Mantan Menyebalkan!

Mantan Menyebalkan!
Menutup Masa Lalu


__ADS_3

"Alula..." Gumam Shenina membaca nama yang tertera di layar ponselnya.


Tiba-tiba rasa bersalah memenuhi hati Shenina karena beberapa detik lalu Shenina mengkhianati sahabatnya yaitu berciuman dengan Refal, kekasih Alula.


Sedangkan Refal yang mendengar nama Alula disebut hanya mampu memejamkan matanya dan berdecak lirih. Mungkin Refal juga merutuki kesalahannya pada Alula, begitulah pikir Shenina secara singkat.


Menggeser icon berwarna hijau pada layar ponselnya setelah berhasil menetralkan degupan jantungnya, Shenina mulai menyapa Alula.


"Hallo La..."


"Hallo Shen.. elu masih di apartemen Mas Refal?" Tanya Alula di seberang sana.


Shenina pun melirik sekilas ke arah sang mantan yang duduk dengan tenang disampingnya dan bersandar di headboard sofa karena kepalanya kembali terasa pusing.


Mas Refal? manis sekali panggilan itu di telinga Shenina.


"I.. iya.. masih La.." Jawab Shenina.


"Gimana keadaan mas Refal Shen? Kenapa gue telfon dia dari tadi gak diangkat? Dia gak apa-apa kan Shen? gue cemas dari tadi." Tanya Alula.


"Pak Refal demam.. Elu bicara aja sama Pak Refal langsung deh La." Shenina kemudian menyerahkan ponselnya pada Refal dan Refal yang paham pun langsung menerimanya tanpa bertanya apapun.


"Hallo baby..." Sapa Refal dengan suara lirih sambil memijat pelipisnya.


Shenina auto melengos, panggilan Refal untuk Alula ternyata tidak kalah manis. iya semanis ciuman Refal tadi. Astaga~


"........."


"Iya.. aku udah minum obat lambung. Tapi belum minum Paracetamol karena aku belum makan."


"......."


"Gak ada yang bisa di makan baby..."


"......…...."


"Maaf ya, ponsel aku tadi di kamar. aku keluar buat bukain pintu Shenina tadi. terus kepalaku pusing.. jadi aku langsung rebahan di sofa."


"....."

__ADS_1


"Hmmm... iya baby...."


Entah Alula berbicara apa diseberang sana, Shenina tidak dapat mendengarnya karena Refal mengurangi volume panggilannya. Namun yang Shenina lihat, Refal nampak tersenyum tipis mendengarkan ocehan panjang Alula.


"Makasih Alula sayang... Miss you... salam buat Tante Sukma." Ucap Refal yang kemudian menyerah kembali ponselnya pada Shenina.


Sukma? Shenina tahu itu adalah nama dari mama Alula, apakah hubungan Refal dan Alula sudah sedekat itu?


"Alula mau ngomong sama kamu." Kata Refal, Shenina menerima ponselnya kembali dengan banyak pertanyaan.


"Gimana La..."


"Shen, gue percayakan mas Refal sama elu ya .. tolong elu jaga dia sampai sembuh, jangan di tinggal ya, gue takut mas Refal kenapa-napa... tolong juga masakin dia, dia belum makan dari pagi makanya asam lambungnya naik. Di Kulkas ada beberapa stok bahan makanan yang bisa kamu olah. Kamu cari aja dan masak yang kamu bisa." Kata Alula tanpa bisa dijeda.


"Tapi La..."


"Please, gue mohon Shenina cantik... gue soalnya lagi gak di Jakarta, mas Refal itu kalau lagi sakit, manjanya minta ampun.. dia di Jakarta gak ada siapa-siapa Shenina... gue mohon ya..."


Emang Refal anak kecil apa? sungguh Shenina ingin berteriak seperti itu, namun gadis itu tahan.


Shenina berusaha menolak permintaan Alula secara halus namun Alula tidak menyerah untuk membujuk Shenina hingga akhirnya Shenina menyetujuinya.


"Thank Shenina cantik... tolong rawat dan jaga mas Refal gue dengan baik sampai sembuh ya... gue percaya sama elu, soalnya gue gak percaya dengan wanita lain di luaran sana." Ucap Alula sebelum panggilan itu terputus.


"Udah terputus panggilan dari Alula?" Tanya Refal membuat lamunan Shenina buyar.


Ternyata Refal sedari tadi memperhatikan Shenina yang terus menolak permintaan Alula untuk merawatnya.


"Hmmm."


Baik Shenina maupun Refal, keduanya sebenarnya sama-sama gugup setelah ciuman beberapa menit lalu. Karena ciuman tadi mengingatkan mereka pada kenangan-kenangan manis saat masih bersama.


Empat tahun lalu terakhir kali Refal merasakan bibir manis Shenina sebelum tadi menyicipinya kembali. Dan rasanya masih sama, memabukkan untuk seorang Refaldy Bayutama.


Astaga, otak Refal mendadak korslet setelah mencicipi bibir Shenina lagi. Dan Refal juga tidak bisa memungkiri bahwa ada rasa bersalah yang luar biasa di dalam dadanya, apalagi setelah mendengar celotehan Alula tadi.


"Shenina... Maaf..." Ucap Refal dengan menunduk.


"Maaf atas kelancanganku..." Refal memberanikan diri untuk meminta maaf pada Shenina, meskipun setelah ini Shenina menamparnya, Refal siap. Yang penting dia bukan dicap sebagai lelaki pengecut.

__ADS_1


"Lupakan Fal!" Jawab Shenina dengan nada dingin.


"Aku minta maaf atas kesalahan aku di masa lalu dan untuk..."


"STOP!" Shenina menghentikan ucapan Refal. Shenina memberikan tatapan tajam untuk sang boss yang kini duduk di sampingnya dengan jarak yang cukup jauh karena sama-sama di ujung sofa yang berbeda.


"Stop untuk bahas masa lalu yang udah selesai Fal, anggap saja kita tidak pernah kenal sebelumnya dan diantara kita tidak pernah terjalin hubungan apa-apa. Dan anggap saja kejadian barusan juga tidak pernah terjadi." Tegas Shenina.


"Shen..."


"Jangan menambah rasa bersalahku pada Alula semakin besar Fal... udah stop aku mohon.." air mata Shenina tiba-tiba menetes begitu saja membuat Refal membeku menatap Shenina dengan perasaan bersalah.


"Aku mohon rahasiakan masa lalu kita dari Alula Fal.. Mulai detik ini, ayo kita bersikap profesional, kamu atasan dan aku bawahan kamu." Pinta Shenina.


"Kenapa kita harus merahasiakan masa lalu kita Shen?" Tanya Refal.


"Kamu bodoh atau gimana sih Fal?" Batin Shenina yang tidak berani mengumpat Refal karena dia ingin menerapkan sikap profesional, iya kali atasan di umpat secara langsung kan...


"Pokoknya aku mau mulai detik ini kita bersikap profesional layaknya atasan dan bawahan. Kubur dalam-dalam kisah masa lalu kita dulu! Jika kamu menolak, maka aku akan langsung mengundurkan diri dari Perusahaan Wishnutama. Aku gak peduli kalau di tuntut karena tidak bisa bayar pinalti." Jelas Shenina panjang lebar.


Jika boleh jujur....


Sebenarnya Shenina begitu was was jika dirinya memang harus mengundurkan diri hingga dituntut karena tidak mampu bayar pinalti.


Mau bagaimana pun, berurusan sama hukum bukanlah hal mudah. Apalagi orang yang tidak punya harta dan hidup sebatang kara seperti dirinya.


"Oke baiklah... terserah kamu." Jawab Refal tanpa banyak protes meskipun otak Refal sedang merencanakan sesuatu.


"Sekarang tolong buatkan saya makanan. Bukankah tadi Alula meminta kamu untuk membuatkan saya makanan dan merawat saya sampai sembuh?" Tanya Refal dengan memasang wajah datarnya kembali.


'Saya'?


Kenapa secepat itu? bukankah beberapa menit lagi masih memakai kata 'aku'?


"Tapi..." Ingin sekali Shenina pamit pulang.


"Tidak ada kata tapi Shenina... katanya kamu mau bersikap profesional, maka buktikanlah." Tantang Refal.


"Baiklah.. saya akan melihat bahan-bahannya dulu yang ada di kulkas." Shenina pun berdiri dari duduknya kemudian berjalan ke arah dapur.

__ADS_1


"Aku akan mengikuti permainan kamu Shenina..." Batin Refal tersenyum tipis.


To be continued


__ADS_2