Mantan Menyebalkan!

Mantan Menyebalkan!
Hari Kedua Bekerja


__ADS_3

Setelah menarik perhatian beberapa karyawan di lobby dengan acara peluk pelukan, Refal pun mengajak Alula untuk ke ruangannya. Awalnya Refal hendak menggandeng Alula, tapi Alula tolak karena gadis itu lebih memilih menggandeng Shenina, sahabatnya. Jadilah Refal membuntuti dua gadis yang nampak akrab itu.


Jangan salah, berada sedekat ini dengan Alula justru membuat dada Shenina terasa sesak karena rasa bersalah.


Ya, rasa bersalah karena kemarin dia berciuman dengan Refal juga rasa bersalah akan tindakan bodohnya yang melakukan skin to skin.


Obrolan ringan pun menemani setiap langkah Shenina dan Alula menuju lantai 20 dimana ruangan Refal berada sekaligus meja kerja Shenina. Beruntung Shenina termasuk orang yang dapat menyembunyikan segala perasaannya dengan senyum yang mengembang untuk Alula.


Di depan pintu ruangan Refal, Alula hendak menyeret Shenina masuk untuk lanjut bercerita tentang Dhani yang entah siapa itu tidak Refal kenal, namun Refal segera mencegah hal itu.


"La, aku mau bicara berdua sama kamu." Kata Refal dengan nada lembut dan tatapan teduh pada Alula yang tidak bisa Shenina lewatkan.


"Entar dulu. Aku masih kangen sama Shenina mas." kata Alula dengan nada merengek nya.


"Kita bisa ngobrol lagi di jam istirahat La.." Sambung Shenina membuat bibir Alula mengerucut.


"Iya. Kalian bisa mengobrol lagi nanti di jam istirahat. Aku mau membahas soal pesta pertunangan La." Kata Refal.


Deg.


Shenina tersenyum tipis dengan hati yang rasanya sangat tidak nyaman. Apalagi melihat senyum Alula yang langsung mengembang menatap Refal dengan penuh sayang.


Breengsek Refal, kemarin mencium dirinya dengan perasaan tidak berdosa, kini membahas pertunangan dengan Alula. Shenina mencoba untuk tenang dan tetap tersenyum.


Emang siapa dia? dia hanya masa lalu Refal dan Alula adalah masa depan Refal. Toh Shenina tidak punya pikiran sedikit pun untuk merusak hubungan mereka. Alula adalah sahabat terbaik Shenina.


"Sorry Shen.." Batin Refal yang tahu arti tatapan mata Shenina. Maklum mereka kenal sudah sangat lama sekali.


"Shenina, tolong buatkan saya kopi dan juga buatkan Alula teh hangat. Untuk teh hangatnya Alula, gulanya cukup satu sendok teh saja dan jangan terlalu panas." Perintah Refal dengan gaya formalnya.


"Mas.. kok nyuruh Shenina... Shenina bukan OB ya disini." Protes Alula.


"Gapapa La.." Jawab Shenina ramah.


"Itu termasuk job desk dia La, udah ayo masuk.. aku mau bicara empat mata sama kamu."


Refal dan Alula memasuki ruang kerja Direktur Produksi yang tidak lain adalah ruangan Refaldy Bayutama.


"Kamu pasti baper ya lihat perhatian pak Refal pada Mba Alula?" Ucap Vira yang meja kerjanya memang ada di depan ruangan Refal.


Shenina tersenyum tipis.


"Pak Refal itu memang kelihatan sayang banget sama Mba Alula, meskipun mereka tidak pernah mengumumkan hubungan mereka, tetapi sudah jadi rahasia umum di kantor ini kalau mereka punya hubungan spesial."


"Iya.. mereka sangat serasi ya mba." Jawab Shenina dengan senyum miris.


"Hmmm... sama-sama dari keluarga berada." Shenina mengangguk kemudian pamit pada Mba Vira untuk membuatkan minum Refal dan Alula dengan perasaan yang entah.

__ADS_1


Iya, mereka memang sangat serasi. Shenina tidak bisa memungkiri hal itu terlebih segala perhatian Refal pada Alula yang dapat Shenina lihat dan dengar secara langsung.


Tapi memang iya, Refal adalah pribadi yang sangat sayang dan perhatian penuh pada pasangan. Shenina sudah merasakan itu sendiri.


...***...


Tok..


Tok...


Tok...


"Masuk." Jawab dua orang yang ada di dalam ruangan itu secara bersamaan.


Shenina yang membawa nampan berisi secangkir kopi panas dan secangkir teh hangat itu pun masuk ruangan Direktur Produksi.


"Makasih Shenina... maaf ya gue udah merepotkan elu, padahal gue bisa buat sendiri loh.." Ucap Alula sambil tersenyum ramah.


"Gak masalah La.."


"Nanti jam istirahat kita ngobrol ya Shen." Ajak Alula.


"Oke." Jawab Shenina dengan tersenyum.


"Silahkan diminum La, pak Refal." Kata Shenina meletakkan dua cangkir itu di meja yang ada di depan sofa tempat Refal dan Alula duduk.


"Kalau begitu saya permisi ya Pak Refal." Pamit Shenina karena tidak ingin menggangu kedua anak manusia yang sibuk dengan kertas di tangan masing-masing.


"Silahkan." Jawab Refal.


"Bye Shenina..." Alula melambaikan tangannya pada Shenina.


"Eh Shen, dapat salam loh dari Dhani." Kata Alula lagi saat Shenina hendak menarik ganggang pintu ruangan Refal.


"Ha?"


"Dapat salam dari Dhani, katanya dia ingin ketemu kamu, mau jelasin sesuatu dan minta maaf." Kata Alula lagi.


"Alula.. nanti aja kalau ngobrol sama Shenina... sekarang, kamu fokus! mau undangan pertunangan yang mana... dan berapa total teman kamu yang akan kamu undang." Kata Refal yang justru semakin membuat dada Shenina sesak.


"Nanti aja kita ngobrol lagi ya La..." Ucap Shenina lembut kemudian keluar dari ruangan Refal.


Sampai di depan ruangan Refal, Shenina izin pada Vira untuk ke toilet. Dan Vira hanya mengangguk tanpa melihat raut wajah Shenina yang sudah teramat sendu.


Bruukk!


"Awww.." Pekik Shenina terkejut. Shenina yang perasaannya tidak tentu itu tidak melihat jalan hingga menubruk seseorang yang juga baru keluar dari area toilet yang ada di lantai 20.

__ADS_1


"Hati-hati Shenina..." Kata lelaki yang Shenina tabrak sambil memegang pundak Shenina sehingga Shenina tidak terjatuh.


"Pak Gerald..." Gumam Shenina melihat siapa lelaki yang ia tabrak tersebut.


"Shen, kamu kenapa? apa sakit? mana yang sakit?" Gerald nampak cemas melihat air mata Shenina sudah menetes.


"Oh.. nggak pak.. nggak...sa...saya sa.. saya hanya sedikit sakit perut karena datang bulan jadi pengen nangis." Jawab Shenina asal.


"Mau ke dokter?" Tanya Gerald.


"Tidak perlu pak, terima kasih... mohon maaf, saya mau segera ke toilet." Pamit Shenina.


"oh iya... silahkan." Kata Gerald yang menatap Shenina dengan raut wajah cemas.


...**...


Di dalam toilet Kantor,


Shenina tidak dapat membendung lagi air matanya untuk tidak jatuh dengan derasnya.


Dada Shenina terasa sesak entah karena apa...


Bersalah pada Alula atas kejadian semalam di apartemen?


atau


Mendengar Refal dan Alula yang sudah merencanakan pertunangan mereka? Kalau Iya, berarti sampai detik ini hatinya masih menggenggam nama Refaldy Bayutama sepenuhnya.


"Kenapa sesakit ini Tuhan?"


"Kenapa aku harus Kau pertemuan dengan Refal lagi? Kenapa Tuhan?"


"Kenapa harus Alula?"


Ini baru hari kedua Shenina bekerja. Tapi kenapa terasa sangat berat. Bisakah dia undur diri saja?


Tapi dia akan berurusan dengan hukum. Tetapi, bukankah lebih baik berurusan dengan hukum dan berakhir di jeruji besi karena tidak bisa bayar pinalti ketimbang dia harus melihat Refal setiap hari?


Oh Tuhan ...


to be continued


Like dong kak


Sama komentarnya ya


makasih...

__ADS_1


__ADS_2