
Setelah mendengar persetujuan Shenina, Alula pun langsung mengirimkan sejumlah uang pada Shenina dengan resep obat yang biasa diminum oleh Refal.
Alula juga meminta Shenina untuk naik taksi ke Lavenue Apartemen yang merupakan tempat tinggal Refal karena naik taksi akan lebih aman dan nyaman apalagi malam-malam begini.
Dengan berat hati karena tidak ingin membuat Alula kecewa, Shenina pun melakukan apa yang diminta oleh Alula. Ingat, apa yang diperintahkan oleh Alula, bukan karena Refal.
Misal karena Refal pun, Shenina menegaskan pada dirinya sendiri bahwa itu merupakan sikap profesional dalam pekerjaan.
Sepanjang perjalanan menuju Lavenue Apartemen, Shenina memikirkan perasaannya sendiri yang entah apa itu. Yang jelas Shenina merasa bahwa dia belum siap bertemu dengan Refal kembali. Namun situasi dan kondisi tidak berpihak lagi padanya.
Shenina juga merasa mempunyai hutang budi yang besar pada Alula karena memberikannya pekerjaan dengan gaji yang tinggi sehingga sangat sulit menolak permintaan sahabatnya tersebut. Permintaan yang akan selalu membuat batinnya tersiksa sendiri.
Namun satu hal yang Shenina syukuri yaitu Alula yang tidak tahu jika Refal mantan kekasihnya adalah Refal yang menjadi bosnya saat ini dan kekasih Alula sekarang. Menurut Shenina, Alula selamanya tidak perlu tahu akan hal itu agar hubungannya dengan Alula tetap baik-baik saja. Dan nanti Shenina akan meminta Refal untuk menutup masa lalu mereka rapat-rapat.
"Mba, sudah sampai di lobby Utara Lavenue." Kata pak Supir taksi online yang membuat Shenina tersentak.
"Maaf ngagetin ya mba.." Supir taksi itu pun tersenyum dengan raut merasa bersalah pada Shenina. Pasalnya, taksi sudah berhenti beberapa detik lalu namun tidak ada pergerakan sedikitpun dari Shenina karena gadis itu tengah melamun.
"Oh iya pak... maaf maaf saya gak ngeh kalau sudah sampai." Kata Shenina tersenyum sungkan dan diangguki oleh sang supir.
"Pembayarannya udah lewat aplikasi ya pak." Ujar Shenina.
"Iya mba... jangan lupa kasih bintang lima ya mba... terima kasih." sambung sang supir taksi.
"Siap pak.. terima kasih kembali pak... selamat malam." Ucap Shenina sebelum keluar dari mobil taksi tersebut dengan menenteng tas juga paper bag kecil yang berisi obat untuk Refal.
Sesuai arahan Alula, Shenina pun meminta tolong pada resepsionis apartemen untuk memberikannya akses naik ke lantai 35.
Maklum, apartemen mewah ini tidak bisa sembarangan orang keluar masuk, bahkan penghuninya saja tidak bisa ke lantai-lantai lain sesuka hatinya. Jadi mereka harus memiliki card khusus sesuai lantai yang dituju saja.
Sebelum Resepsionis memberikan akses card untuk Shenina, resepsionis pun harus memastikan dulu pada pemilik apartemen yang hendak Shenina kunjungi. Apakah sang penghuni apartemen mengizinkan tamunya naik atau tidak. Semua itu dilakukan demi kenyamanan para penghuni apartemen.
"Silahkan nona.. ini kartu aksesnya menuju lantai 35. Nanti dari pintu lift, anda langsung belok kiri saja hingga mentok untuk sampai ke unit no 7 milik Pak Refaldy." Jelas resepsionis wanita yang nampak cantik dan ramah itu setelah selesai menghubungi Refal.
__ADS_1
"Oke. terima kasih." Jawab Shenina menerima kartu akses tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu lagi?"
"Tidak terima kasih." Jawab Shenina meninggalkan meja resepsionis dan berjalan menuju lift yang tidak jauh dari sana.
...***...
Shenina berdiri mematung di depan pintu berukuran besar dengan bertuliskan nomor 7 yang cukup besar.
7?
Angka yang Shenina sukai menjadi nomor unit apartemen Refal. Sebelum pikirannya terlalu jauh dan melantur Shenina memilih untuk langsung memencet bel unit apartemen tersebut. Toh semuanya pasti hanya kebetulan saja.
Beberapa kali Shenina memencet bel sambil menghela nafasnya dengan kasar kemudian menghirup oksigen sebanyak-banyaknya agar nanti dia bisa bersikap profesional di hadapan Refal seperti karyawan pada atasannya, bukan mantan kekasih.
Ceklek
Pintu apartemen terbuka dari dalam membuat tubuh Shenina tegang seketika.
Refal tidak menyambut Shenina. Lelaki yang katanya sedang tidak enak badan itu hanya membuka pintu kemudian berlalu begitu saja.
Dengan langkah yang teramat berat, Shenina pun memasuki apartemen mewah yang dihuni oleh sang mantan kekasih.
Shenina yakin, harga apartemen disini pasti puluhan milyar. Karena dari luar saja sudah nampak mewah, belum lagi lobby dan seluruh koridor apartemen, semuanya elegan dan mewah.
Kesan pertama yang Shenina tangkap saat memasuki apartemen Refal untuk pertama kali adalah bersih dan mewah dengan desain interior bernuansa abu-abu.
"Kemana dia?" Gumam Shenina pelan saat sudah beberapa langkah masuk ke dalam living room milik Refal. Niat hati Shenina hanya menyerahkan obat ini kemudian kembali, tapi kenapa Refal langsung masuk ke dalam entah dimana.
drrtt... drrtt... drrtt....
Ponsel Shenina bergetar, ada pesan dari Alula,
__ADS_1
✉️ Alula
"Shenina cantik... kalau elu udah sampai di apartemen mas Refal, tolong pastikan dia makan dengan benar kemudian obatnya di minum. Jagain Mas Refal-gue ya Shen, gue percaya sama elu. thank you Shenina 😘."
Shenina tersenyum getir membaca pesan dari Alula. Hati kecil Shenina bertanya tanya, mengapa Tuhan menempatkan dirinya pada posisi yang sesulit ini...
Sahabat barunya yang merupakan sahabat satu-satunya saat ini berpacaran dengan mantan kekasihnya yang pernah membuat Shenina benar-benar terluka. Dan parahnya lagi, Shenina harus terus stand by didekat Refal dengan kepercayaan yang diberikan oleh Alula.
"Apa gue mampu bertahan sampai satu tahun ke depan?" Batin Shenina yang sebenarnya ingin resign pagi tadi juga namun ternyata pinaltinya terlalu besar.
Shenina pun melanjutkan langkahnya untuk memasuki apartemen itu lebih dalam lagi. Setelah melewati partisi ruangan yang terbuat dari kayu kualitas terbaik, Shenina memasuki ruang yang mungkin bisa disebut sebagai ruang televisi atau bersantai karena disana ada televisi berukuran besar dengan sofa yang cukup besar dan nyaman.
Iyalah nyaman, buktinya Refal sudah tiduran disana dengan posisi tengkurap dengan hanya memakai bokser dan bertelanjang dada.
Astaga!
Shenina tersentak. Gadis cantik yang sebenarnya tidak polos polos banget itu merasa matanya sudah ternoda dengan penampilan Refal saat ini.
Shenina pun membuang pandangannya ke arah lain agar otaknya tidak bertamasya kemana mana gara-gara melihat punggung lebar Refal yang sepertinya sangat nyaman untuk di peluk.
"Astaga sadar Shen... sadar... elu gak boleh lemah sama lelaki yang sudah menyakiti elu, meninggalkan elu, mempermalukan elu bahkan membuang elu layaknya sampah." Batin Shenina.
Deg!
Mata Shenina tidak sengaja melihat salah satu foto berbingkai hitam yang tidak jauh dari TV.
Foto Refal dan Alula yang tertawa bersama. Tawa yang sangat jarang Refal tunjukkan pada dunia dan Tawa yang sama saat Refal dulu hanya berdua dengan Shenina.
"Kalian sepertinya saling mencintai ya?" Batin Shenina tersenyum tipis pada foto itu.
"Shen... kamu tadi beliin aku obat apa?" Tanya Refal yang mengernyit sambil menatap Shenina yang berdiri mematung tidak jauh dari sofa tempatnya tengkurap.
Eh.
__ADS_1
to be continued