
Secara harta dan kekuasaan, Indra Aditama tentu jauh diatas keluarga Hakim Laksito. Namun Indra Aditama tak dapat berbuat banyak karena dia sangat tahu betul jika Hakim memegang kartu AS milik Refal.
Sebagai ayah yang pernah menyia-nyiakan hidup Refal karena fokus pada wanita yang dicintainya, Indra ingin menebus semuanya dengan melindungi Refaldy. Baginya, kalau hanya nama baik keluarga itu tidak jadi masalah, namun ini menyangkut nama baik anaknya dan masa depan anak lelakinya yang merupakan penerus utama kerjaan bisnis keluarganya ini.
Sedangkan Refal sendiri masih mematung ditempatnya mendengar ancaman Hakim yang begitu tegas pada Indra. Sekarang Refal paham mengapa Indra ingin dirinya menikahi Naraya sesuai permintaan keluarga Laksito.
Refal pikir, dirinya dipaksa menikah dengan Naraya hanya untuk memperluas jaringan bisnis. Namun ternyata Refal salah, bukti kesalahannya dimasa lalu disimpan rapi oleh Naraya dan sekarang mungkin sudah diserahkan kepada orang tua Naraya.
Mencoba meredam emosinya agar tidak gegabah, Refal hanya mampu mengepalkan tangannya saat Hakim dan istrinya pulang tanpa permisi dan lewat begitu saja dihadapan Refal setalah mengucapkan kalimat pengancaman pada Indra dan Sukma.
"Fal... sejak kapan kamu disitu nak?" Tanya Sukma dengan lembut ketika melihat sosok anak tirinya.
"Aku mau menjenguk Alula Tante.. katanya dia baru keluar dari rumah sakit. Kenapa tidak ada yang memberikanku kabar soal kondisi Alula?" Tanya Refal.
"Alula yang melarang nak... karena dia gak ingin kamu khawatir karena katanya kamu juga sedang ada masalah." Ucap Sukma dengan lembut. Refal mengangguk mengerti.
Sukma, ibu tirinya itu begitu lemah lembut dan tulus menyayangi dirinya. Wanita itu justru lebih cocok menjadi seorang ibu kandung untuk Refal ketimbang ibu kandung Refal sendiri yang sukanya menuntut dan memerintah.
"Aku ke atas dulu." Pamit Refal ingin segera ke kamar Alula. Refal tidak ingin membahas soal Naraya ataupun orang tua wanita itu.
Entahlah otak Refal masih belum bisa memikirkan langkah apa yang harus dia ambil disaat Shenina menghilang begitu saja.
"Fal... Pikirkan rencana pernikahan kamu dengan Naraya.. Papa gak mau jika nantinya semua orang memandang kamu sebelah mata dan tidak mempercayai kamu lagi." Ujar Indra dengan nada pelan membuat langkah Refal yang hendak menaiki anak tangga terhenti.
__ADS_1
"Berikan aku waktu untuk memikirkan semuanya." Jawab Refal yang kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar Alula, adik kesayangannya.
...***...
Semalam suntuk, Refal tidak bisa tidur setelah banyak pertimbangan yang ada di kepalanya mengenai ancaman Hakim, ayah Naraya. Mau bertunangan dengan Naraya atau menolak dengan mentah-mentah kemudian keluarga Naraya menghancurkan hidupnya dengan sangat mudah.
Belum lagi kondisi kesehatan Alula yang ternyata menurun makin hari karena banyak pikiran, termasuk memikirkan hubungannya dengan Gerald yang tidak kunjung mendapatkan restu dari sang papa dan mamanya.
Ditambah dengan Shenina yang hilang seperti ditelan bumi. Bukan ingin kembali mengusik hidup Shenina, hanya saja Refal ingin memastikan bahwa gadis yang ia cintai sampai saat ini dalam keadaan baik-baik saja dan bahagia meskipun tidak dengannya.
Ini bukan layaknya cerita novel dimana Refal bisa membayar orang dengan harga yang mahal untuk bisa mendapatkan info apapun mengenai orang lain dengan sangat cepat. Tapi semua itu butuh proses yang cukup panjang untuk menemukan keberadaan Shenina mengingat ada Argha yang selalu berada disamping gadis berlesung pipi tersebut.
Dengan mata panda dan rasa ngantuk yang luar biasa, Refal memaksakan dirinya untuk segera ke kamar mandi membersihkan diri sebelum berangkat ke kantor.
Sarapan sepotong roti dengan selai coklat juga segelas teh hangat menjadi teman Refal pagi ini sembari menghubungi Vira untuk menanyakan kegiatannya hari ini. Sebenarnya ini adalah tugas Shenina sih, tapi berhubung gadis itu izin jadi semua pekerjaan dilimpahkan pada Vira.
"Aku kangen banget sama kamu Shenina, tapi aku gak mau terus-terusan menjadi orang yang egois dengan memaksa kamu untuk kembali sama aku." Gumam Refal lirih.
Hari-hari Refal sudah kembali seperti semula setelah hubungan dia dan Shenina berakhir dulu. Sepi, resah, sedih bercampur menjadi satu. Tidak ada senyum kebahagiaan apalagi senyum jahil seperti setelah bertemu Shenina kembali.
"Elu bisa Fal. elu dulu bisa tanpa dia di hidup elu. Biarkan dia menentukan jalan hidupnya sendiri, biarkan dia bahagia Fal."
Iya Refal tahu dia bisa tanpa Shenina. Tapi Refal juga sadar bahwa semua itu tidak mudah... Karena berpisah dengan Shenina membuat hidup Refal sangat hancur bahkan Refal melakukan kesalahan yang jadi penyesalan besar dalam hidupnya hingga saat ini. Apalagi kesalahan itu kini dijadikan Naraya dan keluarganya sebagai alat untuk mengancam Refal dan keluarganya.
__ADS_1
Hanya keheningan yang menemani Refal sepanjang perjalanan menuju kantor karena pikiran Refal sudah sibuk sendiri memikirkan banyak hal.
Aura dingin tidak tersentuh kembali Refal tunjukkan pada semua orang semenjak keluar dari mobil di parkiran yang berada tepat di depan pintu utama lobby. Tatapan tajam Refal membuat nyali siapa saja menciut. Hanya senyum sebagai tanda hormat yang dapat mereka berikan pada atasannya yang terlihat moodnya cukup buruk hari ini.
"Selamat pagi pak Refal..." Sapa Vira saat Refal memasuki area ruangan Direktur Produksi yang merupakan daerah kekuasaan Refaldy Bayutama.
"hmmm." Jawab Refal tanpa melihat sedikitpun ke arah sekertarisnya yang super kepo akan segala hal. Refal hendak melangkahkan kakinya lagi untuk menuju ruangannya tapi mendadak langkahnya terhenti kala mendengar sapaan seseorang.
"Selamat pai Pak Refal. Mohon maaf karena saya tidak masuk selama seminggu lebih karena sakit." Sakit hati maksudnya.
"Shenina..." batin Refal.
Refal tidak bisa tidak menengokkan kepalanya untuk melihat pemilik suara itu, wanita yang sangat ia rindukan sepekan ini.
Diam. Refal hanya bisa diam ketika sorot matanya yang tadi sangat tajam kini berubah menjadi sendu saat bertemu dengan sorot mata Shenina yang begitu menenangkan.
"Kamu ternyata kembali ke sini Shen... Saya kita kamu akan keluar dari kantor ini karena persoalan kemarin." Namanya juga Refal... sangat amat tidak bisa untuk mengerem ucapannya.
Bukannya marah, Shenina hanya tersenyum...
"Saya bersyukur luka saya sudah disembuhkan oleh dokter terbaik di negara ini sehingga saya bisa segera kembali ke perusahaan ini dan bekerja dengan baik sesuai kontrak." Refal mengepalkan tangannya karena lelaki itu paham, luka yang Shenina masuk adalah luka yang Refal torehkan, bukan luka secara fisik.
"Saya disini hanya ingin menunjukkan keprofesionalan saya dalam bekerja. Sehingga besar harapan saya anda bisa kerjasama." Kata Shenina dengan senyum tipis seperti merencanakan sesuatu yang teramat besar dan penting.
__ADS_1
"Shenina... berhubung pagi ini kamu sudah berangkat lagi, buatkan saya kopi sekarang juga. Tunjukkan profesionalitas kamu dalam bekerja sebagai asisten pribadi saya." Kata Refal yang kemudian langsung masuk ke dalam ruangannya.
To be continued...