
"Shenina, kita bicarakan semuanya dulu... permasalahan kita belum selesai." Refal ikut berdiri. Lelaki itu meraih pergelangan tangan Shenina dengan genggaman yang kuat tapi tidak menyakiti.
"Gak ada yang perlu dibicarakan lagi Fal, meskipun kamu dan Alula adalah kakak beradik, keputusan aku masih sama, aku gak mau nikah sama kamu." Shenina menghempaskan tangan Refal yang memegang pergelangan tangannya.
"Shenina, kamu itu lucu... kenapa aku sama mas Refal harus menjelaskan tentang hubungan kami yang sebenarnya sama kamu? kenapa kamu kelihatan kecewa dengan fakta itu? Apa memang benar, selama ini cinta kamu masih untuk mas Refal? begitu juga dengan cinta mas Refal ke kamu, makanya kamu cemburu melihat aku manja sama kakak aku sendiri." Alula berkata lembut sambil tersenyum membuat langkah Shenina terhenti.
Shenina merasa tersinggung dengan ucapan Alula. Iya, benar. Dirinya memang tidak memiliki hak untuk mengetahuinya kehidupan pribadi Alula ataupun Refal.
Tapi bukan hal mudah berada di dekat Refal yang notabenenya adalah sang mantan apalagi pernah khilaf saat Refal sakit. Sedangkan yang Shenina tahu Alula adalah kekasih Refal. Bukan adik Refal. Berminggu-minggu hati Shenina dipenuhi rasa bersalah pada Alula.
Lalu apa yang Alula bilang tadi?
Cemburu?
Cinta?
Shenina tersenyum tipis, gadis berlesung pipi itu menyimpulkan bahwa hatinya sudah mati rasa meskipun dia sadar bahwa di sudut hatinya masih ada nama Refal. Tapi Shenina memilih untuk membohongi hatinya sendiri.
Lalu bagaimana bisa Alula menganggap dirinya masih mencintai Refal, padahal Shenina selalu bersikap normal normal saja.
Shenina pun menengok untuk melihat wajah Alula, sahabat barunya itu yang sudah memberikan pekerja dan tempat tinggal mewah untuk.
"Kamu benar La, aku gak berhak mengetahui tentang kamu ataupun Refal. Jadi, wajarkan kalau aku kecewa sama kamu... ekspektasi aku udah terlalu tinggi bersahabat sama kamu La, aku menceritakan semuanya sama kamu, tapi kamu gak pernah menceritakan tentang keluarga kamu. Ternyata selama ini, aku yang hanya anggap kamu sahabat, kamu nya enggak!" Ucap Shenina dengan lirih dan mata berkaca-kaca.
Tatapan kecewa Shenina pada Alula memang terlihat begitu jelas. Hal itu tentu membuat Refal frustasi sendiri. Kenapa jadi bahas persahabatan bukan kesepakatan pernikahan? duh Alula.
Sedangkan Alula sendiri masih mengerjap-ngerjapkan matanya. Gadis yang memiliki kepribadian manja itu pun tidak menyangka dengan respon Shenina. Diluar prediksinya. Apalagi mendapatkan plototan tajam dari kakak lelakinya yang bertanda Alula harus bisa mengembalikan pembicaraan yang fokus pada pernikahan.
"Shenina, maksud aku gak begitu..." Ucap Alula penuh rasa bersalah. Alula tidak ingin kesempatan emas yang udah dibangun untuk menyatukan Refal dan Shenina ini gagal.
__ADS_1
"Makasih buat semua kebaikan kamu La, mulai detik ini.. aku akan keluar dari apartemen kamu sekaligus keluar dari pekerjaan." Kata Shenina sambil melirik ke Refal.
"Gak... gak bisa. Aku udah repot-repot renovasi apartemen biar bisa dekat Shenina, kok Shenina mau pindah. No! kalau pindah ke apartemenku setelah menikah mah gak masalah, aku justru bahagia. Apalagi keluar dari kerjaan. Enggak! enak aja!" Batin Refal.
"Aku gak mau kamu keluar dari perusahaan sebelum masa kontrak kamu habis Shenina!" Tegas Refal.
"Kenapa? kamu tenang aja, aku akan bayar pinalti! Mas Argha, calon suami aku sudah berjanji akan membayar pinalti agar aku bisa keluar dari pekerjaan usai menikah."
Deg!
Tidak ada yang lebih perih mendengar semua itu dari mulut Shenina langsung.
"Nggak! kamu gak bisa menikah dengan lelaki lain Shenina... Aku gak akan membiarkan itu terjadi." Kata Refal dengan tajam.
"Kamu gak punya hak mengatur hidup aku Refaldy!" Teriak Shenina.
Shenina mematung dan memejamkan matanya selama beberapa detik untuk menetralkan detak jantungnya.
"Kamu gak berhak mengatur hidup aku Refaldy! Apapun yang akan terjadi, aku akan menerima lamaran bang Argha!" Teriak Shenina frustasi.
"Shenina..." Panggil Refal dengan berteriak juga. Refal tidak dapat mengendalikan emosinya juga saat Shenina menyebut nama dokter itu dengan 'bang. Terdengar manis sekali, padahal emosi Shenina sedang meluap-luap.
"Apa kamu yakin, dokter itu masih mau menerima kamu yang sekarang Shenina? Kamu yang sudah tidak virgin lagi? apa kamu yakin, dokter itu akan menerima anak kita dengan baik jika kamu sebentar lagi hamil anak aku Shenina." Pertanyaan Refal benar-benar menusuk jantung Shenina.
Keduanya sama-sama emosi. Dan ini adalah kali pertama Refal dan Shenina saling berteriak di penuhi emosi dalam jiwa masing-masing.
Shenina terduduk lemas dan menangis. Kata-kata Refal selain menyadarkan Shenina pada sebuah fakta, juga sangat menyakiti Shenina.
"Maafkan aku bang... maafkan aku yang nggak bisa jaga diri aku." Batin Shenina.
__ADS_1
Shenina mendadak mengingat pesan Argha, beberapa tahun lalu dimana Shenina diminta untuk menjaga dirinya. Karena harga diri seorang perempuan dinilai dari sebaik apa dia menjaga dirinya, menjaga virginnya kecuali pada korban-korban pemerkosaaan ya...
"Selama aku masih dikasih Tuhan kesempatan untuk bernafas, aku gak akan membiarkan kamu bersanding dengan lelaki lain Shenina. Aku cinta kamu Shen. Sangat mencintai kamu." Refal berjongkok tepat di depan Shenina yang menangis.
"Kalau begitu, aku gak akan bersanding dengan siapapun sampai mati." Ucap Shenina sambil menangis tersedu-sedu.
"Shenina...." Panggil Refal yang sudah menurunkan ego dan emosinya.
"Maafkan aku.... aku mencintai kamu Shenina...aku mohon, ayo kita menikah."
"Keputusan aku masih sama Fal." Jawab Shenina.
Bersama Refal, banyak ketakutan yang menghantui Shenina. Wajar, gadis itu dulu memiliki banyak mimpi-mimpi indah bersama Refal. Rencana masa depan sudah didiskusikan bersama namun tiba-tiba Refal mengakhiri hubungan mereka secara sepihak dengan menggandeng gadis lain.
"Shenina... aku minta maaf. Ini semua salah aku." Ucap Alula.
Namanya di panggil, Shenina mendongak melihat Alula yang ternyata juga sudah mengeluarkan air mata.
"Kejadian dulu, hingga sekarang... semua karena kesalahan aku Shenina... Aku yang membuat mas Refal dalam pilihan yang teramat sulit hingga akhirnya memilih untuk meninggalkan kamu."
Shenina masih belum paham kemana arah pembicaraan Alula.
"Nauraya, gadis yang mas Refal gandeng waktu itu adalah sahabat aku, dan aku yang meminta mas Refal bersama dia, juga meminta papa untuk berbuat sesuatu agar mas Refal menerima Raya yang sedang sakit parah." Ada kegetiran yang Alula rasakan ketika dulu dia dibohongi Raya tentang penyakitnya agar didukung bersama Refal. Padahal Raya sudah sembuh.
"Mas Refal meninggalkan kamu karena aku. Dan itu adalah kesalahan terbesar aku Shenina. Karena dulu aku terlalu naif dan pikir Raya gadis yang cocok untuk mas Refal karena aku merasa sangat mengenal Raya. Tapi ternyata dia hanyalah serigala berbulu domba. Dan Mas Refal tidak pernah sedetikpun menatap Raya."
"Aku gak percaya sama kalian! Yang kalian ucapkan hanyalah Omong kosong!"
to be continued
__ADS_1