
Restoran mewah yang menyajikan makanan khas Nusantara dari berbagai daerah terlihat cukup ramai pengunjung meskipun di luar sana masih hujan lebat.
Selain masakannya yang enak, tempatnya juga sangat nyaman. Dan inilah yang menjadi salah satu alasan keluarga Argha memilih untuk makan bersama di restoran Nusantara ini.
Obrolan-obrolan ringan dibalut dengan perhatian semakin menambah kehangatan keluarga. Inilah yang selalu Shenina rindukan.
Senyum Shenina terus terbit menghiasi wajah manisnya meskipun hati Shenina sedikit resah.
Iya, Shenina sedikit resah karena tadi sempat melihat tatapan Refal yang sendu terhadap dirinya. Tatapan yang tidak sengaja bertemu sewaktu di parkiran di tengah hujan yang lebat dengan Refal yang basah kuyup karena ternyata kuncinya tertinggal di ruangan. Sedangkan Shenina di payungi oleh Argha menggunakan payung Vira.
"Oma tidak sabar menjadikan Shenina bagian dari keluarga kita." Ujar Oma tiba-tiba ditengah obrolan tante Dina dan Shenina tentang rencana belajar masak.
"Sama ma, aku juga gak sabar... jadi kapan kalian siap bertunangan kemudian menikah? Mumpung om masih hidup Shenina." Kini giliran om Andre, papa dari Argha yang menatap Shenina dengan teduh.
"Pa, papa jangan berbicara seperti itu." Tegur Argha.
"Papa bikin mood mama jadi jelek." Gerutu Dina pada sang suami.
"Shenina, kamu mending segera nikah sama Argha deh, biar om kamu itu berhenti bicara ngaco seperti itu, Tante gak suka dengar dia ngomong gitu." Kata Tante Dina pada Shenina.
Shenina menunduk sambil meraemas jemari tangannya yang ada di bawah meja.
"Tolong kasih saya waktu om, Tante dan Oma, ini merupakan keputusan besar dalam hidup saya. Jadi saya ingin memikirkannya dengan matang." Ujar Shenina dengan lembut.
Shenina belum memberikan keputusan apa-apa tentang permintaan Andre yang sudah melamar dirinya untuk Argha. Hati Shenina masih ragu, jadi dia tidak ingin mengambil keputusan secara gegabah.
Untuk ucapan Shenina pada Vira tentang dia sudah menerima lamaran keluarga Argha, sejatinya itu hanya untuk membuat Refaldy menjauh karena Shenina sudah melihat Refal berdiri di ambang pintu ruangannya.
"Apa yang kamu ragukan Shenina... Kami sangat menyayangi kamu Shenina, terus Argha juga lelaki baik-baik, om bisa jamin itu. Secara ekonomi, kamu tidak perlu khawatir lagi kan?" Tanya Andre.
"Bukan soal itu om..." Jawab Shenina lirih. Shenina sudah tahu, jika pembicaraan ini pasti akan muncul jika dia bertemu keluarga Argha.
"Saya dapat merasakan kasih sayang keluarga ini yang begitu tulus sejak empat tahun yang lalu... saya juga percaya kalau bang Argha adalah lelaki baik dan juga bukan masalah ekonomi Om..."
__ADS_1
Iya kali masalah ekonomi, secara keluarga Argha memiliki salah satu rumah sakit besar di ibukota.
"Lalu soal apa Shenina? soal perasaan Argha pada kamu?" Tanya Andre membuat Argha langsung menatap tidak suka dengan sang papa tapi Argha malas sekali berbicara.
"Bukan juga perasaan bang Argha pada saya om, tapi juga tentang perasaan saya." Jawab Shenina jujur.
"Shenina... cinta akan datang karena terbiasa.. seperti om dan Tante ini... dulu kamu menikah karena perjodohan dan tidak butuh waktu lama, kami saling mencintai. Om yakin, hal itu juga akan terjadi pada kalian. Yang penting, kalian mau sama-sama saling buka hati kalian.. saling menerima dan melengkapi, maka cinta akan tumbuh dengan sendirinya." Kata Om Andre panjang lebar.
"Soal perasaan, tidak semudah itu Pa! Dari dulu aku menganggap Shenina adalah adik aku, dan Shenina menganggap aku sebagai abangnya." Ucap Argha pada akhirnya yang diangguki oleh Shenina.
"Tidak mudah karena kamu memang tidak mau membuka hati kamu Argha. Mau sampai kapan kamu terbelenggu dengan perasaan bersalah kamu? Clarisa sudah meninggal Argha. Dan kecelakaan itu bukan salah kamu. Itu takdir!"
"Cukup pa!" Ucap Argha dengan suara yang cukup tinggi hingga menarik perhatian beberapa orang.
"Argha, pelankan suara kamu." Perintah Tante Dina pada sang putra.
Argha pun menghela nafasnya dengan kasar karena memang dia tidak suka seorang menyangkut-pautkan kesendiriannya hingga detik ini dengan sang mantan kekasih yang sudah tenang di alam sana sejak lima tahun yang lalu.
"Kamu kenapa dari tadi banyak diamnya Nina?" Panggil Argha saat keduanya kini sudah ada di dalam mobil dimana Argha hendak mengantarkan Shenina kembali ke apartemen.
"Aku gapapa bang.. sorry ya bang makan bersamanya agak kacau gara-gara aku bahas perasaan." Ucap Shenina dengan rasa bersalah.
"Bukan salah kamu Nina, memang papa aja yang suka menyangkut pautkan dia dalam setiap obrolan." Shenina paham tentang 'dia' yang disebut oleh Argha.
Shenina menghembuskan nafasnya dengan kasar kemudian hening sesaat. Argha fokus dengan jalanan yang cukup padat di depannya sedangkan Shenina menatap kaca yang menampilkan jejeran rumah yang padat dengan rintik hujan yang setia menemani.
"Kalau memang kamu mau menerima aku, maka aku berjanji akan belajar mencintai kamu Nin, aku gak akan kecewakan kamu." Shenina langsung menengok untuk menatap Argha, gadis itu tidak menyangka bahwa kalimat seperti itu akan keluar dari mulut dokter tampan yang selalu ada untuk dirinya.
"Maksud Abang?"
Shenina mendengar helaan nafas kasar dari Argha.
"Aku sadar, aku gak bisa hidup dalam kesendirian terus menerus seperti ini... Aku juga ingin membahagiakan papa, apalagi makin hari kondisi papa makin menurun Nin." Ucap Argha. Shenina masih diam, mencoba mencerna ucapan lelaki yang ia kenal dekat selama empat tahun ini.
__ADS_1
"Daripada aku menikah dengan wanita yang tidak aku kenal dan tidak aku sukai, mending aku menikah sama kamu kan Nin, kita udah saling sama-sama tahu satu sama lain, dan aku bisa melindungi kamu Shenina, karena sejak awal kita bertemu, aku udah sayang banget sama kamu." Lanjut Argha sambil tersenyum pada Shenina.
"Tapi bang, menikah itu bukan perkara gampang. Aku mau menikah itu seumur hidup sekali dan ya ... sayang Abang ke aku itu hanya sayang seorang kakak kepada adiknya."
"Gak ada salahnya untuk kita mencoba menaikkan level sayang kita dari kakak adik menjadi sepasang kekasih Shenina."
"Kenapa Abang tiba-tiba berkata seperti ini?" Shenina menatap Argha penuh tanya.
"Kamu pernah berkata sama Abang kalau sahabat baru kamu yang bernama Alula yang mencarikan kamu kerja kan?" Shenina mengangguk.
"Dan kamu bilang kalau kamu diminta Alula itu untuk tinggal di apartemennya kan?" Shenina mengangguk lagi.
"Kamu juga pernah cerita kan, kalau ternyata kekasih Alula adalah mantan kamu."
"Abang jangan berbelit-belit deh.."
"Meskipun kamu cerita sama Abang sepotong-sepotong, tapi Abang paham semuanya Nina..." Ucap Argha menerawang jauh.
"Refaldy, kekasih Alula adalah atasan kamu di kantor sekaligus tetangga apartemen kamu kan?" Shenina langsung terdiam, pikirannya langsung menerawang saat tadi salah satu karyawan WIC memanggil nama Refal didepan Shenina dan Argha.
Ah ya, Argha sudah tahu siapa nama mantan kekasih Shenina sewaktu Shenina curhat beberapa tahun lalu meskipun Shenina tidak pernah menunjukkan foto Refal.
"Shenina..." Panggil Argha.
"Ayo kita tunangan kemudian menikah. Karena dengan begitu, kamu tidak akan menyakiti Alula dan aku bisa melindungi kamu dari lelaki breengsek yang sudah menyakiti kamu itu....
Selain itu, aku juga ingin menuruti permintaan papa. Kita bisa sama-sama belajar saling membuka hati Shenina..."
To be continued...
please, like dan komen dong
makasih 😂
__ADS_1