
Muak.
Itulah kata yang tepat untuk apa yang sedang Shenina rasakan kini. Bagaimana tidak, semenjak pindah di apartemen Alula, Refal semakin seenaknya sendiri dalam bersikap.
Keluar masuk Apartemen Alula tanpa permisi hingga kejadian mencium Shenina tanpa izin di atas meja makan. Ciuman Refal yang memabukkan itu membuat pertahanan Shenina runtuh hingga gadis itu menikmati ciuman Refal dan membiarkan Refal bermain di atas gunung Semeru kebanggaannya.
Setelah itu, hanya ada penyesalan dan rasa malu.
Apalagi ancaman demi ancaman terucap dari bibir Refal sehingga membuat telinga Shenina menjadi panas. Entah bagaimana pola pikir Refal, yang jelas... Shenina sangat tidak percaya jika Refal masih mencintainya. Cinta tidak seperti itu... Jika memang Refal dari dulu sangat mencintai dirinya tidak mungkin Refal tega menyakiti dirinya juga.
"Shenina, kenapa muka pak Refal kusut banget?" Tanya Vira yang menatap heran pada Refal dan Gerald yang baru masuk ruang Direktur Produksi.
"Mana aku tahu mba." Jawab Shenina asal.
"Terus kenapa muka kamu juga bete gitu?" Kan, sisi kepo seorang Savira kembali muncul.
"Aku gak apa-apa mba."
"Kamu sama pak Refal pasti berantem ya? Fix deh! kalian itu cinta lama yang belum kelar."
"Gak ada cinta lama Mba Vira."
"Ada Shenina..."
"Mba.. please stop membahas masa lalu aku sama Refal. Bagiku semuanya sudah berlalu dan tidak akan pernah bisa terulang kembali."
"Shenina, gak ada salahnya kamu kasih kesempatan pada pak Refal." Tugas Vira adalah mempengaruhi Shenina agar mau membuka hatinya kembali untuk Refal.
"Tidak ada kesempatan untuk lelaki yang bernama Refaldy Bayutama mba, karena orang tua bang Argha sudah melamar aku dan aku menerimanya." Tegas Shenina dengan nada kurang bersahabat membuat Vira langsung terdiam.
Tanpa Shenina sadari, Refal yang baru membuka pintu ruang kerjanya untuk mengambil flashdisk di Vira pun mendengar semua pembicaraan antara Shenina dan Vira.
Hari Refal mendadak kacau, tatapan lelaki itu langsung berubah jadi sendu dengan tangan yang mengepal kuat.
Refal rasanya langsung dipukul mundur oleh kenyataan disaat dirinya baru hendak berjuang, baru mencari cara untuk selalu dekat dengan Shenina. Baru menyusun rencana untuk membuat Shenina mau menerimanya lagi. Tapi semua usahanya seakan sia-sia.
Brak!
__ADS_1
Pintu ruangan Refal tiba-tiba tertutup dengan keras membuat Shenina dan Vira terperanjat.
"Gak mungkin itu tadi angin.... pasti tadi itu pak Refal yang mendengar pembicaraan kita Shenina." Ujar Vira.
"Dasar Childish." Cibir Shenina dengan lirih.
...***...
Refal sama sekali tidak keluar dari ruangannya setelah mendengar ucapan Shenina beberapa jam yang lalu. Bahkan lelaki itu melewatkan jam makan siangnya begitu saja.
Beruntung, tadi Gerald berinisiatif memesankan makanan untuk sahabat sekaligus calon kakak iparnya yang sedang galau itu. Gerland bahkan mengerjakan pekerjaannya di ruangan Refal samb mendengar Refal mencurahkan perasaannya.
Jangankan menyuruh Shenina mengerjakan sesuatu, dengan Vira saja, Refal rasanya sangat malas berinteraksi. Untungnya, pekerjaan Refal selama seminggu ini tidak terlalu banyak.
Di negara seberang, Alula tertawa terbahak-bahak mendengar cerita dari sang kekasih yaitu Gerald melalui sambungan video call tentang bagaimana labilnya sikap Refal saat berhadapan dengan Shenina.
Maju mundur... maju mundur.. benar-benar tidak jelas. Alula sangat tidak menyangka sikap impulsif dan kekanak-kanakan keluar dari diri seorang Refaldy Bayutama. Namun Alula dan Gerald tidak ada lelahnya buat support Refal agar tidak menyerah sebelum tetes darah penghabisan.
Hingga jam pulang kantor tiba,
Refal sengaja mengulur waktu sekitar lima belas menit agar Shenina pulang lebih dulu. Refal belum ingin ketemu Shenina karena perasannya sedang tidak baik-baik saja. Refal juga belum bisa menemukan cara agar bisa mengikat hati Shenina lagi. Apakah Refal harus mempertimbangkan saran dari Gerland.
Melalui CCTV, Refal sudah melihat meja kerja Shenina yang kosong, Refal pun memilih segera beranjak dari kursi kebesarannya untuk bergegas kembali ke apartemen. Refal ingin melampiaskan semuanya dalam kesendirian.
Dan, baru juga Refal keluar dari lift pemandangan tidak mengenakan sudah terpampang jelas di depan mata Refaldy.
Di lobby, Shenina sedang berdiri bersama lelaki bernama Argha karena hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Kedua manusia itu terlihat ngobrol sambil tersenyum diantara karyawan lain yang terjebak hujan.
Seperti luka yang menganga dan disiram sama air jeruk, perih~
"Kalau nunggu hujan akan lama Nina, aku ke mobil ambil payung dulu buat kamu ya." Kata Argha yang sangat perhatian.
Hal itu terdengar di telinga Refaldy karena Refal sudah berdiri tidak jauh dibelakang dua sejoli itu. Argha memang sengaja menjemput Shenina di lobby sedangkan mobilnya ada di parkiran yang cukup jauh.
"Udah gapapa bang, bentar lagi pasti reda kok. Meksipun kamu dokter, tapi Aku gak mau kamu sampai sakit bang." Jawab Shenina sembari tersenyum.
"Memang kenapa kalau aku sakit?" Tanya Argha.
__ADS_1
"Pokonya aku gak mau kamu sakit bang.." Jawab Shenina yang dibalas dengan elusan rambut di kepala Shenina.
"Hujan-hujan gini, kalian kok obrolannya manis banget sih." Ucap seorang wanita muda yang juga karyawan WIC yang sedang menunggu taksi online.
"Biar hujannya romantis mba." Jawab Argha sambil tersenyum.
"Ah, masnya buat kita-kita baper ini masnya.... Shenina kamu harus bersyukur punya kekasih yang bukan hanya tampan, tapi juga perhatian dan pengertian sama kamu."
"Iya mba, aku beruntung emang punya dia yang selalu ada disamping aku." Jawab Shenina.
"Iya, Shenina yang sejak tadi di so sweet-in, kitanya yang baper. Langgeng ya kalian." Sambung lainnya.
Hujan sangat deras, bahkan angin juga cukup kencang. Tapi, hati Refal rasanya kepanasan, panasnya melebihi air yang mendidih.
Tanpa berpikir panjang, Refal langsung melangkahkan kakinya menerobos hujan untuk menuju mobil pribadinya yang ada di parkiran depan.
"Pak Refal, hujannya deras loh.." Kata seorang karyawan tapi tidak digubris oleh Refal.
"Refal?" Gumam Argha dalam hati.
"Pak Udin, gak ada payung apa buat pak Refal?" Tanya Karyawan lainnya pada security.
"Payungnya tadi udah pada di pakai petinggi perusahaan yang lainnya mba."
Orang-orang yang ada di depan lobby itu pun keheranan yang melihat Refal nekat hujan-hujanan seperti ini. Meksipun parkiran Refal ada di depan, tapi saat hujan angin seperti ini, tubuh Refal pasti basah kuyup.
Sedangkan Shenina, gadis yang tangannya sejak tadi digenggam oleh Argha nampak menatap punggung kokoh Refal yang semakin menjauh dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Nina..." Panggil Argha.
"Iya bang?" Shenina sedikit terperanjat karena dia tadi tenggelam dalam lamunannya.
"Tolong kirim pesan ke Mama kalau kita akan telat sampai restorannya soalnya ponsel aku ketinggalan di mobil." Kata Argha.
"I... iya bang, aku kirim pesan sekarang ke Tante Dina."
to be continued...
__ADS_1
like dan komentar please....
makasih