
Sebelum baca episode ini, baca episode sebelumnya dulu ya karena kemarin terjadi kesalahan teknis yaitu adanya dobel update bab dan ini sudah aku benerin.
makasih kakak kakak yang sudah mau membaca dan berikan komentarnya serta like nya.. aku jadi semangat buat nulisnya ❤️
......................
Refal sebenarnya merutuki kesalahannya yang kemarin lepas kontrol karena mengungkapkan perasaannya pada Shenina tanpa melihat situasi dan kondisinya lebih dulu. Ditambah lagi Refal belum melakukan usaha apa-apa untuk mendekati Shenina agar hubungannya dan Shenina membaik.
Alhasil, beberapa hari ini setelah meeting di BSD waktu itu, Shenina nampak sangat menjaga jarak pada Refal. Hubungan antara keduanya kembali dingin dan pembicaraan yang terjadi diantara keduanya hanya seputar pekerjaan. Shenina juga seolah enggan menatap wajah tampan Refal.
Refal mencoba bersabar dan memberikan ruang pada Shenina karena sejatinya Refal tidak ingin menekan Shenina karena perasaannya untuk gadis manis berlesung pipi itu.
"Elu begok sih Fal, harusnya elu buat nyaman dia dulu baru ungkapin perasaan elu.. wajar kan kalau Shenina menganggap elu omong kosong." Kata Gerald setelah mendengar curhatan Refal yang panjang kali lebar di ruangannya.
"Gue terbawa emosi Ger, Shenina itu keras kepala banget." Jawab Refal.
"Terus keputusan elu ini gimana? diam aja dengan Shenina yang jaga jarak sama elu?" Tanya Gerald.
"Gue akan perjuangkan Shenina Ger, tapi gue masih cari cara untuk mendekati dia berlahan."
Gerald mengangguk dan setuju dengan keputusan sahabatnya, Sudah cukup hidup Refal berantakan hampir lima tahun ini. Kini, saatnya Refal memperjuangkan kebahagiaannya sendiri.
"Saran gue, sebelum elu kembali memperjuangkan Shenina yang pastinya akan banyak aral melintang di depan elu... elu kembalikan diri elu yang dulu itu, lebih dulu. Elu yang dulu sangat penyabar dan lembut. Bukan elu yang arogan dan tempramental seperti empat tahunan ini Fal."
Refal mengangguk lemah dan nampak berpikir.
"Dan saran gue, elu harus kasih tahu Shenina juga tentang Lala." Lanjut Gerald.
"Tapi Alula pasti akan...."
"Percaya sama gue Fal... sebelum elu mulai memperjuangkan Shenina, elu juga harus belajar terbuka. Jangan ada yang elu sembunyikan ataupun simpan sendiri lagi. Sudah cukup kisah tragis elu dan Shenina waktu itu karena tidak ada keterbukaan dari elu. Kalau elu masih seperti itu, gue yakin hubungan elu dan Shenina juga akan berakhir sama atau akan lebih tragis karena om Indra pasti akan ikut campur."
"CK! Indra? jelaslah si tua itu akan ikut campur." Cibir Refal mengingat wajah direktur utama Wishnutama Food.
"Nah elu tahu.. apalagi keputusan elu yang akan memperjuangkan Shenina itu menyangkut masa depan Lala."
"Tapi bagaimana jika Shenina tetap tidak mau memberikan gue kesempatan Ger, apalagi saat ini sudah ada dia." Refal mendadak pesimis.
__ADS_1
Hati ingin maju memperjuangkan cintanya, tapi logika mematahkan dirinya karena statusnya saat ini.
"Keyakinan itu soal mental Fal, kalau metal elu Cemen, jelas elu gak akan ada keyakinan dan kesiapan terhadap hal sepele sekalipun. Apalagi soal cinta. Kalau emang elu setengah-setengah mending gak usah perjuangkan Shenina, biarkan gadis itu sama lelaki lain." Ejek Gerald.
"Bangssad elu!" umpat Refal yang tidak terima jika Shenina bersama lelaki lain. Gerald hanya tertawa, semangat hidup sahabatnya kini telah kembali setelah hampir sebulan bertemu kembali dengan Shenina.
"Bagaimana nanti kalau Alula tahu siapa Shenina sebenarnya?" Tanya Refal.
"Antara dia memang belum tahu atau pura-pura gak tahu tentang hubungan masa lalu kalian. Atau dia hanya menunggu pengakuan elu dan Shenina sendiri. Gadis itu kan terlalu overprotektif sama elu." Celetuk Gerald.
Tidak lama, telepon di meja kerja Gerald berdering dan Gerald segera mengangkatnya. Ternyata itu adalah panggilan dari Indra sang direktur utama yang mencari keberadaan Refal.
"Pak Dirut mau berbicara sama elu, elu di suruh ke ruangannya." Kata Gerald setelah menutup panggilan telfonnya.
Refal mendesaah kasar.
"Dia katanya tadi udah hubungi ruangan elu dan gak ada jawaban terus hubungi si Vira katanya gak tahu, jadi dia punya feeling elu ada di ruangan gue."
"Males gue ketemu sama orang yang suka mencampur adukkan masalah pekerjaan dan pribadi." Kata Refal.
"Terima nasib deh elu yang akan dijadikan sebagai calon direktur utama selanjutnya." Ledek Gerald tertawa.
...***...
Jam makan siang pun datang. Vira mengajak Shenina untuk makan diluar. Tepatnya di restoran yang tidak jauh dari gedung-gedung perkantoran megah yang ada di ibu kota ini. Salah satunya adalah gedung Wishnutama Internasional Corporation.
Awalnya Shenina malas keluar kantor mengingat panas ibukota yang begitu menyengat seakan Bumi sudah menggantikan Merkurius yang merupakan planet terdekat dengan matahari, jadi mending makan di kantin kantor saja.
Namun mendengar rengekan Vira dengan alasan ngidam, Shenina jadi tidak tega. Terpaksa Shenina menuruti sang senior menuju restoran masakan Nusantara dengan menggunakan taksi online meskipun jaraknya kurang dari satu kilometer dari kantor Wishnutama.
"Mba Vira emang hamil berapa bulan sih?" Tanya Shenina setelah mendudukkan tubuhnya di kursi restoran Nusantara.
"Belum tahu, kan belum aku cek pake testpack... kalau menikah sih baru empat bulan lalu." Jawab Vira enteng setelah berhasil mengajak Shenina makan di luar.
"CK! dasar mba Vira!" Gerutu Shenina yang justru membuat Vira tersenyum.
"Udah buruan pesan Shenina, kamu mau makan apa aja boleh... hari ini aku traktir kamu deh." Ucapan Vira.
__ADS_1
"Mba Vira serius?" Mata Shenina membola dan bahagia. Restoran yang ia kunjungi kali ini termasuk restoran elit yang jelas harganya akan lebih tinggi dibanding restoran di lainnya.
"Serius. aku kemarin habis dapat bonus dari Pak Refal."
"Bonus apa mba?" Tanya Shenina kepo membuat Vira gelagapan dalam beberapa detik.
"Bonus karena sebulan ini aku gak pernah bolos." Jawab Vira asal sambil nyengir kuda.
Vira kemudian memanggil pramusaji untuk memesan makan siang mereka. Setelah pramusaji mengecek kembali pesanan mereka, Vira kembali menatap Shenina dengan penuh selidik.
"Kenapa mba Vira liatin aku kayak gitu?" Tanya Shenina merasa tidak nyaman.
"Jujur, kamu punya hubungan apa sama pak Refal?" Tanya Vira.
Nah kan, perasaan shenina sudah tidak enak sejak tadi. Ternyata ini lanjutan sesi wawancara Vira waktu itu. Pantas saja Vira rela mentraktir Shenina. Kalau sudah begini, Shenina kan tidak enak kalau tidak cerita soalnya Vira sudah membayarkan makan siangnya yang mahal.
"Mantan." Jawab Shenina singkat.
"Oh My GOD. Pantas saja!" Pekik Vira yang langsung menutup mulutnya begitu saja.
"Pantesan apa mba?" Tanya Shenina dengan nada santai.
"Jangan bilang kamu punya affair dengan pak Refal? Terus diketahui sama Alula dan Alula lapor ke Pak Indra. Makanya pak Indra mencari Refal tadi."
"Aku gak ada apa-apa sama Pak Refal Mba, hubungan aku sama Pak Refal hanyalah cinta monyet anak kuliahan." Kata Shenina mencoba tenang meskipun banyak pertanyaan dibenaknya.
"Nggak ada cinta monyet anak kuliahan Shenina... kalau anak SMP itu baru cinta monyet!" Ujar Vira.
"Tapi emang kenyataannya begitu mba.. aku sama Refal profesional dalam bekerja. Kita gak ada affair ya."
"Terus hubungan kamu sama Alula bagaimana?" Tanya Vira membuat Shenina sedih seketika.
"Nah itu mba... Alula tidak pernah membalas pesan aku. Aku tidak komunikasi sama Alula sudah hampir dua Minggu setelah Alula datang ke kantor waktu itu."
"Fix! Alula emang udah tahu hubungan kamu sama Pak Refal."
"Gak ada hubungan apa-apa antara aku dan pak Refal mba!" Jawab Shenina yang sebenarnya takut membuat Alula kecewa padanya.
__ADS_1
to be continued.