
Tatapan Refal terus tertuju pada Shenina yang melangkahkan kakinya ke area dapur dengan senyum tipis. Entah apa makna senyum tipis Refal itu, karena sejatinya hanya Refal yang tahu.
"Ada iga sama beberapa sayur. Pak Refal mau saya masakin sup iga?" Tanya Shenina dengan nada datar setelah mengecek isi lemari pendingin Refal.
Posisi Dapur ada tepat disamping ruang TV dan hanya bersekat mini bar, sehingga tanpa Shenina mengeraskan volume suaranya untuk bertanya pada Refal, Refal sudah jelas mendengarnya.
"Iya boleh." Jawab Refal singkat.
Tanpa menunggu lama, Shenina pun segera menyiapkan bahan-bahan makanan yang hendak dimasak itu dengan cekatan.
Beruntung, Shenina sejak kecil dipaksa keadaan untuk hidup mandiri sehingga bisa melakukan pekerjaan apapun termasuk masak. Ditambah pernah tinggal di Panti Asuhan membuat skill masaknya kian membaik.
Sedangkan Refal sendiri memilih beranjak dari sofa untuk menuju ke kamarnya guna mengambil baju. Karena sejatinya, sejak di ruang TV tadi, Refal merasa cukup kedinginan hanya memakai bokser pendek saja.
Dan...
30 menit berlalu,
Shenina baru saja selesai berkutat di dapur mewah milik Refaldy. Sup Iga sudah tersaji dengan cantik di mangkuk mewah berwarna abu-abu dengan sepiring nasi di piring yang senada dengan mangkok.
Sup iga adalah makanan kesukaan Refal, Shenina tahu itu sejak lama tepatnya saat mereka masih menjalin hubungan dulu. Shenina juga dulu sering masak sup Iga untuk Refal. Maka sangat wajar jika di lemari pendingin Refal terdapat stock Iga yang cukup banyak.
Usai membersihkan peralatan dapur yang ia gunakan, Shenina pun menatap ke arah tangga dimana Refal terakhir kali terlihat oleh pandangan mata Shenina.
Shenina yakin, salah satu ruangan dilantai dua itu adalah kamar Refal dan mungkin sang bosnya itu sedang istirahat mengingat demam Refal tadi cukuplah tinggi.
Ingin rasanya Shenina hanya mengirim pesan pada Refal jika makanannya sudah tersaji dan siap disantap, kemudian Shenina langsung keluar dari apartemen Refal. Namun apa daya, password apartemen Refal tidak Shenina ketahui. Jadi, mau tidak mau Shenina harus segera memanggil Refal dan berpamitan untuk pulang ke kamar kost-nya.
Ya, meskipun sedikit ragu... Shenina mulai menapaki satu persatu anak tangga yang akan membawanya ke ke kamar seorang Refaldy.
Lantai yang begitu mewah berbalut granit dengan corak abu-abu bercampur hitam itu membuat kaki Shenina semakin terasa dingin.
Kaki Shenina tidak berbalut sandal, karena tadi tidak ada sendal rumah yang biasanya tersedia di dekat-dekat pintu rumah orang kaya. Bahkan Refal tadi pun tidak mengenakan sendal rumah, makanya Shenina sadar diri untuk melepaskan sepatunya dan menaruh di rak sepatu dekat pintu.
"Fal..." Panggil Shenina yang tidak tahu dimana letak kamar Refal sebab dihadapannya kini ada dua pintu yang saling berdampingan.
"Ref.... fal" Shenina seketika menyadari panggilannya yang lancang itu untuk sang boss. Sejenak Shenina terdiam,
"Pak Refal..." Panggil Shenina lagi sambil mengetuk salah satu pintu kamar tersebut.
Tapi ternyata tidak ada sahutan.
__ADS_1
Shenina pun mencoba mengetuk pintu yang satunya lagi. Namun selang beberapa menit, belum juga ada sahutan. Hal itu tentu membuat Shenina cemas mengingat keadaan Refal tadi yang tidak baik-baik saja. Wajah pucat serta demam yang cukup tinggi.
Apa jangan-jangan Refal pingsan, mengingat kata Alula tadi jika seharian ini Refal belum makan sama sekali?
"Pak Refal..." Panggil Shenina lagi dengan suara lebih keras.
Mau tidak mau, Shenina memberanikan diri membuka salah satu pintu kamar yang ada di depannya guna mengetahui kondisi Refal.
Ceklek.
Pintu kamar sebelah kanan tidak dikunci.
Mata Shenina langsung tertuju pada ranjang berukuran king size yang ada di dalam kamar berukuran luas dengan nuansa abu-abu tersebut.
"Pak Refal.." Panggil Shenina yang tanpa pikir panjang langsung melangkah memasuki kamar sang mantan kekasih dimana Refal sedang menggigil di dalam selimut tebal diatas ranjang besar itu.
"Fal..." Panggil Shenina sembari mengecek kening Refal untuk tahu suhu badan lelaki tampan itu.
"Astaga... demam kamu makin tinggi." Ujar Shenina panik.
"Dingin Shen..." Ucap Refal lirih. Shenina pun melirik AC kamar Refal yang ternyata memang mati. Tapi kenapa Refal tetap menggigil seperti ini?
"Fal..." Shenina menghentikan ucapannya. Entah mengapa memanggil Refal dengan sebutan 'PAK' masih kaku di lidah Shenina.
"Aku belum makan Shen... dingin banget sumpah... aku rasanya gak kuat Shen..." Suara Refal benar-benar lirih bahkan bibir lelaki itu nampak pucat sekali dan bergetar.
"Kita ke rumah sakit ya? atau aku panggilkan dokter saja?" Tanya Shenina panik. Bukannya menjawab, Refal justru memejamkan matanya.
"Fal... please jangan nakutin gue! Buka mata elu Fal." Ucap Shenina semakin panik.
"Di... ngin Shen..." Lirih Refal dengan mata terpejam.
Menghubungi dokter? jelas Shenina tidak tahu harus memanggil dokter siapa. Bawa ke rumah sakit? Shenina pun tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa mengingat pintu apartemen Refal terkunci.
Alula!
Shenina segera keluar dari kamar Refal untuk mengambil ponselnya di lantai bawah demi bisa menghubungi Alula. Minimal Shenina tanya password apartemen Refal sehingga bisa meminta security untuk membawa Refal ke rumah sakit.
Namun sayang, nomor Alula tidak dapat dihubungi. Kenapa saat saat seperti ini Alula justru seperti menghilang sih?
Shenina pun kembali ke lantai atas dimana kamar Refal berada. Mendengar Refal merancau kedinginan membuat pikiran Shenina makin kalut. Shenina yang menemukan ponsel Refal di nakas pun hanya bisa mendesahh pasrah karena ternyata ponsel itu dalam kondisi mati. Mungkin lowbat.
__ADS_1
"Shen... dingin... tolongin aku please .. aku gak kuat Shenina..." Ucap Refal.
Tolong?
Tolong yang bagaimana?
Otak Shenina pun harus dipaksa berpikir keras untuk menolong sang mantan. Namun sayang, kalau situasi dan kondisinya seperti ini, otak Shenina ikut nge-hang.
"To... long peluk gue Shen... dingin..." Pinta Refal lirih.
Shenina kembali memeriksa kening Refal, dan Shenina perkirakan bahwa suhu tubuh Refal semakin panas.
"Aku gak kuat Shenina... maafin aku... maafin semua kesalahan aku Shenina..." Gumam Refal lirih dengan mata terpejam.
"Fal.. please buka mata elu Fal... Refal..." Shenina menepuk-nepuk pipi Refal namun Refal tidak bergeming karen lelaki itu semakin merancau tidak jelas.
Mata Shenina sudah berkaca-kaca. Tidak pernah ada dibenaknya untuk bertemu Refaldy kembali apalagi dengan kondisi seperti ini, Refal yang sangat lemah begini.
"Sumpah, gue pengen banget cekik elu sekarang juga Fal... karena elu udah jahat banget sama gue dulu! elu udah hancurkan mimpi-mimpi gue fal!" Kata Shenina dengan air mata yang menetes.
Tapi bukan mencekik Refal, Shenina justru naik ke atas ranjang Refal dan memeluk lelaki itu agar tidak kedinginan lagi.
"Dingin Shen..." Ucap Refal yang masih tetap saja kedinginan meskipun sudah dipeluk oleh Shenina.
"Elu nyebelin banget sih Fal, susahnya apa sih bilang password apartemen elu supaya gue bisa cari bantuan?" Ucap Shenina setengah berteriak.
"dingin Shen... dingin..."
Shenina pun merasakan tubuh Refal yang memang benar-benar menggigil.
"Astaga... gue harus gimana lagi Fal.. masak iya kita harus skin to skin?"
What?
Skin to skin?
to be continued
Ya ampun kasihan sup iganya dianggurin yak....
eh malah pada pelukan diatas ranjang 🙈🙈
__ADS_1
lanjut gak?
tinggalkan komentar dan like ya kak.. makasih 🤍