
Karakter Indra Aditama yang merupakan pribadi yang cukup keras dan tidak akan menyerah jika menginginkan sesuatu, ternyata menurun pada anak lelakinya Refaldy Bayutama.
Bagaimana tidak, semenjak bertemu Shenina kembali, hati Refal tidak tenang hingga Refal menyadari bahwa perasaannya masih sangat besar untuk Shenina, apalagi setelah munculnya dokter Argha yang selalu menjemput Shenina, Refal tidak dapat lagi membohongi perasaannya sendiri. Oleh sebab itu, Refal bertekad untuk mendapatkan hati Shenina lagi, tidak peduli bagaimana pun caranya.
Ketidaktahuan Shenina mengenai hubungan Refal dan Alula yang sebenarnya, tentu di manfaatkan Refal agar Shenina mau menuruti segala keinginannya. Refal tidak ingin membuang kesempatan sekecil apapun untuk bisa menarik Shenina dalam pelukannya. Terlebih ada seorang dokter tampan yang jelas-jelas tengah dekat dengan Shenina.
"Jika kamu terus membantah ucapan aku, maka jangan salahkan aku jika video kita yang sedang berciuman pagi ini dan rekaman CCTV di apartemen aku waktu itu akan sampai ke tangan Alula."
Kalimat bernada ancaman itu terus Refal ucapkan pada Shenina sejak kemarin pagi dimana dia ke apartemen Alula hingga berakhir dengan ciuman panas dengan Shenina.
Awalnya, Shenina langsung mengumpat Refal karena ternyata kamera ponsel Refal menyala dan mengarah pada meja dapur. Parah, parah, parah.... Shenina merasa dijebak oleh Refaldy.
Dan...
Ternyata, ancaman itu tidak sia-sia. Sebab, Shenina akhirnya menyetujui untuk pulang pergi ke kantor bersama dengan Refal. Dan Shenina juga tidak banyak membantah ucapan-ucapan Refal karena Shenina tidak mau Alula tahu kejadian di apartemen pagi kemarin maupun beberapa Minggu lalu saat Refal sakit.
Namun tanpa Refal sadari, Shenina sedang memutar otaknya untuk membalikkan keadaan dimana dirinya tidak bisa lagi ditekan oleh Refal meskipun posisinya adalah bawahan Refal.
"Otak elu itu cerdas Fal, tapi kecerdasan elu malah elu gunakan buat menekan Shenina." Itulah yang dikatakan oleh Gerald pada calon kakak iparnya saat Refal cerita mengenai apa yang dilakukan pada Shenina.
"Gue gak akan biarkan Shenina pulang pergi diantar jemput sama dokter itu lagi Ger." Refal sangat tahu jika Shenina tidak akan mampu membuat Alula yang sudah baik dan peduli sama dia itu kecewa.
"Elu takut kalah saing sama si dokter itu?" Tanya Gerald.
Refal menghela nafasnya kasar kemudian mengangguk lemah dan disambut tawa mengejek oleh Gerald.
"Sejak kapan seorang Refaldy pesimis?" Tanya Gerald.
"Elu tahu sendiri apa yang sudah gue lakukan... gue gak bisa menghapus masa lalu gue Ger, apalagi gue pernah menyakiti Shenina sampai begitu dalam. Jadi wajar kan gue pesimis. Gue takut kalau Shenina tidak bisa menerima masa lalu gue." Helaan nafas Refal terasa berat.
"Buat dia hamil!" Ujar Gerald dengan entengnya.
"Ngaco Lo! Nggak!" Umpat Refal.
"Kenapa?" Tanya Gerald mengernyit.
__ADS_1
"Gue gak mau merusak Shenina sebelum halal."
"Omongan elu kayak taai ayam yang baru keluar Fal.... anget anget lembek!" Ejek Gerald.
"Elu gak mau merusak Shenina, elu aja dulu pacaran udah greepe-greepe dia Fal. Meskipun elu gak cerita tapi gue udah bisa nebak isi otak elu."
"Gue cuma main di bagian atas gak sampai bawah ya." Refal membela dirinya sendiri.
"Sama aja taaii." Ucap Gerald.
"Beda!" Tidak mudah memang pacaran anak anak kuliahan yang jauh dari pengawasan orang tua dan dimabuk asmara. Banyak setannya tsay...
"Pilihan ada di tangan elu Fal. Meksipun gue gak deket sama Shenina tapi sedikit banyak gue bisa baca karakter dia. Dan iya, elu benar... kemungkinan besar, Shenina gak akan bisa terima elu meskipun dia masih punya perasaan sama elu karena dia sepertinya wanita yang mengandalkan logika ketimbang perasaan." Ucapan Gerald pun dibenarkan Refal di dalam hati.
"Sekarang pilihannya ada di elu, mau elu pakai cara-cara wajar yang kemungkinan besar gagal, atau sedikit cara asyik yang bikin ketagihan tapi dijamin berhasil." lanjut Gerald sang mantan Cassanova.
Refal nampak berpikir, keduanya saling diam dalam pikirannya masing-masing.
"Elu yakin berhasil?" Tanya Refal menatap Gerald.
Refal kembali diam.
"Elu udah pernah jadi breengsek Fal, sekali lagi brengseek menurut gue gak masalah. Lagian ini Shenina." Ucap Gerald lagi membuat Refal semakin berpikir keras.
"Sorry, gue menyarankan cara kotor ke elu Fal, bukan apa-apa... gue cuma gak mau elu kehilangan Shenina lagi dan elu terpuruk lagi." Batin Gerald yang beberapa hari lalu mendengar rencana pertunangan Shenina dengan dokter Argha sedangkan hubungan Refal dan Shenina seperti belum ada kemajuannya sama sekali.
...***...
"Shenina, nanti kamu temani saya belanja di supermarket." Kata Refal saat berjalan di depan Shenina usai meeting di lantai 10.
"Ehm... maaf pak, hari ini saya tidak bisa pulang bareng dengan bapak." Jawab Shenina dengan nada rendah.
Refal menghentikan langkahnya sejenak.
"Berikan alasannya." Kata Refal.
__ADS_1
"Saya ada janji dengan teman saya."
"Siapa teman kamu?"
"Anda tidak memiliki hak untuk mengetahuinya Pak Refal." Jawaban Shenina membuat tangan Refal mengepal kemudian melanjutkan langkah kakinya menuju lift.
" Saya tidak mau tahu, nanti kamu pulang sama saya dan kamu harus menemani saya belanja di supermarket karena persediaan makanan di kulkas saya sudah kosong." Kata Refal dengan langkah memasuki lift. Kebetulan lift sangat sepi, hanya berisi dua orang mantan kekasih itu.
"Pak Refal, saya sudah ada janji sama ....."
"Oke, saya akan kirim video kita ciuman di apartemen kepada Alula. Kita lihat bagaimana reaksi Alula nanti." Ancam Refal dengan senyum tipis sementara Shenina langsung melotot.
"Pak Refal kenapa tega sama Alula? Dia pasti akan kecewa sama kita pak. Kenapa bapak tega?"
"Karena saya tidak pernah menganggap Alula sebagai wanita dewasa, Shenina... saya hanya mencintai kamu, perasaan saya pada Alula adalah perasaan sayang kakak pada adiknya." Ucap Refal jujur, tapi mana Shenina paham jika Refal dan Alula memang beneran kakak beradik meskipun beda ibu.
"Jangan pak, saya gak mau Alula sedih."
"Jelas Alula senang melihat aku kembali pada kamu Shen, karena dengan begitu dia tidak akan merasa bersalah lagi pada kisah kita yang teramat tragis." Batin Refal.
"Saya tidak peduli Shenina." Refal keluar lebih dulu dari lift ketika pintunya terbuka di lantai 20.
"Anda tidak bisa seenaknya begitu dong pak!"
"Kalau kamu gak mau seenaknya, maka ayo kita balikan." Kata Refal membalikkan badan dan menatap Shenina dengan intens.
"CK! Kenapa harus balikan sama mantan? seperti tidak ada lelaki lain." Kini giliran Shenina menatap Refal dengan tajam.
"Dalam kamus hidup saya, tidak ada yang namanya balikan sama mantan. Mohon maaf kalau saya hari ini tidak bisa menemani bapak karena saya sudah janji dengan dokter Argha. Kalau bapak emang mau bilang sama Alula tentang kejadian di apartemen, silahkan bilang saja... saya yakin, setelah itu saya akan dikeluarkan dari perusahaan ini oleh Alula dan saya bisa terbebas dari anda bapak Refaldy yang terhormat."
Sudah dari kemarin Shenina ingin membalas ancaman Refal, namun Shenina berusaha sabar dan menunggu momen yang tepat. Dan inilah momen yang tepat.
Shenina berjalan lebih dulu meninggalkan Refal yang sudah mengepalkan tangannya. Ya beginilah Shenina dan Refal setiap hari, Refal yang ingin selalu Shenina ada dalam pengawasannya dengan cara yang salah, sedangkan Shenina selalu menolak Refal dan bersikap dingin pada Refal semenjak kejadian pagi di apartemen waktu itu.
"Berat Fal, makin hari itu cewe makin terang-terangan nolak elu."
__ADS_1
to be continued