
Tawa bahagia menghiasi rumah mewah nan megah bergaya Eropa milik orang tua Argha setelah hampir enam bulan lamanya rumah itu sepi tidak berpenghuni.
Penyakit komplikasi yang di derita Andre, ayah dari Argha itu mengharuskannya untuk melakukan pengobatan di luar negeri karena beberapa metode yang digunakan belum ada di tanah air.
Sebagai keluarga yang memiliki background medis, tentu Andre dan Argha tahu dampak mengkonsumsi obat kimia bertahun tahun, jadi mereka mencari metode lain.
Argha yang tidak tega melihat Mamanya mengantar dan menemani sang Papa di luar negeri sendiri, memilih untuk cuti selama beberapa bulan guna menemani orang tuanya.
Maklum, Argha adalah anak satu-satunya di keluarga tersebut dan Argha tidak ingin menyia-nyiakan setiap moment yang Tuhan kasih untuk dihabiskan bersama kedua orang tuanya.
Lagi pula, rumah sakit tempat Argha praktek juga rumah sakit keluarganya. Jadi, semuanya bisa diatur dengan mudah.
"Tante itu kangen banget sama kamu Shen, cuma ya gimana... nomor kamu kan belum lama ganti waktu itu, terus Tante belum sempat minta nomor kamu sebelum berangkat ke Jerman kan. Yang punya nomor kamu si Argha, eh ponselnya ilang." Ucap Dina sambil menyiapkan makan malam dibantu oleh Shenina.
Argha sempat kesulitan mencari nomor Shenina karena Shenina tidak bermain sosial media. Waktu Argha sampai Indonesia, lelaki yang berprofesi sebagai dokter spesialis THT&KL itu langsung menuju kost Shenina dan bertanya nomor Shenina pada sang ibu kost. Beruntung, Argha dapat nomor Shenina dengan mudah.
"Aku juga kangen banget sama Tante, aku juga beberapa kali kirim pesan ke Abang tanya kabar om Andre, tapi gak terkirim Tante.. terus kerjaan di kantor juga sangat banyak banget hingga ada masalah di kantor lama, membuat aku gak sempat cari tahu kabar Tante, Om dan Abang..."
"Nggak masalah sayang, Tante paham...kamu kalau kerja harus selalu jaga kesehatan ya Shenina, kata Argha kamu itu kalau sudah fokus, ada gempa bumi pun gak sadar." Canda Tante Dina.
"Abang yang lebay itu mah." Tawa Shenina dan Dina pun hampir memenuhi ruangan makan. Inilah waktu yang Dina tunggu-tunggu, memiliki anak perempuan yang membantu menyiapkan makan malam keluarga. Ya, Dina sudah menganggap Shenina sebagai putrinya sendiri.
"Shenina, kamu panggil Om, Oma dan Argha gih." Perintah Tante Dina saat sajian di atas meja makan sudah tertata rapi.
Kebiasaan Tante Dina yang Shenina kagumi adalah, meskipun keluarganya masuk keluarga konglomerat, namun masalah makanan Tante Dina lebih suka memasak dan menyajikan sendiri sebagai ungkapan cinta untuk keluarganya.
"Siap Tante." Shenina segera menuju ruang keluarga dimana tiga orang beda generasi itu tengah mengobrol sambil menunggu makan malam siap.
__ADS_1
Kehadiran Shenina ditengah-tengah keluarga Argha menciptakan warna tersendiri di meja makan. Apalagi Shenina yang tidak malu-malu lagi memuji masakan Dina hingga beberapa candaan yang membuat kelima orang itu tertawa. Keluarga ini sangat membuat Shenina nyaman dan bisa menjadi dirinya sendiri.
"Tante, nanti kalau ada waktu...Tante ajarin aku masak ya... Aku itu pengen kayak Tante deh, kalau pas ada waktu luang bisa masak buat keluarga." Kata Shenina sambil menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.
"Boleh sayang.. kapan pun kamu mau belajar, datang aja kesini." Jawab Dina tersenyum lembut.
"Wah.. sepertinya Shenina sudah siap nih menjadi seorang istri. Kamu gak bisa masak saja udah calon istri idaman, apalagi pinter masak ya.." Celetuk Oma menatap Shenina penuh sayang.
"Oma bisa aja. Ceritanya aku lagi belajar memantaskan diri Oma." Jawab Shenina sambil tersenyum manis.
"Senyum kamu sangat cantik dan sifat kamu sangat mengagumkan Nina..." Batin Argha.
"Jadi kapan rencana kamu untuk meresmikan hubungan kalian Ga?" Tanya Om Andre tiba-tiba membuat Shenina dan Argha langsung mematung.
"Resmikan?" Shenina mengernyit.
"Resmikan gimana maksud kamu Ndre?" Tanya Oma.
"Tunangan ma... aku ingin segera melihat Argha dan Shenina tunangan kemudian menikah. Mumpung aku masih hidup." Jawab Andre.
"Papa! Mama gak suka papa ngomong gitu." Protes Dina yang tidak suka mendengar kalimat terakhir suaminya.
"Papa ngomong realistis ma.. penyakit papa ini udah banyak, meskipun udah dilakukan pengobatan paling canggih sekalipun, nanti kalau waktunya Tuhan panggil papa, papa gak bisa nolak ma."
"Apapun alasannya, mama gak suka papa bilang kayak gitu!"
"Makanya, mama bantu bujuk dua anak itu agar segera tunangan atau langsung menikah juga gak masalah, biar papa segera menimang cucu dan semangat hidup papa semakin tinggi." Kata Papa Andre yang memang sejak dulu berencana menjodohkan Argha dengan Shenina.
__ADS_1
"Pa... papa tenang aja ya. Nanti aku coba ngobrol berdua sama Nina." Jawab Argha dengan tenang.
Deg!
Shenina menatap Argha dengan penuh tanya. Ngobrol? ngobrol bagaimana? tunangan? tunangan yang seperti apa? Sebab hubungan Shenina dan Argha memang sangat dekat tapi tidak ada ikatan apapun.
"Papa ingin kamu segera menikah dengan wanita yang tepat Argha. Dan wanita itu adalah Shenina." Shenina hanya mematung mendengar ungkapan om Andre.
"Iya pa, ayo kita makan dulu. Nina, habiskan makanan kamu ya." Argha menatap papanya dengan lembut kemudian menatap Shenina yang wajahnya sudah pias.
...***...
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Refal baru saja mendudukkan tubuhnya di apartemen mewah yang beberapa tahun ini menjadi tempat tinggalnya.
Rasa lelah setelah perjalanan udara yang hampir dua jam ditambah dengan perjalanan cukup padat dari bandara menuju apartemennya tidak serta membuat Refal ingin istirahat. Padatnya ibu kota justru membuat emosi Refal mudah tersulut.
Lelaki 25 tahun itu diam dengan pandangan yang sulit dimengerti karena otaknya terus bekerja keras mencari ide bagaimana dia bisa tahu apa yang sedang Shenina lakukan malam ini.
Ah begitu susahnya mencari kegiatan Shenina karena gadis itu tidak pernah mengunggah apapun akun media sosialnya, termasuk status di WhatsApp selalu saja kosong.
Shenina sebenarnya punya beberapa akun media sosial, seperti Facebook, Twitter dan Instagram. Namun itu, Shenina tidak pernah mengunggah apapun tentang kegiatannya. Jika ada yang mention atau tag dirinya di Instagram, maka Shenina akan segera membalas atau merepost posting tersebut.
Refal akhirnya menurunkan egonya, lelaki itu mengirim pesan pada Shenina menanyakan tentang pruduk melempem kemarin. Namun ternyata sudah satu jam, pesan yang ia kirim pada Shenina tidak juga dibaca, apalagi di balas.
"Besok aku akan membalas kamu Shenina, karena kamu sudah berhasil membuat aku uring-uringan dari tadi sore. Awas aja!" Seringai muncul pada wajah tampan Refaldy Bayutama, lelaki yang sudah bertekad untuk mendapatkan Shenina lagi meskipun harus melawan semesta.
to be continued
__ADS_1
hallo kakak kakak... bagi like dan komentarnya doang.. biar aku makin semangat buat nulis hehe...