
Deg!
Mata Shenina tidak sengaja melihat salah satu foto berbingkai hitam yang tidak jauh dari TV.
Foto Refal dan Alula yang tertawa bersama. Tawa yang sangat jarang Refal tunjukkan pada dunia dan Tawa yang sama saat Refal dulu hanya berdua dengan Shenina.
"Kalian sepertinya saling mencintai ya?" Batin Shenina tersenyum tipis pada foto itu.
"Shen... kamu tadi beliin aku obat apa?" Tanya Refal yang mengernyit sambil menatap Shenina yang berdiri mematung tidak jauh dari sofa tempatnya tengkurap.
Eh.
Dengan cepat Shenina mampu menetralkan ekspresinya untuk kembali datar saat berhadapan dengan Refal.
"Ini obat anda Pak... saya membeli sesuai dengan resep yang kekasih anda kirimkan." Ucap Shenina dengan bahasa formal dan nada yang teramat dingin sembari menaruh paper bag kecil dengan logo sebuah apotek di atas meja.
Refal tersenyum tipis. Alula si gadis bawel yang mewarnai harinya itu memang paling gerak cepat jika dirinya sedang sakit.
"Tolong ambilkan air putih di dapur." Pinta Refal masih dengan suara lirih dan posisi tengkurap. Refal berniat untuk meminum obat lambung lebih dulu sebelum makan malam. Lebih tepatnya makan untuk pertama kalinya karena tadi Refal melewatkan sarapan juga makan siangnya dan justru minum kopi sampai tiga cangkir.
"Anda bisa ambil sendiri Pak! Tugas saya hanya untuk membeli dan mengantarkan obat anda, sekarang tugas saya sudah selesai, saya izin untuk pulang." Tolak Shenina dengan tegas membuat Refal menghela nafasnya dengan berat.
"Aku hanya minta tolong sama kamu untuk mengambilkan air putih Shenina..." ucap Refal dengan kepala yang sungguh terasa sangat pusing.
"Saya permisi." Kata Shenina yang berbalik badan hendak meninggalkan apartemen Refal tanpa mempedulikan seorang Refaldy.
"Jika kamu tidak berniat menolongku, bawa lagi saja obat yang sudah kamu beli. Aku tidak membutuhkan itu lagi." Kesal Refal dengan sikap Shenina yang menurutnya tidak memiliki hati nurani hanya sekedar menolong orang yang sedang sakit.
"Itu obat anda karena kekasih anda sudah mengirimkan uang untuk saya." Kata Shenina yang benar-benar tega meninggalkan ruang TV apartemen Refal itu dan menuju living room dimana pintu utama berada.
Refal tersenyum tipis, tidak menanggapi kalimat Shenina lagi. Lelaki itu justru memilih memejamkan matanya karena kepalanya terasa berputar-putar.
Sial. Beberapa hari ini ada masalah yang serius di pabrik mengenai produksi yang harus diselesaikan dengan cepat membuat Refal terforsir dalam bekerja hingga lupa makan. Ditambah bertemu dengan Shenina secara tiba-tiba dengan situasi seperti sekarang ini membuat hati dan pikiran Refal semakin kacau.
__ADS_1
Dalam mata yang terpejam, Refal menghitung angka dengan mundur di dalam hatinya.
Lima...
Empat...
Tiga....
Dua...
Satu....
"Pak Refal, tolong buka pintunya." Suara Shenina kembali terdengar. Namun kali ini dengan nada yang sedikit berbeda, sungkan atau jengkel mungkin.
Sungguh, saat ini Refal ingin sekali menertawakan Shenina namun dia harus bersikap wibawa. Lagi pula kepalanya juga terasa sangat berat dan pusing ditambah badannya benar-benar demam.
"Pak Refal..." Panggil Shenina dengan suara yang bergetar karena tidak mendapatkan jawaban dari Refal. Bahkan Refal tidak melakukan pergerakan apapun dalam posisinya yang masih tengkurap.
"Pak Refal, tolong buka pintunya... ini sudah jam 9 malam, saya harus pulang." Sekali lagi, Shenina meminta pada Refal dengan nada suara yang sedikit meninggi karena Shenina pikir, Refal sudah tertidur dan tidak dengar suara Shenina.
"Aku tadi sudah minta tolong untuk ambilin minum saja kamu tidak mau Shen... sekarang kamu justru minta tolong sama aku untuk buka pintu. CK! Sepertinya sedikit mengerjai kamu lucu juga... jujur, aku kangen kamu Shenina..." Batin Refal dengan mata yang terpejam sempurna.
Sedangkan Shenina yang masih setia berdiri di depan Refal dengan pandangan sejak tadi menghindari tubuh Refal yang tengkurap, kini mau tidak mau Shenina menatap punggung lebar berwarna putih bersih di depan matanya itu.
Shenina menghela nafasnya kemudian memberanikan diri mendekati Refal untuk membangunkan sang mantan kekasih sekaligus bos Menyebalkannya itu karena Shenina ingin segera pulang. Tidak baik lama-lama berdekatan dengan seorang Refaldy Bayutama.
Mengumpulkan keberaniannya, Shenina memegang lengan Refal untuk digoyang-goyangkan agar Refal bangun. Tapi...
"Ba... badan kamu panas banget!" Ujar Shenina yang kaget saat tangannya menyentuh kulit lengan Refal.
"Astaga... Fal... bangun fal.." Pekik Shenina yang mengira Refal pingsan. Shenina pun heboh sendiri dan bingung sendiri.
Refal yang sebenarnya masih sadar hanya saja kepalanya terlalu pusing, akhirnya mengeluarkan suaranya, dia tidak tega mendengar kepanikan Shenina.
__ADS_1
"Aku gak apa-apa Shen... pulanglah..." Kata Refal lirih sambil berusaha membalikkan badannya hingga posisi terlentang di sofa, kemudian membuka matanya perlahan.
"Badan kamu panas banget Fal, aku panggilkan dokter, atau ke rumah sakit sekarang?" Kepanikan membuat Shenina lupa untuk berbicara formal pada sang bos.
"Nggak perlu Shen daripada kamu nggak ikhlas nolongin aku .. sudah sama pulang." Usir Refal membuat Shenina berdecak kesal sambil menghela nafasnya.
Shenina mengedarkan pandangannya mencari keberadaan dapur dalam apartemen mewah itu. Gadis berlesung pipi itu kemudian berjalan ke arah dapur dan mengambil segelas air putih untuk Refal minum obat.
"Nih air putih .. bangun, cepet minum obat kamu." Perintah Shenina meletakkan gelas berisikan air putih itu di meja, dekat obat yang ia bawa tadi.
"Kamu masih Shenina yang sama... Shenina yang dingin diluar, tapi lembut dan manis di dalam... Aku rindu sama kamu Shen... bolehkah aku egois untuk bisa selalu dekat dengan kamu Shen?" Batin Refal yang entah mengapa sejak kedatangan Shenina, rasa sakit di kepalanya sudah sedikit lebih baik.
"Kepalaku pusing banget Shen... aku gak kuat bangun." Suara Refal kali itu terdengar merengek.
"Bukan urusan aku. Sekarang kamu minum obat, dan cepat kasih tahu aku berapa nomor pin pintu apartemen kamu."
"Aku gak kuat bangun Shenina... dan untuk pin apartemen, aku gak bisa ngasih ke sembarangan orang.. hanya aku dan Alula yang tahu pin itu." Jelas Refal dengan suara lirih.
CK.
Hati Shenina rasanya sesak seketika.
"Tunggu aku sedikit enakan, nanti aku bukain pintunya buat kamu." Lanjut Refal.
"Gimana kamu mau enakan, kalau kamu aja gak mau minum obat." Kesal Shenina.
"Aku bukannya gak mau minum obat Shenina,, kepala aku pusing banget, gak kuat berdiri... dari pada kamu ngajakin aku debat terus, mending kamu bantuin aku duduk kemudian minum obat. Setelah minum obat nanti pasti badan aku enakan. Dan kalau udah enakan, nanti aku bukain pintu biar kamu bisa pulang." Ucap Refal panjang lebar membuat Shenina melongo.
Bantuin Refal duduk? beranjak dari posisinya sekarang?
Dengan cara apa? bagaimana? kan Refal hanya mengenakan bokser teramat pendek dengan bertelanjang dada pula.
Apa Refal memang sengaja untuk menggodanya? eh tapi kan Refal beneran sakit, mana sempat dia bersikap kekanak Kanakan seperti itu, lagian itu bukan Refal banget.
__ADS_1
to be continued
kakak kakak yang baca novel ini, please tinggalkan jejak ya.. makasih...