ha? Kamu ingin saya mati muda?" Bentak Refal membuat Shenina sedikit terkejut karena sebelumnya Refal adalah pribadi yang lemah lembut dan sabar, bukan kasar dan arogan seperti ini.
Nyeri, sungguh nyeri dibentak Refal seperti ini~
"Kenapa memang Pak? Kopinya gak enak ya?" Tanya Shenina yang masih memasang wajah tidak berdosa.
"Kopi yang kamu buat ini terlalu manis dan terlalu panas Shenina!" Kesal Refal yang langsung mengambil air mineral di lemari pendingin mini yang ada di ruangannya.
Refal meminumnya dengan sekali tandas. Lelaki itu sungguh tidak tahan dengan rasa manis yang menempel di lidah hingga tenggorokannya juga rasa kebas karena kopi terlalu panas.
" Maafkan saya pak Refal, saya kan gak tahu takaran yang pas dalam membuat kopi, saya tidak tahu selera anda. Dan Saya tidak pernah membuat kopi sebelumnya pak." Jawab Shenina sambil menunduk merasa bersalah.
Padahal, Shenina tersenyum dalam hati karena memang dia sengaja membuat kopi itu terlalu manis dan terlalu panas. Shenina tahu Refal tidak suka makanan dan minuman yang terlalu manis. Dan untuk tingkat kepanasan kopi itu sendiri, Shenina memang berniat memberikan pelajaran pada Refal agar mulut juga lidahnya itu tidak sembarangan berucap.
"KAMU!" Teriak Refal dengan penuh emosi.
Dia yang masih bingung harus bersikap seperti apa pada Shenina, kenapa Shenina terlihat sengaja mengerjai dirinya? bukankah cerita Alula kemarin, Shenina adalah pribadi yang sangat pendiam dan tertutup kenapa sekarang se bar bar ini?
Entahlah.. hari pertama bertemu dengan Shenina adalah hari yang ia tunggu-tunggu... kenapa menjadi hari yang aneh seperti ini?
"Karena kamu baru hari ini bekerja, maka saya maafkan kamu. Tapi setelah ini, belajar membuat kopi dengan baik dan benar. Jika ini terulang kembali, atau kamu melakukan kesalahan fatal lagi, maka saya tidak segan memberikan kamu hukuman ataupun memotong gaji kamu." Ucapan Refal dengan sangat tegas juga tatapan tajam membuat Shenina sedikit merinding.
Oke, jika tidak teringat kontrak dengan segala konsekuensi yang ada, mungkin saat ini juga Shenina memilih resign dari Wishnutama dan memilih mencari pekerjaan di perusahaan yang biasa-biasa saja. Tidak masalah tidak bekerja di perusahaan bonafid asal tidak berhubungan dengan mantan.
"Terima kasih sudah memaafkan kesalahan saya." Gumam Shenina lirih sambil menunduk.
"Duduk, dan baca kertas yang ada di meja itu! itu job desk kamu selama menjadi asisten pribadi saya selama enam bulan ke depan." Ucap Refal masih dengan wajah kesal. Sepertinya Refal tidak berminat untuk memperpanjang kontrak Shenina dan Shenina juga tidak berharap untuk itu.
Shenina pun menurut tanpa berucap sepatah kata pun. Gadis berlesung pipi itu sebenarnya sedang berusaha keras untuk menetralkan hatinya, bagaimana pun Refal adalah cinta pertamanya dan mantan pacar satu-satunya sekaligus lelaki yang sudah menorehkan luka teramat dalam di hatinya. So, sebenarnya tidak mudah bagi Shenina berdiri dihadapan Refal saat ini.
__ADS_1
Luka yang empat tahun masih belum juga kering padahal Shenina sudah berusaha mengubur semua kenangan tentang Refal bahkan selalu berusaha menghindari Refal, namun kini Tuhan mempertemukan dirinya dengan Refal kembali. Luka di hati Shenina yang belum kering itu terasa disiram oleh air garam.
Baru juga Shenina membaca point pertama pada lembar job desk nya, suara ponsel yang ada di hadapan Shenina membuat konsentrasi Shenina terganggu.
Saat ini, Shenina duduk di depan meja kerja Refal dan ponsel Refal berada di meja yang sama dengan Shenina. Namun Shenina mencoba berlagak tidak peduli, toh itu tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya dan Shenina bukanlah orang yang suka kepo dengan kehidupan orang lain.
Refal segera mengambil ponselnya dan duduk di kursi kebesarannya, dihadapan Shenina dengan sangat santai menatap layar ponselnya kemudian tersenyum.
"Selamat pagi tuan putri..." Sapa Refal dengan suara yang sangat lembut membuat Shenina melirik sekilas.
"................"
"Iya.. tadi aku udah makan ko. kamu sedang apa?" Tanya Refal.
Suara Refal yang terdengar lembut saat ini membuat hati Shenina sedikit mencelos, Refal dulu berbicara selembut itu dengannya. Iya, dengannya tapi itu dulu.
"............"
"Oke siap... iya sahabat kamu sekarang ada di hadapanku membaca lembar job desk -nya sebagai asistenku." Refal melirik Shenina yang nampak tidak mempedulikannya padahal telinga Shenina terbuka lebar-lebar.
"........."
Deg.
Deg.
Deg.
"Alula? jadi bener kata Pak Lukman HRD kemarin kalau Alula memiliki hubungan spesial dengan Direktur Produksi yang tidak lain adalah Refal? Benar kata Bu Mira kalau Alula itu kekasih Refal?" Batin Shenina yang langsung merasakan perasaan yang tidak nyaman dihatinya. Entah perasaan apa itu...
"Kalau Refal punya hubungan dengan Alula, lalu bagaimana dengan wanita itu?" Shenina pun bertanya-tanya dalam hatinya.
Refal pun meletakkan ponselnya setelah menyudahi panggilan telfonnya. Lelaki yang satu tahun lebih tua dari Shenina itu pun kembali menatap Shenina.
"Bagaimana, ada yang mau kamu tanyakan?" Tanya Refal. Shenina tersadar dari segala pemikirannya yang tidak jelas.
__ADS_1
Gadis cantik 25 tahun itu hanya diam melanjutkan membaca job desk -nya sebagai asisten pribadi Direktur Produksi.
"Maksudnya apa ini?" Shenina menatap Refal dengan penuh tanda tanya.
"Maksudnya apa bagaimana?" Refal balik nanya karena dia tidak paham dengan arah pertanyaan Shenina. Sebenarnya paham sih, tapi pura-pura aja.
"Saya bekerja di Wishnutama sebagai asisten pribadi anda, kenapa saya harus siap bekerja 24 jam disaat anda membutuhkan saya kapan pun. Bahkan itu diluar masalah perusahaan?" Tanya Shenina yang memang membutuhkan penjelasan.
Shenina tidak mau terjebak kedua kalinya, dia harus lebih jeli dan berpikir panjang pada setiap point yang ada dihadapannya.
Karena kemarin Shenina tidak ingin mengecewakan Alula, Shenina pun tanda tangan kontrak tanpa pikir panjang dan mencari tahu segalanya lebih detail.
"Menurut saya, kamu cukup cerdas untuk memahami kalimat itu Shenina." Jawab Refal santai tersenyum senang akan job desk yang baru saja ia print. Job desk yang baru saja di revisi oleh mantan asisten pribadi Refal sesuai permintaan Refal kemudian dikirim via email. Dan Refal print sebelum Shenina kembali ke ruangannya dengan secangkir kopi.
"Saya tidak mau!" Tolak Shenina dengan tatapan sengit.
Penolakan Shenina sungguh melukai harga diri Refal.
"Kamu tidak bisa menolak karena kamu tidak memiliki pilihan Shenina Anastasya... Kamu pikir perusahaan mau menggaji kamu dengan setinggi itu? tidak Shenina, perusahaan hanya menggaji kamu itu 40% dari nominal yang ada di kontrak. Sisanya saya yang membayar kamu." Jelas Refal tersenyum tipis. Senyum yang nampak licik di mata Shenina.
"Oke, saya hanya akan menerima 40% gaji saya dengan pekerjaan yang sewajarnya sebagai asisten pribadi seorang direktur produksi, yaitu menjadwalkan dan mengingatkan jadwal anda... membuat, menyusun dan menyiapkan laporan juga presentasi anda."
"Kontrak kerja tidak bisa di revisi seenak jidat kamu Shenina. Karena semua job desk kamu sudah tertuang dalam kontrak kerja itu secara detail, dan kamu menyetujuinya." Kata Refal. Untung otaknya cerdas, setelah tahu asisten pribadinya adalah Shenina, Refal bergerak cepat meminta mantan asistennya merubah semuanya sesuai dengan yang ia mau. Termasuk berkas yang di pegang HRD.
"Tidak, kemarin saya membaca itu tidak ada job desk seperti ini!" Iya, Shenina sangat yakin bahwa dirinya tidak menemukan job desk diluar nalar dalam lembar kontra kerja yang ia tanda tangani kemarin.
"Lain kali kamu harus lebih teliti dalam membaca setiap kata dalam kontrak kerja Shen... Sekarang kamu pilih saja, mau menuruti semua yang sudah tertulis atau mengundurkan diri dengan membayar pinalti." Shenina diam dengan emosi yang sungguh sudah ingin meledak.
"Elu sengaja kan menjebak gue dengan pekerjaan ini?" Tanya Shenina berapi-api hingga melupakan sopan santun.
Bukannya marah, Refal justru tertawa melihat wajah sang mantan kekasihnya itu merah padam. Inilah yang dia mau, membuat Shenina kesal sendiri.
"Kamu terlalu percaya diri kalau aku menjebak kamu Shenina, karena sejak saya bekerja disini dengan asisten saya sebelumnya... job desk dia yang memang seperti itu.. Dan aku pun tidak tahu jika sahabat yang Alula maksud adalah kamu." Refal tersenyum remeh pada Shenina membuat Shenina mengepalkan tangannya.
to be continued
__ADS_1
terima kasih yang mau baca novel ini...
yuk tinggalkan like dan komentar 🤍