Mantan Menyebalkan!

Mantan Menyebalkan!
Di Jemput Lagi


__ADS_3

makasih yang udah setia baca novel ini.. happy reading ya kak 🥰


...***...


Shenina tidak ingin menyusahkan hidup orang lain apalagi mengambil keputusan yang merugikan orang lain. Tapi Shenina juga tidak ingin mengambil keputusan yang merugikan dirinya sendiri.


Oleh sebab itu, Shenina semakin banyak diamnya setelah mendengar cerita Vira mengenai pemecatan rekan kerjanya itu. Terlebih setelah Refal memberikannya waktu sampai jam pulang kantor usai untuk Shenina mengambil keputusan.


Ya, usai Vira bercerita dengan penuh drama pada Shenina, Shenina langsung menemui Refal dan hendak melayangkan protes pada atasannya. Namun sayang, Refal tidak ingin mendengarkan Shenina.


"Saya sibuk Shenina, jika kamu mau membahas soal pemecatan Vira, semuanya sudah jelas. Keputusan ada di tangan kamu, dan saya kasih kamu waktu sampai jam kerja selesai untuk memutuskan. Nasib Vira ada ditangan kamu. Sekarang kamu silahkan keluar dari ruangan saya karena pekerjaan saya masih sangat banyak, Shenina." Kata Refaldy.


Jika Shenina sendiri yang dipecat, Shenina tidak akan keberatan apalagi berpikir panjang untuk meninggalkan WIC meskipun kerja di perusahaan besar ini adalah impian banyak orang. Sungguh, kerja bersama Refal bukan hal mudah untuk Shenina.


Tapi masalahnya ini adalah Vira. Wanita baik yang merupakan senior Shenina dan selalu membantu Shenina dengan tulus atas segala pekerjaan yang Refal berikan. Shenina tidak se-tega itu pada Vira, tapi Shenina juga berat untuk pindah ke apartemen Alula.


"Shenina, bagaimana? kamu tadi udah bicara sama pak Refal kan? Pak Refal udah kasih tahu apa kesalahan aku?" Tanya Vira karena sebelumnya Shenina bilang tidak tahu alasan Refal memecatnya.


"Belum sempat mba.. Pak Refal-nya sibuk, dia ngusir aku mba."


Vira menghela nafasnya berat. Pasalnya, jika Vira tidak bisa membuat Shenina pindah apartemen, maka Vira yang akan dimutasi ke Surabaya, bukan di pecat.


Yakali, Vira masih tetap kerja di sini jika Shenina tetap berpegang teguh sama pendiriannya yang tidak ingin pindah ke apartemen Alula.


"Yaudah, mungkin emang sudah takdirnya aku keluar dari kantor besar ini." Ujar Vira dengan senyum tipis kemudian melanjutkan pekerjaannya.


"Maafin aku mba." Jawab Shenina lirih dengan segala rasa bersalah. Vira menatap Shenina dengan lembut.


"Kenapa kamu minta maaf Shen? Kan pak Refal yang pecat aku, meskipun aku gak buat kesalahan fatal apa-apa. Udah, gak usah dipikirin walaupun pak Refal tadi bilang, kamu tahu alasannya kenapa aku di pecat. Aku percaya sama kamu kalau kamu juga gak paham maksud Pak Refal, Shenina."


Semakin Vira tersenyum pada Shenina, Shenina justru semakin merasa bersalah. Vira menghela nafasnya dengan berat.


"Ya sudahlah, aku nanti akan mencoba cari lowongan pekerjaan lainnya karena aku gak bisa nganggur lama-lama. Kamu tahu kan, kedua adik aku masih kuliah dan bapak aku udah pensiun. Yah, meskipun di perusahaan lain gajinya gak sebanyak disini sih." Makin makin rasa bersalah Shenina pada Vira.


Shenina memilih untuk jujur pada Vira.


"Maafin aku mba, karena sebenarnya pak Refal memberikan pilihan ke aku, jika aku tidak pindah ke apartemen Alula dan buat Alula sedih... dia mengancam akan memecat mba Vira." Ucap Shenina dengan menunduk dan segala rasa bersalahnya.


"Ba... bagaimana bisa? kan gak ada hubungannya sama pekerjaan?" Vira berlagak terkejut.

__ADS_1


"Entahlah mba..."


"Terus kamu pilih apa Shen?" Shenina menghela nafasnya berat.


"Aku akan pindah ke apartemen Alula mba, aku gak mau mengorbankan mba Vira yang udah baik banget sama aku." Putus Shenina dengan berat.


"Kalau kamu berat, jangan dipaksa Shenina." Rasa tidak tega mendadak menyerbu hati Vira melihat beban yang tercetak jelas dari wajah cantik Shenina.


"Nggak mba... aku gak apa-apa, ini emang yang terbaik dan harus aku lakukan. Toh tinggalnya kan beda unit sama dia. Semoga juga beda lantai." Shenina tersenyum. Vira bernafas lega, tidak jadi dimutasi ke Surabaya.


"Beneran gapapa?" Shenina mengangguk.


"Aku akan bicara sama pak Refal sebelum pulang nanti sore mba."


"Maafin aku Shen, bukan maksud aku cari keuntungan dari kamu dan Pak Refal. Aku hanya ingin kamu kasih kesempatan buat pak Refal perjuangin kamu, Shenina... karena aku lihat masih ada cinta diantara kalian. Hanya saja mungkin kisah masa lalu kalian cukup rumit ditambah gengsi. Entahlah, yang pasti Pak Refal udah janji akan berusaha menjadi yang terbaik buat kamu dan bahagiakan kamu Shenina. Akhirnya nanti kamu memilih sama siapa, itu keputusan mutlak kamu Shenina. Tapi kalau dia sampai sakiti kamu.. maka aku orang pertama yang akan maju menghajarnya." Batin Vira.


...***...


Jam kerja selesai, Shenina pun langsung menuju ruangan Refal untuk memberikan keputusan kepada atasannya. Sedangkan Vira memilih menunggu di meja kerjanya membiarkan dua anak manusia itu berbicara.


Mendengar Shenina bersedia pindah ke Apartemen Alula, Refal hanya mengangguk. Tapi jangan salah, hati Refal sedang koprol karena saking bahagianya. Kemudian otak Refal sudah merencanakan banyak hal untuk mendekati Shenina. Ah, Refal yakin, peluangnya mendapatkan Shenina kembali pasti lebih besar.


"Tidak masalah." Jawab Refal yang tidak ingin menekan Shenina lagi.


Refal hanya perlu bersabar sampai beberapa hari kedepan sambil melakukan sedikit renovasi apartemen sebelum Shenina pindah.


"Terima kasih. Tolong sampaikan pada Alula jika saya menerima perintahnya." Ucap Shenina. Perintah, bukan tawaran ya... karena Shenina tidak diberikan kesempatan untuk memilih.


"Baik, nanti saya sampaikan pada Alula. Sabtu pagi, nanti akan ada orang yang akan menjemput kamu dan membawakan barang-barang kamu. Kamu cukup bawa barang seperlunya saja." Shenina mengangguk.


"Jika kamu ingin melihat-lihat dulu apartemen Alula, kamu bisa langsung datang ke Lavenue dan temui Riana yang tadi memberikan akses card ke kamu."


"Iya pak. Terima kasih. Saya permisi."


"Iya. Hati-hati pulangnya Shenina."


Shenina tidak menjawab, gadis itu keluar begitu saja dari ruangan Refal. Bahkan Shenina tidak peduli jika dianggap karyawan yang tidak memiliki sopan santun.


"Tuhan... kenapa aku selalu tidak memiliki pilihan hidup... kenapa Tuhan?" Batin Shenina menahan sesak di dadanya karena sejak kecil Shenina belum pernah merasakan kebahagiaan yang nyata.

__ADS_1


Masa-masa paling membahagiakan untuk Shenina adalah saat berpacaran dengan Refal dan itu hanya sementara.


Tinggal di panti asuhan juga banyak mengalahnya karena dia sudah besar bahkan banyak pekerjaannya untuk membantu merawat adik-adik panti. Tinggal bersama orang tua angkat yang sebelumnya Shenina anggap orang tua kandungnya sendiri juga banyak mengalahnya dan banyak dimarahi.


"Tuhan, kapan aku merasakan bahagia... aku capek Tuhan." Gumam Shenina pelan sebelum tersenyum pada Vira yang sudah menunggunya untuk turun ke lobi.


"Bagaimana?" Tanya Vira.


"Aman semuanya mba. Kita pulang yuk!" ajak Shenina.


"Hayuk."


...***...


Seperti biasa, saat jam kerja hampir mulai, jam istirahat dan jam pulang kantor, lobby utama WIC selalu ramai dengan karyawan yang lalu lalang. Beruntung lift di gedung itu ada 6 unit dan satu unitnya di khususkan untuk para petinggi perusahaan. Jadi antrean lift tidak akan terlalu lama.


Obrolan demi obrolan antar karyawan selama di dalam lift nampak sangat asyik. Dan seperti biasa, Shenina tidak banyak omong karena memang karakternya seperti itu. Diam di depan banyak orang, tapi super bawel dan perhatian dengan orang terdekatnya.


"Shen, elu di jemput lagi ya?" Tanya Vira sesaat setelah keluar dari lift dan berjalan menuju pintu lobby.


"Enggak mba."


"Itu dokter Argha udah tersenyum ke arah sini dan menatap kamu dengan penuh kekaguman." Kata Vira lagi membuat Shenina yang tadi menatap layar ponsel sambil berjalan jadi mendongak.


"Abang..." Gumam Shenina sambil tersenyum cerah. Secara spontan, Shenina berjalan cepat ke arah Argha yang tersenyum padanya. Bahkan Shenina meninggalkan Vira yang diam mematung menyaksikan kisah romantis ala Drakor.


"Jadi itu yang namanya dokter Argha?" Tanya seseorang yang ada di belakang Vira dengan nada suara pelan, penuh penekanan dan dingin.


Mendengar pertanyaan itu, bulu kuduk Vira auto berdiri. Berasa kayak ada hantu di belakangnya.


"Pak... Refal..." Gumam Vira memejamkan matanya usai melihat dokter Argha mengusap kepala Shenina dengan lembut.


Vira yakin, setelah ini... Otak dan hati seorang Refaldy Bayutama akan nge-reog lagi.


To be continued....


Kak, yuk tinggalkan like dan komentarnya, biar authornya semangat menulis ☺️


makasih..

__ADS_1


__ADS_2