
Mengetahui latar belakang Alula yang sebenarnya, tentu membuat Shenina berkecil hati sebagai sahabat. Bagaimana tidak, dia gadis yang hidup sebatang kara, tidak memiliki harta apa-apa tapi bersahabat dengan Alula yang merupakan seorang anak pemilik perusahaan.
Dan bukan hanya itu, Alula ternyata juga kekasih Refal, mantan kekasihnya yang sekarang menjadi bosnya. Bahkan Shenina mendengar sendiri tentang rencana pertunangan mereka berdua yang mungkin akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat.
Seandainya Shenina tahu siapa Alula sebenarnya, pasti sejak awal Shenina memilih menjaga jarak dengan Alula sehingga ia tidak ada dalam situasi dan posisi seperti ini.
Oh sungguh, hidup Shenina saat ini berasa dalam pusaran segitiga Bermuda yang akan membuatnya mati berlahan tanpa ada celah sedikitpun untuk bisa keluar dan bernafas lega. Minimal selama setahun ke depan.
"Shenina.. nanti jam 9 kamu temani sama Pak Refal untuk meeting di daerah BSD ya, ketemu pemilik perkebunan teh terbesar di Bandung untuk projects baru perusahaan kita." Kata Vira saat Shenina baru saja mendudukkan dirinya di kursi kerjanya pagi ini.
"Aku? gak salah mba?" Tanya Shenina melongo.
Meskipun Shenina asisten pribadi Refal, namun Shenina belum pernah sekalipun diminta menemani Refal kerja di luar kantor selama lebih dari sepekan bekerja. Refal memilih untuk mengajak Vira, sekretarisnya.
"Nggak. Emang harusnya kamu sih Shen yang lebih banyak menemani Pak Refal, kan kamu asisten pribadinya. Oh ya, Pak Refal minta kamu cek kembali file presentasi untuk perkebunan teh yang ada di Bandung itu ya. Pastikan semuanya sempurna agar Pak Refal bisa menarik pemilik perkebunan itu untuk kerjasama." Kata Vira lagi.
"Siap mba.. makasih ya mba infonya." Jawab Shenina dengan senyum.
Sejak kerja di salah satu kantor Wishnutama Internasional Corporation, Shenina sudah berjanji untuk menjadi pribadi yang ramah senyum dan belajar membuka diri untuk orang lain. Perlahan tapi pasti Shenina sudah mulai akrab dengan beberapa karyawan di WIC meskipun baru karyawan yang ada di lantai 20.
"Kamu ada masalah apa sih sama Pak Refal Shen?" Tanya Vira yang kepo pada hubungan sang bos dengan asisten pribadinya.
Tatapan Vira penuh selidik pada Shenina membuat Shenina menghentikan aktivitasnya di depan layar komputer.
"Masalah? Tidak ada masalah apa-apa mba." Jawab Shenina tenang. Shenina emang paling juara untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya.
"Tapi kenapa kalau ada apapun yang menyangkut pekerjaan kamu, pak Refal lewat aku? kenapa gak ngomong langsung ke kamu?"
Shenina pun merasa aneh dengan sikap Refal. Tapi sudahlah, mungkin Refal ingin menjaga hati untuk Alula dan menghargai Alula setelah sadar kesalahannya mereka kemarin waktu di Apartemen.
"Mana aku tahu mba... mba Vira tanya aja sama Pak Refal langsung." Vira nampak berpikir keras namun enggan memaksa Shenina untuk cerita. Takutnya Shenina merasa tidak nyaman kedepannya nanti.
__ADS_1
"Mba Vira jangan berpikir macam-macam, aku merasa gak punya masalah apa-apa sama pak Refal ya..." Mendengar ucapan Shenina yang seakan menegaskan, Vira pun tersadar dari lamunannya.
Wanita 28 tahun itu sangat yakin jika telah terjadi sesuatu antara si boss dengan rekan kerjanya yang merupakan anak baru. Vira sudah cukup lama kerja bersama Refal, jelas dia tahu bagaimana karakter si bos-nya itu pada karyawannya.
Dan sesuatu itu terjadi setelah kedatangan Alula di kantor. Vira merasa jika Refal sengaja menjauhi Shenina. Padahal Vira sangat tahu sekali kalau kemanapun pergi, Refal selalu mengajak asisten pribadinya. Dan Refal kalau tidak suka sama bawahannya, tidak segan untuk menegur dan marah bukan malah yang menghindar seperti ini.
...***...
Waktu menunjukkan pukul 8.45 WIB, Pintu ruangan Refal terbuka dari dalam. Sang pemilik ruangan itu pun keluar dengan setelan jas berwarna navy dengan kemeja putih di dalamnya nampak ganteng, gagah dan berkarisma.
Pesona seorang Refaldy memang tidak perlu diragukan lagi di mata para kaum Hawa, termasuk Shenina yang sempat terpesona dengan Refal, sang mantan kekasih.
"Shenina, kita berangkat sekarang! takut macet!" Ucapan Refal dengan suara sedang namun intonasi arogan membuat Shenina tersadar.
"Ba.. baik pak." Shenina langsung sigap berdiri dari kursi kerjanya yang empuk meraih tas dan beberapa map berkas yang sudah Shenina siapkan.
"Pak Refal, saya akan telfon Pak Ardi lebih dulu agar stand by di lobby." Kata Vira yang sangat tahu jika Refal adalah salah satu spesies yang males menunggu.
"Tidak perlu. Saya akan mengemudikan mobil sendiri." Jawab Refal membuat Vira melongo pasalnya si bos-nya itu paling malas nyetir sendiri jika ada pekerjaan di luar kantor.
"Ayo Shen.. Pastikan tidak ada berkas yang tertinggal! kalau sampai ada yang tertinggal, saya akan minta kamu balik ke kantor jalan kaki."
"I.. iya pak."
"Hati-hati Pak Refal... Hati-hati juga Shenina..." Teriak Vira sedikit perihatin melihat wajah tegang Shenina saat dihadapan Refal.
...***...
Jam 9 merupakan jam kerja, namun ternyata tidak membuat jalanan ibu kota menuju daerah Tangerang Selatan itu lenggang.
Baru beberapa kilo meter keluar dari kantor, mobil yang dikendarai Refal sudah ikut berbaris antre menunggu giliran jalan di perempatan lampu merah. Dan inilah yang paling membuat Refal malas menyetir. Jika bukan karena ingin berbicara berdua dengan Shenina, tentu Refal memilih menggunakan jasa supir kantor.
__ADS_1
Sudah 30 menit berlalu di tengah penuhnya jalanan sepenuh isi otak dua manusia yang terus diam pada kursinya masing-masing. Refal pada kursi kemudi sedangkan Shenina apa kursi penumpang yang tepat berada disamping Refal.
Sesekali Shenina menatap ponselnya yang menunjukkan aplikasi petunjuk jalan untuk mengetahui masih berapa jauh dan berapa lama dia duduk disamping Refal yang membuat dadanya terasa sesak.
30 menit yang berlalu bersama Refal, menurut Shenina berasa seperti 30 hari. Huh!
"Kamu kenapa menolak permintaan Alula yang menyediakan kamu supir untuk ke kantor?" Tanya Refal dengan tatapan yang masih fokus pada jalanan.
"Saya hanya karyawan biasa, saya tidak pantas mendapatkan fasilitas itu dan saya juga tidak ingin di cap sebagai orang yang memanfaatkan sahabatnya." Jawab Shenina dengan nada sedang namun terdengar tegas.
"Alula mengkhawatirkan kamu Shen, tiap pagi dia menghubungiku hanya untuk menanyakan kabar kamu." Kata Refal membuat Shenina terkejut. Se-perhatian itu kah sahabatnya?
"Maaf jika itu menganggu anda pak... Saya nanti akan bilang pada Alula untuk langsung menghubungi saya saja. Tidak perlu lewat Pak Refal." Ucap Shenina yang rasanya ingin merutuki Alula karena tidak bertanya langsung tentang kabar Shenina. Refal hanya mengangguk.
"Kalau boleh tahu, sekarang Alula ada dimana pak?" Tanya Shenina dengan hati-hati.
"Dia sekarang kembali lagi ke Singapore untuk menemani neneknya yang sedang dalam perawatan medis, kemarin kondisi neneknya drop jadi Alula diminta mamanya untuk kembali kesana." Jelas Refal.
Suasana kemudian hening kembali selama beberapa menit karena Shenina tidak lagi bertanya soal Alula.
"Shen..." Panggil Refal lagi.
"Iya..."
"Bagaimana kehidupan kamu selama hampir lima tahun ini?" Refal akhirnya memilih menurunkan egonya untuk bertanya pada Shenina sebuah pertanyaan yang sudah ada di kepalanya sejak pertemuan pertama mereka.
"Kenapa anda baru menanyakan itu pada saya pak?" Tanya balik Shenina.
Refal bingung harus menjawab apa, lelaki itu hanya mampu menggenggam setir mobil kuat-kuat untuk meluapkan gemuruh dihatinya.
to be continued
__ADS_1
Ada apa sebenernya dengan Refal?