
Semakin kesini, hidup Shenina justru terasa semakin sulit. Apalagi setelah membaca pesan dari Alula, si gadis pemaksa yang memintanya untuk pindah ke apartemen.
Apartemen? apartemen yang mana? Feeling Shenina, apartemen yang dimaksud Alula ada di gedung yang sama dengan apartemen Refal.
Karena, hanya gedung apartemen mewah itu yang berdiri kokoh tidak jauh dari perkantoran di tengah ibukota. Gak mungkin kan apartemen Alula, si anak direktur utama WIC biasa-biasa saja? Refaldy yang direktur produksi aja memiliki apartemen mewah disana.
Mendadak bayangan suram terlintas dibenak Shenina saat membayangkan harus tinggal juga di gedung yang sama dengan Refal jika memang apartemen Alula ada disana.
Dengan rangkaian kalimat halus, Shenina menolak permintaan Alula. Sebab bagaimana pun, Shenina tidak ingin memiliki lebih banyak lagi hutang budi pada Alula. Belum lagi nanti jika Alula tahu bahwa dia adalah mantan kekasih Refal, pasti Alula akan sangat kecewa pada Shenina.
Begitulah pemikiran Shenina yang tidak tahu ada hubungan apa antara Refal dan Alula.Shenina memiliki ketakutan tersendiri atas semua itu.
💌 "Aku gak mau kenal kamu lagi kalau kamu gak mau menerima niat baik aku, Shenina... aku benar-benar kecewa sama kamu! Mulai detik ini, aku akan Block nomor kamu sampai kamu mau pindah!" -Alula-
Itulah isi pesan yang dikirim Alula dari negara Singa Putih yang mampu membuat Shenina mengeram pelan. Bahkan sudah satu jam lebih Shenina berkutat dengan layar dihadapannya, tapi tidak bisa fokus pada kerjaan gara-gara pesan bernada ancaman itu.
"Permisi... apa benar Mba Shenina Anastasya, asisten Pak Refal ada di bagian sini?" Tanya seorang wanita muda dengan pakaian formal yang tiba-tiba datang di depan meja antara Shenina dan Vira.
"Ini Shenina Anastasya mba." Jawab Vira menunjuk Shenina yang ada disampingnya. Shenina masih bengong sambil bertanya-tanya siapa yang mencarinya?
Wanita itu tersenyum pada Vira yang sudah memberitahu yang mana Shenina, kemudian mengalihkan pandangannya ke gadis cantik berlesung pipi yang ia tuju.
"Selamat siang Mba Shenina." sapa wanita itu dengan ramah.
"Iya?" Shenina mengernyit menatap wajah asing yang belum pernah ia temui.
"Saya Riana dari Lavenue Apartemen, Saya ditugaskan oleh Nona Alula untuk memberikan akses card apartemennya kepada mba Shenina." Ucap wanita berbaju formal itu dengan ramah.
Lavenue Apartemen? Feeling Shenina tidak melesat sedikitpun. Apartemen Alula satu gedung yang sama dengan apartemen Refal. Shenina tidak mau. Bekerja dalam lingkungan yang sama dengan Refal saja sudah merepotkan, apalagi tinggal di gedung yang sama? Oh no!
"What? Lavenue Apartemen? Maksudnya apa ini?" Vira langsung heboh dan kepo pasalnya Shenina langsung diberikan akses oleh Alula di apartemen mewah tersebut.
"Mohon diterima akses card-nya mba Shenina. Sore ini, anda bisa langsung menempati Apartemennya." wanita muda bernama Riana itupun menyodorkan sebuah amplop kecil berwarna putih pada Shenina.
"Silahkan diterima mba Shenina." Ulang Riana karena Shenina hanya diam dan berpikir. Shenina menghela nafasnya berat,
"Maaf mba, saya tidak bisa menerima niat baik Alula, tolong katakan pada Alula, terima kasih banyak atas perhatiannya yang berlebihan ini. Sampaikan juga padanya, jika saya akan mencari tempat tinggal sendiri yang ada di dekat kantor. Saya tidak bisa tinggal di apartemen-nya." Tolak Shenina dengan halus, sedangkan Vira nampak diam memperhatikan obrolan dua wanita itu dengan penuh rasa penasaran.
"Saya mohon terima akses card ini mba Shenina, karena jika anda sampai tidak mau menerima ini, maka hari ini juga saya akan langsung dipecat oleh Pak Shaka karena saya tidak bisa mematuhi permintaan nona Alula." Jelas Riana dengan wajah yang sudah berubah sendu.
"Maksudnya? kenapa sampai Pak Shaka?" Tanya Shenina mengingat Shaka yang merupakan om dari Alula yang pernah Shenina temui sekali.
"Lavenue Apartemen adalah salah satu apartemen yang dikelola oleh Wishnutama Corporation dan diawasi langsung oleh Pak Shaka, mba."
"Tapi..."
__ADS_1
"Saya mohon terima akses card ini agar saya tidak dipecat mba Shenina... sebab ibu saya sedang sakit dan membutuhkan banyak biaya." Jelas Riana dengan ekspresi yang sangat menyedihkan.
"Tapi saya tidak bisa tinggal di apartemen mewah itu mba.. Maaf. Saya tidak bisa menerimanya." Tolak Shenina.
"Mba Shenina, tolong kerjasamanya. Tugas saya hanya mengantarkan ini dan memastikan bahwa akses card ini sudah ada ditangan anda. Jika anda menolak, anda bisa memberikannya kembali pada mba Alula atau anda titipkan langsung pada Pak Refal."
Setelah beberapa menit Riana yang terus memohon pada Shenina dengan segala kemalangan hidupnya jika sampai dipecat oleh Shaka, Shenina akhirnya menerima akses card itu dan berniat mengembalikannya pada Refal.
Mendengar semuanya dengan sangat jelas, Vira langsung heboh sendiri dan tidak menyangka jika Alula sangat loyal dengan sahabatnya. Dan hal itu tidak lantas membuat Vira iri. Vira justru ikut bahagia jika Shenina tinggal di tempat yang mewah sehingga kapan-kapan ketika suaminya dinas luar kota, dia bisa numpang menginap di apartemen mewah tersebut. Menikmati kemewahan dunia.
...***...
Tok
Tok
Tok
"Masuk!" Kata Refal yang tanpa sedikitpun berpaling dari layar laptopnya karena setumpuk pekerjaan yang telah dia tinggal ke Singapore kemarin.
"Permisi pak Refal, maaf mengganggu waktu anda, saya ingin berbicara dengan anda."
Mendengar suara Shenina, Refal menghentikan sejenak jarinya yang sedang mengetik tanpa menoleh sedikitpun pada gadis itu.
Jangankan menoleh, melirik saja tidak.
Jleb~
Ucapan Refal terdengar sangat datar. Apalagi lelaki itu enggan untuk menatapnya sedikit saja.
"CK! dasar, sok sibuk! emang kalau penguasa itu beda! Sok-sokan! Semena-mena, seenak jidatnya." Batin Shenina.
"Menurut saya ini penting Pak." Jawab Shenina dengan tenang.
"Baiklah. Duduk dan bicaralah." Perintah Refal yang kemudian mengalihkan pandangannya dari layar monitor ke wajah Shenina yang hendak duduk di hadapannya. Wajah yang selalu mampu membuat Refal terpesona sejak dulu hingga detik ini.
Tanpa basa basi, Shenina langsung menyodorkan akses card yang ia terima dari Riana beberapa menit lalu. Shenina pun memberikan alasan yang logis kenapa dia menolak niat baik Alula dan bercerita tentang awal mula pesan yang ia terima dari Alula hingga nomornya kini beneran di Block oleh Alula.
"Menurut saya, ide Alula adalah ide yang terbaik. Kamu tinggal di apartemennya yang tidak jauh dari kantor ini sehingga kamu tidak akan telat berangkat ke kantor. Kapan pun saya membutuhkan kamu, kamu bisa langsung standby dan kamu juga tidak membuat Alula khawatir karena jarak kantor ke kost kamu yang sangat cukup jauh."
Bukan menerima akses card itu, Refal justru mendukung Alula agar Shenina pindah di apartemen yang sama dengannya.
"Maaf pak, saya tidak pernah telat untuk ke kantor." Koreksi Shenina.
"Tadi, kamu telat kan?"
__ADS_1
"Pak Refal meminta saya secara dadakan untuk datang ke kantor jam 7, sedangkan jam kerja dimulai jam 8, dan ini terjadi baru sekali." Debat Shenina.
"Kamu lupa dengan kontrak yang sudah kamu tanda tangani jika kamu harus siap 24 jam kapanpun saya membutuhkan kamu, baik urusan kantor maupun di luar kantor." Aura otoriter keluar dari diri Refaldy, lagi.
Shenina terdiam, memang benar yang dikatakan Refal, dia sudah menandatangani kontrak itu secara sadar.
"Tapi tetap saja saya tidak bisa tinggal di apartemen tersebut pak!"
"Tidak bisa karena tidak ingin semakin banyak berhutang Budi pada Alula, tidak ingin dispesialkan dari karyawan lainnya dan ingin mencari tempat tinggal sendiri yang tidak jauh dari kantor?" Tanya Refal mengulang kembali pernyataan pernyataan Shenina.
"I.. iya pak."
"Atau kamu tidak ingin tinggal satu gedung dengan saya?" Tanya Refal dengan salah satu alisnya terangkat naik dan senyum tipis.
Tepat! itulah alasan paling utama yang tidak Shenina ungkapkan tapi bisa ditebak langsung oleh Refal.
"Bukan pak, saya hanya merasa tidak pantas menerima semua kebaikan Alula yang berlebih. Saya tidak ingin dikatakan memanfaatkan sahabat."
"Pertama, Alula adalah gadis yang tulus. Setiap dia membantu orang lain, dia tidak akan pernah mengungkitnya. Dan kedua, karena dia sayang sama kamu sebagai sahabat, makanya dia berusaha memberikan yang terbaik untuk kamu. Terus kamu menolak begitu saja?" Refal menceritakan sosok Alula dengan tatapan penuh kekaguman yang ditujukan pada sosok yang tidak ada disana. Dan itu tertangkap oleh netra Shenina secara langsung.
"Maafkan saya pak Refal... saya..."
"Alula pasti akan sangat kecewa dengan penolakan kamu Shenina." Refal memotong ucapan Shenina.
"Dan saya tidak ingin melihat Alula sedih atas penolakan kamu itu pada niat baiknya. Saya tidak mau melihat Alula sedih sedikitpun." Lanjut Refal.
"Ternyata se-cinta itu kamu sama Alula, sampai tidak ingin melihat dia kecewa dan sedih sedikitpun, sedangkan dulu kamu terang-terangan menyakiti, mencampakkan dan mempermalukan aku Refaldy." Batin Shenina dengan tangan yang mengepal di balik meja kerja Refal.
"Pak... saya..."
"Kalau kamu tidak menerima niat baik Alula, maka dengan terpaksa hari ini juga, saya akan memecat Vira dan tugas Vira akan menjadi tanggung jawab kamu sepenuhnya." Kata Refal dengan tenang.
Apa-apaan ini?
Penawaran macam apa ini?
Seenak jidatnya main ancam...
Seenak udelnya main pecat bahkan orang-orang yang tidak ada sangkut-pautnya aja di ikut sertakan.
Kurang ajar si Refal!
"Pilih Shenina, pindah ke apartemen Alula, jobdesk kamu masih tetap dan posisi Vira aman. Atau menolak dengan alasan apapun, maka Vira akan saya pecat dan segala kerjaan Vira jadi tanggung jawab kamu?"
to be continued
__ADS_1
Kasih komentarnya dong.. kalau komentarnya banyak... Sabtu besok update tiga kali ya... makasih 🤍