Mantan Menyebalkan!

Mantan Menyebalkan!
Starcoffe


__ADS_3

Tampang tengil Refal yang baru pertama kali Shenina lihat lagi setelah mereka dipertemukan kembali membuat Shenina berdecak sebal dan tersenyum tipis dalam waktu yang bersamaan. Senyum yang sangat tipis hingga tidak ada satu orang pun yang menyadarinya termasuk Refal yang terus memandang Shenina.


Tengil adalah sebuah ekspresi yang sangat menyebalkan sekaligus menggemaskan karena dulu Refal selalu memasang tampang tengil seperti itu saat menggoda Shenina hingga dilanjutkan dengan ungkapan ungkapan cinta keduanya.


Menyadari adanya Riana diantara dirinya dan Refaldy, Shenina langsung bersikap datar kembali. Shenina kembali pada sebuah kenyataan bahwa dirinya dan Refal hanyalah secuil kisah masa lalu yang tidak akan pernah kembali.


Oke, jangan sampai Riana curiga kemudian memberitahu Alula macam-macam. Dan mengalah pada Refal adalah pilihan yang terbaik saat ini.


"Mba Riana, anda gak perlu bilang sama Alula mengenai pintu itu ya, gak jadi renovasi." Kata Shenina.


Shenina jelas cukup tahu diri karena posisi disini dia hanyalah menumpang. Menumpang di apartemen yang harganya mungkin sampai puluhan milyar.


"Baik mba Shenina." Jawab Riana.


"Kalau begitu, ada yang bisa saya bantu lagi Mba Shenina?" Tanya Riana.


"Nothing. Terima kasih banyak atas segala bantuannya ya mba Riana."


"Baik kalau begitu saya permisi." Pamit Riana. Shenina mengangguk dan tersenyum ramah.


"Mari Pak Refal." Sapa Riana pada lelaki yang sejak tadi tidak melepas pandangnya sedikit pun pada Shenina.


Refal pun hanya mengangguk dan tersenyum, tapi senyum yang tertuju pada Shenina. Riana baru melihat sosok berbeda dari seorang Refaldy Bayutama, orang yang dia kenal beberapa tahun ini sejak Refal menempati Apartemen mewah ini karena Refal terkenal orang yang dingin.


"Pak Refal." Panggil Shenina.


"Iya?" Refal kembali tersenyum pada Shenina.


"Meskipun apartemen yang saya tinggali saling terhubung dengan apartemen Anda, saya mohon anda bisa menjaga batasan-batasannya."


"Batasan apa maksud kamu?" Lagi, Refal pura-pura bodoh.


"Saya ingin anda tidak memasuki wilayah apartemen Alula selama saya tinggal disana."


"Atas dasar apa kamu melarang saya Shenina? Alula saja yang memiliki apartemen itu tidak pernah keberatan saya keluar masuk apartemennya, toh itu apartemen juga saya yang membeli sebagai hadiah ulang tahun Alula beberapa tahun lalu."


Gleg.


"Saya tidak tahu jika apartemen ini anda yang beli Pak, dan saya juga tidak peduli siapa yang beli. Yang saya tahu hanyalah apartemen ini milik Alula. Dan saya meminta anda menghormati permintaan saya karena saya juga memiliki privasi." Ujar Shenina dengan tenang.

__ADS_1


"Waow.. hadiah ulang tahun berupa apartemen mewah dan saling terhubung? Apa ini nanti akan menjadi tempat tinggal mereka setelah menikah?" Batin Shenina berkecamuk.


"Shenina... saya tidak akan mengganggu privasi kamu. Saya hanya akan meminta kamu untuk bekerja secara profesional sesuai dengan kontrak kerja yang sudah kamu tanda tangani."


"Baik. Tidak masalah. saya akan profesional, asal anda tidak mengganggu saya."


"Kamu sepertinya lupa Shenina, kontrak kerja kamu itu 24 jam sama saya, kapanpun saya butuh... kamu harus standby." Batin Refal tersenyum penuh arti pada Shenina.


Tidak menjawab pertanyaan Shenina, Refal memilih untuk melenggang masuk ke apartemen miliknya begitu saja tanpa peduli dengan Shenina yang menatapnya dengan sebal karena ucapannya tidak digubris lagi oleh Refaldy.


"Untuk hari ini, sudah cukup sampai disini dulu Shenina.. Kamu istirahat saja ya, sampai jumpa besok pagi dengan penuh kejutan." Batin Refaldy.


...***...


Refaldy kembali merebahkan tubuhnya di sofa panjang yang ada di ruang televisi apartemennya sendiri. Refal pun berkutat pada tabletnya lagi untuk mengecek beberapa file guna kelancaran meeting hari Senin nanti.


Shenina sudah tinggal di unit apartemen sebelahnya dan dia bisa masuk kapan saja ke unit milik Alula itu. Hal itu tentu membuat Refal sedikit bernafas lega karena kakak tiri Alula itu dapat memantau gadis pujaan hatinya selama 24 jam. Apalagi kamera CCTV di living room apartemen Alula sudah terhubung ke ponsel Refal, jadi Refal tahu siapa saja yang berkunjung disana termasuk dokter sok tampan bernama Argha itu.


Ah emang dasar Refaldy.


Sedangkan Shenina yang ada disebelah unit apartemen Refaldy nampak beberes. Gadis dengan lesung pipi yang sangat manis itu menata baju-bajunya yang tidak seberapa ke almari Alula yang sangat besar.


Usai membereskan barang-barangnya dan membersihkan tubuhnya, Shenina sudah nampak segar dan memilih untuk berbelanja kebutuhan pribadinya di supermarket yang ada dilantai bawah apartemen.


Meskipun tidak pandai-pandai sekali memasak, Shenina ingin memenuhi kulkas besar di apartemen itu dengan berbagai bahan makanan yang mudah dimasak. Sekalian Shenina membeli cemilan dan berbagai minuman.


"Gapapa tabungan aku kali ini habis, kan seminggu lagi udah gajian dari WIC, gajinya juga sangat banyak. Terus aku gak perlu memikirkan bayar uang kost bulanan." kata Shenina dengan penuh semangat.


...***...


Ternyata berbelanja untuk mengisi kulkas dan stok makanan di supermarket apartemen cukup membuat Shenina lupa waktu.


Jam yang melingkar di tangan Shenina sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


Dengan beberapa kantong belanjaan yang memenuhi kedua tangannya, Shenina tidak lantas kembali ke unit apartemen. Gadis 24 tahun itu memilih untuk mampir di gerai kopi favoritnya, Starcoffe yang ada di samping supermarket.


"Cappucino latte satu sama butter Croissant satu." Ujar Shenina pada kasir Cafe.


"120.000 kak." Ujar kasir perempuan. Shenina pun langsung membayar dan hanya menunggu beberapa detik, pesanan Shenina itu pun langsung bisa Shenina bawa menuju meja yang masih kosong.

__ADS_1


Karena ini weekend, cafe yang menyediakan banyak jenis minuman kopi ini cukup ramai terlebih berada di lingkungan yang elit sehingga harga tidak menjadi masalah lagi.


Shenina cukup kesulitan mencari meja yang masih kosong hingga seorang waiters menunjukkan Shenina pada meja di ujung yang hanya untuk dua orang saja. Shenina pun tersenyum bahagia karena sebentar lagi dapat menikmati kopinya.


Meletakkan nampang berisi cappucino dan butter croissant, Shenina pun duduk tanpa memperhatikan sekitar. Baru juga hendak meminum cappucino, gerakan shenina terhenti karena mendengar suara yang tidak asing di telinganya. Seseorang yang duduk tepat dibelakang Shenina.


"Berhenti ikut campur urusan pribadi aku ma, aku sudah dewasa dan aku berhak menentukan jalan hidup aku sendiri."


Deg!


"Refaldy?" Gumam Shenina yang langsung spontan menengok ke belakang.


Ya, Refaldy duduk tepat dibelakang Shenina yang posisinya saling membelakangi. Dan di depan Refaldy, ada seorang wanita paruh baya yang wajahnya sudah tidak asing lagi untuk Shenina. Meskipun tidak melihat wajah Refal secara langsung, tapi Shenina sudah hafal dengan punggung lelaki itu dan suara lelaki itu.


"Mama hanya ingin yang terbaik buat kamu Fal, nikahi Raya. Kamu harus bertanggung jawab pada hidup Raya, toh Raya juga dari keluarga baik-baik dan keluarga Raya juga dekat dengan keluarga papa kamu kan?" Kata Wanita itu.


Oh ya, Shenina ingat... Refal pernah menunjukkan foto wanita yang sudah melahirkannya ke dunia itu saat mereka masih berpacaran.


"Belakangan ini mama selalu bilang ingin yang terbaik buat aku, lalu selama ini mama kemana? Mama meninggalkan aku begitu saja di rumah orang tua mama dan mama pergi mencari kebahagiaan mama sendiri." Ucap Refal sambil tersenyum. Kata demi kata yang keluar dari mulut Refal memang dengan intonasi yang pelan tapi penuh dengan penekanan.


Dan karena jarak yang cukup dekat antara Refal dan Shenina, Shenina dapat mendengar semuanya dengan jelas.


"Maafkan mama Refal. Maafkan kesalahan mama dimasa lalu, mama mengaku salah. Sekarang, mama akan menebus semua kesalahan mama Fal, mama ingin melihat kamu segera menikahi Raya karena Raya sudah ......"


Refal langsung memotong ucapan sang mama.


"Berhenti ma.... Semua yang terjadi pada wanita bernama Nauraya itu adalah kesalahannya sendiri ma! Tidak ada campur tangannya dengan aku. Dia sudah tahu resiko apa yang harus dia tanggung setelah melakukan hal menjijikan itu! Sekarang aku hanya ingin melanjutkan hidup aku tanpa campur tangan kalian semua! Aku ingin mengejar apa yang ingin aku dapatkan. Aku ingin bahagia dengan wanita pilihan aku sendiri." Ucap Refal yang langsung berdiri dari duduknya.


"Refal, dengerin mama!" Ucap wanita itu.


"Oh iya, satu lagi...." Refal mengehentikan langkahnya tepat disamping Shenina. Namun Refal tidak menyadari keberadaan mantan kekasihnya itu.


"Mama berhenti menganggu Alula! Aku gak suka mama terus menghubungi Alula!" Perintah Refal dengan tegas.


Saat Refal hendak kembali melanjutkan langkahnya, mata Refal bersirobok dengan mata Shenina.


"Shenina?"


to be continued

__ADS_1


__ADS_2